Prostitusi

Saat aku berusia 15 tahun, aku merasa seperti tidak benar-benar punya tempat. Aku terus-menerus bolos sekolah dan menggunakan narkoba, dan seperti kebanyakan remaja, aku tidak benar-benar memahami diriku sendiri.

Saat aku berusia 21 tahun, aku menikah. Suami baruku dan aku pindah bersama ke Oregon, dan aku berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran cepat saji. Tapi ketika aku kehilangan pekerjaan itu, aku mendengar tentang berapa banyak uang yang bisa dihasilkan sebagai penari telanjang. Jadi aku mulai menari di klub striptease. Awalnya aku sangat menyukainya karena aku menghasilkan uang yang cukup banyak dan mendapat perhatian dari para pria.

Tapi tidak lama kemudian, aku mulai minum setiap hari hanya untuk bisa bertahan. Itu merendahkan dan menguras jiwaku, jadi aku harus mencari cara untuk menghadapinya. Aku dengan cepat menjadi seorang alkoholik.

Aku dan suamiku berpisah tak lama setelah aku mulai menari, dan kemudian kami bercerai.

Akhirnya aku menyadari kalau sebenarnya tidak banyak uang di dunia striptease. Jadi ketika seorang mucikari mendekatiku di klub dan mengajak untuk “naik ke level berikutnya”, aku terbuka untuk itu. Tapi aku sangat naif soal dunia prostitusi; aku pikir mucikari itu cuma pria biasa. Dia membujuk aku dan temanku untuk mulai melacur untuknya. Awalnya itu seperti permainan bagi kami, semacam lelucon. Kami menghasilkan banyak uang, mabuk, pakai narkoba. Kami pikir itu menyenangkan.

Semuanya berkembang sangat cepat. Dalam tahun pertamaku menari, aku sudah berubah menjadi seorang PSK. Aku bahkan tidak benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi. Mucikari kami berbohong dan berkata, “Kamu nggak benar-benar harus tidur dengan pria untuk dapat uang.” Tapi pada kenyataannya, itulah yang terjadi. Aku tidur dengan pria demi uang.

Beberapa tahun kemudian: temanku berhasil keluar, tapi aku masih terjebak dalam gaya hidup itu. Aku menjadi PSK selama sekitar empat tahun, antara usia 22 sampai 26. Aku hidup dari hari ke hari di kamar hotel. Meskipun aku menghasilkan banyak uang, aku akan menghabiskan semuanya untuk narkoba, mobil, dan barang-barang mewah untuk menutupi rasa jijik yang kurasakan di dalam diriku. Tapi tidak peduli apa yang kubeli atau seberapa besar uang yang kudapatkan, aku tidak pernah berhasil mengisi kekosongan itu. Jadi aku terus melakukannya, berharap bahwa jika aku cukup menghasilkan uang, semuanya akan terasa sepadan suatu hari nanti. Tapi hari itu tidak pernah datang.

Lalu aku mulai berhubungan seks demi narkoba, benar-benar seperti pertukaran langsung. Saat itulah aku sadar hidupku benar-benar sudah tak terkendali.

Setelah beberapa tahun, aku punya mucikari baru. Dia sering memukuli aku, bahkan pernah sampai gigiku rontok karena wajahku membentur aspal. Itu masa yang sangat penuh kekerasan dan mengerikan. Setelah dua tahun bersama dia, aku berkata, “Aku nggak mau hidup kayak gini lagi.” Jadi aku meninggalkannya, tapi tetap melacur sendiri, yang sebenarnya sangat tidak aman. Nggak ada yang memperingatkan siapa yang berbahaya atau siapa yang harus kuhindari.

Saat itulah aku mulai memakai narkoba yang lebih berat. Aku pakai meth, heroin, pil—apa saja yang bisa kudapatkan. Lalu aku mulai berhubungan seks demi narkoba, benar-benar seperti barter langsung. Saat itulah aku benar-benar sadar hidupku sudah di luar kendali.

Aku dan seorang teman bermasalah dengan polisi, dan itu sangat menakutkan. Jadi aku pindah dari Oregon ke Iowa untuk menjauh dari gaya hidup itu dan dari narkoba. Aku mulai menari lagi, mengira itu adalah pilihan yang lebih ringan di antara dua kejahatan. Tapi kecanduan meth-ku malah makin parah.

Lalu semuanya jadi benar-benar gila. Suatu hari di tempat kerja, aku ingat sedang pakai meth dan benar-benar teler. Aku sangat kacau di ruang ganti, dan para gadis yang bekerja bersamaku menjebakku dan menyuntikkan sesuatu ke lenganku. Sampai hari ini, aku masih tidak tahu apa yang mereka suntikkan atau mengapa mereka melakukannya.

Aku hampir mati, dan akhirnya dirawat di rumah sakit jiwa selama seminggu. Di sanalah aku memutuskan bahwa aku sudah cukup. Kali ini benar-benar.

Setelah itu, aku bertemu dengan orang-orang yang memberi dampak besar dalam hidupku. Mereka membawaku ke gereja dan mencintaiku apa adanya.

Aku berhasil berhenti memakai meth tak lama setelah itu, dan itu benar-benar sebuah mukjizat. Aku tahu banyak orang yang berjuang bertahun-tahun melawan kecanduan, tapi pengalamanku berbeda. Mukjizat lainnya adalah aku mendapatkan pekerjaan. Aku punya celah empat tahun dalam riwayat pekerjaanku—siapa yang mau mempekerjakanku? Tapi benar saja, suatu hari saat aku duduk di halte bus, seseorang menawariku pekerjaan. Sejak saat itu, aku menjadi seorang ibu dan sekarang bekerja paruh waktu sebagai pelayan di restoran pizza.

Aku merasa sangat malu dengan masa laluku—itu memalukan dan merendahkan. Jadi jika kamu sedang terjebak dalam prostitusi, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Aku pernah ada di sana. Ada mentor online di sini yang akan mendengarkanmu tanpa menghakimi, mencintaimu tanpa syarat, dan berjalan bersamamu dalam perjalanan ini. Cukup isi informasi di bawah ini, dan seseorang akan segera menghubungimu.

OCD Pascapersalinan

Saya telah menikah dengan sahabat saya selama 5 tahun ketika kami memutuskan untuk mulai mencoba memiliki anak. Ketika saya hamil, waktunya terasa sempurna. Kami siap untuk menyambut peran sebagai orang tua.

Masa kehamilan saya penuh dengan keajaiban. Saya mengikuti setiap tahap perkembangan bayi saya, membaca buku anak-anak, dan memutar musik klasik untuk “perut” saya. Saya tetap sangat aktif mengikuti kelas aqua fit, peregangan & relaksasi, bahkan berenang dalam bagian renang dari mini-triathlon! Seluruh kehamilan berjalan mulus. Saya bahkan sempat berkata, “Kalau semua kehamilan seperti ini, saya ingin punya 10 anak!”

Pada 6 November 2005, pukul 5:30 pagi, 25 jam setelah air ketuban pecah dan setelah 15 setengah jam persalinan berat serta suntikan epidural, saya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat bernama Sean. Meski tiga minggu lebih awal, beratnya 3,4 kilogram. Momen itu luar biasa! Suami dan saudara perempuan saya ada bersama saya, dan keluarga serta teman-teman lainnya datang tak lama setelah kelahiran. Kami sangat bahagia.

Setelah Sean lahir, semuanya berubah. Masa awal pascapersalinan saya hanya bisa digambarkan sebagai “kacau”! Emosi saya sangat labil: menangis satu menit, tertawa di menit berikutnya. Saya mulai mengalami pikiran-pikiran mengganggu yang kemudian saya ketahui adalah bagian dari Postpartum Obsessive Compulsive Disorder (PPOCD). Tiba-tiba saja, saya mendapat pikiran “bagaimana kalau…” yang melibatkan menyakiti bayi saya. Pikiran-pikiran ini menakutkan dan mengganggu. Saya mencintai anak saya dan tidak tahu dari mana pikiran itu berasal. Saya hidup dalam ketakutan terhadap diri sendiri, dan saat saya melihat anak saya, saya merasa sedih dan aneh karena saya harus memasukkan diri saya sendiri ke dalam daftar orang yang perlu melindunginya.

Saya hidup dalam ketakutan terhadap diri sendiri, dan saat saya melihat anak saya, saya merasa sedih dan aneh karena saya harus memasukkan diri saya sendiri ke dalam daftar orang yang perlu melindunginya.

Suami saya sangat mendukung dan saya mulai menelepon ibu dan teman-teman saya saat pikiran-pikiran itu muncul, yang sangat membantu saya tetap berpijak pada kenyataan. Ibu saya menyarankan agar saya menceritakan masalah ini kepada dokter dan perawat kesehatan masyarakat. Dokter saya mendorong saya untuk terus menelepon orang-orang seperti yang sudah saya lakukan, tetapi pikiran-pikiran itu tidak juga hilang. Dalam panggilan lanjutan dengan perawat kesehatan masyarakat setelah kunjungan rumah, saya mengatakan bahwa saya masih mengalami pikiran-pikiran menakutkan itu. Dia merasa khawatir dan mengatakan bahwa secara hukum dia wajib melaporkan hal ini ke Children’s Aid Society (CAS). Walaupun dia meyakinkan saya bahwa ini tidak berarti mereka akan mengambil Sean dari saya, hal itu tetap menjadi kekhawatiran dalam benak saya. Ini jelas bukan yang saya bayangkan ketika memikirkan tentang menjadi seorang ibu!

Hari itu juga, seorang petugas dari CAS datang dan mewawancarai saya dan suami saya. Dia menginformasikan kepada dokter saya tentang keterlibatannya dan itu kemudian mengarah pada rujukan ke psikiater untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sampai saya menemui psikiater, saya tidak boleh sendirian bersama Sean. Bulan Desember yang penuh ketakutan itu terasa gila, tapi berada di sekitar keluarga dan mengikuti sebuah konferensi selama liburan membuatnya lebih tertahankan.

Setelah liburan, saya menemui psikiater dan konselor yang menyarankan saya untuk menghadapi pikiran-pikiran buruk itu dengan kebenaran dan logika. Ketika pikiran-pikiran itu datang, saya akan mengingatkan diri sendiri, di antara kebenaran lainnya, bahwa saya adalah seorang ibu yang hebat dan mencintai anaknya. Dialog logis saya pada diri sendiri biasanya seperti ini: “Karena saya sedang memikirkan pisau, jika pisaunya tetap di dapur dan bayinya tetap di kamarnya, TIDAK AKAN terjadi apa-apa pada bayi, selama semuanya tetap di tempatnya.” Saat saya mulai berbicara dengan kebenaran seperti ini pada diri sendiri, pikiran-pikiran itu semakin jarang muncul dan saya semakin jarang menemui konselor saya.

Saya belajar untuk mengenali pemicu. Pikiran-pikiran itu cenderung muncul ketika saya lelah atau sendirian, jadi saya mencoba beristirahat saat Sean tidur. Saya membuat janji bermain dengan teman-teman dan anak mereka ketika suami saya sedang bekerja. Saya juga memberi tahu teman-teman saya tentang apa yang sedang saya alami, agar mereka bisa mendukung saya. Saat saya mencoba meminimalkan pemicu, itu sangat membantu mengurangi frekuensi pikiran-pikiran tersebut. Saat Sean berusia 4 setengah bulan, pikiran-pikiran itu pada dasarnya sudah tidak menjadi masalah lagi. Saya telah memiliki dua anak laki-laki yang cantik sejak Sean, dan saya mengalami perjuangan ini juga saat bersama mereka. Meski sudah mengantisipasinya pada kehamilan kedua dan ketiga, hal ini tetap terjadi.

Jika saya tidak mencari bantuan, mungkin saya akan terus menderita dalam diam. Siapa tahu ke mana pikiran-pikiran itu bisa mengarah? Seperti kata salah satu bibi saya, “Kadang-kadang, lebih baik kita hancur dulu, karena dengan begitu kita bisa mendapatkan bantuan untuk banyak bagian dalam hidup kita yang rusak. Kadang kita bahkan tidak tahu bagian mana yang rusak.”

Memiliki bayi adalah perubahan besar dalam hidup, dan kita butuh semua bantuan yang bisa kita dapatkan. Jangan takut untuk berbicara. Saya menemukan bahwa ketika saya berbicara tentang pengalaman saya, saya bertemu perempuan lain yang mengalami hal serupa tetapi tidak punya orang lain untuk diajak bicara. Dengan berbicara, kita bisa meminta bantuan dan menyadari bahwa kita semua berjuang dengan cara yang berbeda. Ingatlah bahwa pikiran buruk tidak menjadikanmu orang jahat atau ibu yang buruk. Yang terpenting adalah apa yang kamu lakukan terhadap pikiran itu. Kamu bisa menghubungi seorang mentor yang akan mendengarkan dan memberikan dukungan dengan mengisi informasi di bawah ini. Jangan menderita dalam diam – kita bisa hadapi ini bersama.

Pornografi

Pertama kali aku terpapar pornografi terjadi saat umurku 13 tahun ketika aku mengikuti study tour. Ketika kami masuk ke kamar kami pada malam pertama, aku terkejut ketika salah satu temanku mengeluarkan beberapa majalah porno dari kopernya (ini sebelum Internet ada dalam kehidupan sehari-hari). Dia menjelaskan kepadaku bahwa orang tuanya tidak mempermasalahkan, karena mereka beralasan bahwa dia harus belajar tentang hal-hal ini pada akhirnya. Tentu saja aku sangat terpesona, dan gambar-gambar yang kulihat dalam beberapa hari berikutnya terpatri dalam ingatanku.

Tidak lama setelah itu, saluran TV kabel di rumahku mulai menayangkan film porno ringan pada hari Jumat dan Sabtu malam. Jadi aku akan berpura-pura pergi tidur lebih awal, tetapi kemudian tetap terjaga dan menyelinap ke ruang TV dan menonton film-film ini sampai dini hari. Ini berlangsung setiap akhir pekan selama beberapa tahun selama masa remajaku, dan pikiranku dipenuhi dengan gambar dan pemandangan pornografi. Pada awal masa remajaku, sampai pada titik di mana aku tidak dapat tidur di malam hari tanpa melakukan masturbasi, dan ini berlanjut sebagai kebiasaan sehari-hariku selama bertahun-tahun. Aku akan merasa sangat bersalah setiap kali aku melakukannya dan aku bersumpah berkali-kali kepada Tuhan dan kepada diri sendiri untuk tidak akan melakukannya lagi. Tetapi aku tidak punya kemauan kuat untuk berhenti, dan kebiasaan ini terus berlanjut.

Aku sangat ketakutan memikirkan apa yang akan dipikirkan orang tentangku jika mereka tahu kebiasaan itu.

Pada awal umur 20-an, ketika internet menjadi fenomena yang tersebar luas, dan tentu saja dengan teknologi baru ini sangat memudahkan akses ke setiap jenis pornografi yang bisa dibayangkan. Aku segera asyik menyaksikan berbagai jenis kerusakan seksual dan semakin parah di layar komputerku. Meskipun aku sering bersumpah bahwa aku harus segera menghentikan perilaku ini secara permanen, aku tidak pernah melakukannya. Aku mendapati bahwa semua itu tak tertahankan, dan aku bertanya-tanya bagaimana siklus ini — menonton film porno, masturbasi, merasa bersalah, dan bersumpah untuk tidak pernah melakukannya lagi — bisa berakhir. Secara lahiriah aku seperti pria yang baik, dan bahkan menjadi pemimpin di komunitas religius. Tetapi di dalam hati, aku tahu rahasia kelam yang kusembunyikan setiap hari, dan aku sangat ketakutan memikirkan apa yang akan dipikirkan orang tentang aku jika mereka tahu tentang hal itu. Aku berpikir bahwa menikah akan menyelesaikan masalah ini, tetapi kecanduanku terhadap pornografi dan masturbasi berlanjut bahkan sampai pada tahun-tahun pernikahanku.

Mungkin terobosan nyata pertama dalam pertempuran ini adalah kesadaran bahwa itu sebenarnya bukan tentang seks, atau kecantikan, atau kebutuhan biologis. Kenyataannya, itu sama sekali bukan tentang seorang wanita yang begitu cantik sehingga aku tidak bisa menolaknya – itu sebenarnya tentang aku. Itu tentang keinginanku untuk diterima, dikagumi, dicintai, dan punya kekuasaan. Alasan sesungguhnya bahwa nafsu dan pornografi sangat mempengaruhiku adalah karena itu membuatku percaya bahwa sekalipun dunia tidak mengakui betapa hebatnya aku, setidaknya ada wanita cantik dari fantasiku yang mencintaiku dan menginginkanku. Pornografi adalah kebiasaan pikiran dan hatiku yang harus dipatahkan terlebih dulu jika aku ingin dibebaskan dari kecanduan ini. Aku sadar harus melawan kebohongan pornografi dengan kebenaran untuk akhirnya mematahkan perbudakannya.

Cinta kasih istriku adalah motivasi terakhir yang aku butuhkan untuk meninggalkan kebiasaan ini untuk selamanya.

Salah satu unsur utama dalam kemenanganku atas pornografi adalah teman baik. Ada teman-teman yang dapat aku percayai, teman-teman yang dapat aku bagikan segalanya, teman-teman yang terus mendoakanku bahkan setelah aku melakukan tindakan yang sama untuk keseribu kalinya. Kemenangan terakhirku atas nafsu dan pornografi datang ketika aku berbagi semua perjuanganku- baik dulu maupun sekarang – dengan sahabatku, yang adalah istriku. Aku juga berjanji untuk memberitahunya apakah aku pernah jatuh di area ini lagi. Aku pikir dia akan hancur dan marah, tetapi meskipun pengakuanku akan membawa kesedihan yang mendalam, dia berjanji untuk mendukung dan berdoa untukku. Tetapi dalam banyak hal, cengkeraman pornografi telah mulai patah pada saat aku mengakuinya, dan cinta istriku adalah motivasi terbesar yang aku butuhkan untuk meninggalkan kebiasaan ini sekali untuk selamanya. Aku tidak perlu bersembunyi lagi, dan tentu saja aku tidak ingin terus tidak setia kepada dia lagi (bahkan dalam kehidupan pikiranku).

Meskipun harus berjuang atas pornografi selama beberapa dekade, aku senang bisa mengatakan hari ini bahwa aku bebas. Aku yakin bahwa pornografi menjanjikan semua kesenangan di dunia ini, tetapi kenyataannya hanya memberikan kesengsaraan. Tetapi kebebasan ini tidak datang dalam semalam, itu terjadi secara bertahap melalui proses panjang yang berlangsung selama lebih dari 10 tahun.

Sekarang perjuangan ini telah berakhir dan aku memiliki kebebasan dan sukacita, aku ingin mengundangmu untuk memulai perjalanan menuju kebebasan. Kamu tidak perlu melawan pertempuran ini sendirian. Kami memiliki mentor yang siap untuk mendengarkan dan mendukungmu secara gratis dan menjaga kerahasiaanmy. Jika kamu mengisi form di bawah ini, kamu akan mendapat kabar dari seseorang di tim kami segera.

Nama Penulis diubah untuk privasi.

Perceraian

Aku menikah di usia yang sangat muda. Aku 19 dan dia hampir 18 tahun. Itu adalah kesempatan kami untuk keluar dari rumah orang tua. Kami ingin membuktikan kepada dunia bahwa kami bisa menjadi orang yang berguna.

Singkatnya setelah kami mulai berkencan, dia memberitahuku bahwa dia hamil dan ayah dari janin yang dikandungnya sudah memberikan uang jaminan kepadanya. Sebenarnya sulit bagiku, tapi aku ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa aku penting. Jika aku bisa menjadi pahlawan bagi orang lain, maka itu berarti aku benar-benar penting. Maka, aku berkomitmen untuk membesarkan anak itu seperti anakku sendiri. Setelah saling mengenal hanya dalam empat bulan, putrinya lahir dan kami pun menikah.

Aku yakin bisa membangun rumah tangga yang indah serta menjadi ayah, dan suami yang hebat juga pemberi nafkah. Segalanya indah pada awalnya. Di usia 21 tahun, aku menjadi manajer termuda di sebuah cabang restoran. Kami memiliki apartemen sendiri dan mengendarai Audi. Putrinya mengenal dan mencintaiku sebagai ayahnya. Beberapa promosi berikutnya, kami membeli sebuah peternakan bagus di pinggiran kota yang indah. Mimpi-mimpi kami terwujud. Kami menikmati hidup. Tetapi masih ada ketidakbahagiaan, seperti dengungan di telinga yang tidak pernah hilang.

Beberapa tahun setelah pernikahan, kami mengharapkan seorang anak. Ketegangan dan ketidakbahagiaan pun mulai muncul di permukaan. Beberapa tahun kemudian, saya menemukan bahwa “Sekolah Menengah Atas Swasta ” yang katanya pernah ia ikuti ternyata adalah sebuah lembaga mental. Tantangan karena hamil mulai memperburuk penyakit mentalnya. Saat itulah segalanya mulai tidak terkendali. Dia mulai memakai obat-obatan: marijuana, ekstasi, kokain dan shabu. Dia kadang ‘menghilang’ selama beberapa hari dan aku tidak tahu keberadaannya. Dia akan pergi berjam-jam hanya untuk nge-’drugs’ bersama orang lain. Akhirnya dia kecanduan heroin. Hidupnya pun berkutat dari rehabilitasi ke rehabilitasi.

Aku masih tinggal dengannya, tetapi sekarang saya tahu bahwa saya justru memperburuk keadaannya, saya berharap bisa menyelesaikan masalahnya.

Begitu putraku lahir, segalanya mulai menurun. Puncaknya adalah ketika aku berjalan-jalan dengan beberapa teman salah satu dari mereka menarikku ke samping, sambil menunjuk pada seorang teman, dan berkata “Bagaimana bisa kau bergaul dengannya? Apa kau tidak tahu dia ada main dengan istrimu?”

Ternyata mereka pernah tidur bersama selama beberapa waktu. Istriku tidak bisa menyembunyikan lebih lama lagi kehamilan barunya. Sejak kami tidak pernah lagi berhubungan suami istri, aku tahu itu bukan anakku. Kira-kira satu setengah bulan kemudian, aku pulang ke rumah dan mendapati mereka sedang bermesraan sementara anak-anak sedang bermain di ruangan yang sama.

Cukup sudah! Jadi aku pastikan dia keluar dari rumah kami.

Untuk sudut pandang perempuan yang dikhianati, baca cerita Amy —[ Pasangan Tidak Setia] (https://…………………………..)***

Butuh waktu setahun lebih untuk melalui perceraian itu. Pada suatu ketika aku menjemput anak-anak dan dia membuka pintu dengan telanjang. Aku bisa melihat barisan kokain dan ada bong yang putrinya sebut “vas bunga” berada diatas meja.

Kami menjalani hidup. Tapi masih ada ketidakbahagiaan, seperti dengungan di telinga yang tidak pernah hilang.

Segera aku ambil kedua anak itu untuk tinggal denganku.Dia membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk sadar serta menyadari apa yang terjadi. Lalu dia memainkan cara : pergi ke polisi, mengklaim bahwa saya telah melecehkan anak-anak. Polisi tidak mempunyai pilihan selain mengambil anak-anak dariku dan mengembalikan dalam “perawatannya”. Semua diselesaikan di pengadilan beberapa hari setelahnya, lalu kemudian dia menghilang dan aku tidak menemukannya juga anak-anak itu selama tujuh bulan. Sampai suatu hari, dia mengunjungi saudara perempuanku untuk meminta uang, sehingga memungkinkan orang tuaku menemukan keberadaannya.

Ketika akhirnya aku menemukan anak-anakku kembali, mereka benar-benar kekurangan gizi, dan putraku yang berusia dua tahun mengalami keterlambatan perkembangan. Hatiku hancur melihat mereka, tapi aku senang mendapatkan mereka kembali! Singkatnya setelah itu, aku mendapat hak asuh penuh atas putraku. Anak tiriku akhirnya tinggal dengan orangtuaku, yang mencintainya dan akhirnya secara sah mengadopsinya.

Aku tidak tahu di mana mantan istriku saat ini, tetapi aku berharap dia menemukan harapan, sembuh dan stabil serta belajar untuk ‘bermimpi’ kembali. Aku bisa katakan bahwa aku sungguh telah mengampuninya dan melepaskan segala kepahitanku. Tentu saja ini tidak menghapuskan fakta bahwa pilihannya telah membuatku dan anak-anak harus melalui jalan yang sulit. Tapi aku berharap yang terbaik baginya.

Aku bukanlah suami yang sempurna. Aku juga gagal dalam pernikahan ini. Aku tidak benar-benar ada untuknya. Aku bekerja 70 jam lebih dalam seminggu, mengejar impianku untuk sukses. Didorong oleh keinginan agar dianggap ‘penting’, aku bekerja sangat keras untuk mendapatkan promosi dan bonus.

Aku pulang ke rumah dengan lelah dan egois. Aku hanya berpikir “Di mana makan malamku, mengapa pakaian belum dicuci?” Aku akan duduk di depan TV dan tidak banyak waktu bermain dengan anak-anak. Aku benar-benar tidak ada di sana untuknya secara emosional. Aku bahkan tidak tahu bagaimana berhubungan dengannya pada tingkatan itu. Bagiku, semuanya adalah tentang apa yang sudah kukorbankan bagi keluarga. Dia pasti merasa sangat kesepian.

Bercerai tidak memperbaiki kegelisahanku. Aku masih lemah dalam membangun keintiman secara emosi. Aku membawa diriku yang hancur dalam beberapa hubungan, yang juga gagal. Baru beberapa tahun terakhir aku telah belajar menangani masalah yang telah berakar dalam ini.

Jika Anda menghadapi perceraian dan terjebak dalam kondisi buruk setelahnya, Anda tidak sendiri. Perceraian bisa terasa seperti akhir dari segalanya, tetapi kehidupan menjadi lebih baik ketika Anda dapat mengatasi rasa sakitnya. Akan sangat menolong jika berbicara dengan seseorang. Jika Anda mengisi formulir di bawah ini, seorang anggota tim kami akan menghubungi Anda untuk mendengarkan dan menolong Anda bergerak maju.

Pembulian

Aku sedang menuju ke kelas pelajaran Sejarah ketika ia mengatakannya. Dua puluh tahun kemudian, aku masih dapat mengingat, kemeja apa yang ia kenakan saat itu. Aku ingat, ia mulai beranjak pergi kemudian berbalik ke arahku dan memberikan komentar. Ia tampak berpikir sejenak, kemudian berkata, ”Aku tidak akan pernah melupakan wajahmu. Wajahmu jelek sekali.”

Mem-bully dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Beberapa anak dipaksa untuk masuk ke loker. Yang lain didorong atau dipukul. Ada yang ketika seseorang masuk ke sebuah ruangan, semua orang yang di ruangan itu kemudian keluar satu persatu. Yang aku alami adalah melalui perkataan. “Kamu bodoh” dan “Kamu tahu kan, kalau semua orang tidak menyukaimu?” Hari yang lain, orang mengomentari wajahku. Suatu hari aku naik bus sekolah dan mendengar mereka menggambarkan keadaanku pada waktu aku tidur.

Perlakuan yang tak kenal belas kasihan. Mereka berenam dan aku seorang diri. Jadi dengan cepat aku belajar untuk diam. Tundukkan kepala. Jangan mengucapkan sepatah kata. Usahakan supaya tidak terlihat. Mungkin jika mereka tak menyadari aku di sana, hal itu akan berhenti.

Tetapi itu tidak berhenti!

Pem-bully-an yang kualami tidak berhenti di kelas 6, atau 7 atau 8. Ketika aku SMA aku berharap dapat menghilang di tengah kerumunan 1,200 siswa lainnya, tetapi itu tidak terjadi. Tidak berhenti tahun itu, atau tahun-tahun berikutnya.

Aku biasanya turun dari bus dan berjalan lambat-lambat ke rumah. Bukan berarti aku tidak ingin ada di rumah. Tetapi aku tahu bahwa masih tersisa 18 jam, sebelum aku harus kembali ke sekolah. Itu merupakan bagian teraman selama hari itu. Tetapi waktu berjalan dengan cepat.

Tundukkan kepala. Jangan mengucapkan sepatah kata. Usahakan supaya tidak terlihat. Mungkin jika mereka tak menyadari aku di sana, mungkin hal itu akan berhenti. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Aku dapat bercerita dari pengalaman bahwa ketakutan merupakan cara hidup yang melelahkan. Ada juga hari-hari tanpa ketakutan, yaitu pada malam hari dan akhir pekan. Aku hanya dapat membayangkan betapa sulitnya bagi anak-anak saat ini, ketika internet dapat menyebarkan kebohongan dalam hitungan detik dan media sosial memberikan ruang bagi para pem-bully untuk mengata-ngatai Anda bahkan ketika Anda masih berbaring di tempat tidur di pagi hari.

Akhirnya aku tahu, ada pertolongan jika saja aku meminta. Aku lolos dari para pem-bully. Tetapi seharusnya aku dapat melakukannya lebih awal jika saja aku menceritakan kepada seseorang apa yang terjadi padaku. Aku terlalu takut untuk mengatakan sesuatu, takut bahwa semua akan menjadi lebih buruk, aku tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Aku tidak pernah mengatakan kepada orang tuaku, sampai semua berakhir. Ketika guru favoritku bertanya, ”Apakah mereka mengganggumu?” Aku berbohong.

Sekarang ini sebagai orang dewasa, aku memahami bahwa intimidasi merupakan bagian dari bullying. Bentuk yang berbeda dari pelecehan, yang mampu mengisolasi korban. Bullying meyakinkan bahwa pemikiran korban tidaklah benar. Ia mengingatkan terus menerus bahwa tidak ada yang mendengarkannya, bahwa ia tidaklah terlihat. Mereka membuat Anda percaya bahwa Anda tidak berharga dan bahwa tidak akan ada yang akan menyelamatkan bahkan jika mereka tahu apa yang sedang terjadi. Pem-bully dan pelaku kekerasan meyakinkan Anda bahwa Anda benar-benar seorang diri dan bahwa kesendirian merupakan tempat yang sangat berbahaya.

Bagiku, segala yang jahat yang mereka katakan itu benar, sehingga aku merencanakan untuk bunuh diri. Aku pernah mendengar bahwa bunuh diri merupakan solusi permanen bagi masalah yang “sementara” dan merupakan sesuatu yang terhormat. Itu adalah sampah. Ketika aku hampir mengakhiri hidupku, aku mengalami pelecehan secara verbal dan emosi setiap hari selama lebih dari 6 tahun. Itu bukan “sementara”. Saat itu aku berumur 16 tahun; itu adalah separuh usiaku.

Sindiran dan kelakar tidak membantu dalam menghadapi sesuatu yang serius dan menakutkan seperti bullying dan bunuh diri. Apa yang membantu adalah definisi ini yang berasal dari situs bunuh diri terkemuka di web: “Bunuh diri bukan pilihan; itu terjadi ketika rasa sakit melebihi kemampuan untuk mengatasi rasa sakit. “

Bunuh diri terjadi ketika beban yang tak tertahankan yang Anda bawa akhirnya menghancurkan Anda. Ini bukan penolakan atas tanggung jawab, bukan pilihan egois, jalan pintas, atau pelarian. Ini adalah adegan terakhir dalam pertempuran yang tidak dimulai dengan adil. Bunuh diri selalu merupakan tragedi. Itu selalu hasil terburuk yang mungkin terjadi.

Sebagai orang dewasa, aku tahu, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengambil kata-kata dari pengganggu keluar dari kepala. Ketika Anda mendengar hal yang sama berulang-ulang, kata-kata itu masuk ke dalam pikiran Anda. Mereklamasi pikiran Anda sendiri adalah mungkin, tetapi itu membutuhkan waktu.

Bunuh diri terjadi ketika beban yang tak tertahankan yang Anda bawa akhirnya menghancurkan Anda. Itu bukan pilihan yang egois. Ini adalah adegan terakhir dalam pertempuran yang tidak dimulai dengan adil.

Pertama kali aku menceritakan seluruh kisah hidupku, tentang apa yang terjadi padaku, adalah saat tahun terakhir aku di universitas. Temanku yang sangat baik memegang tanganku ketika aku terguncang ketika menceritakannya. Sampai hari ini dia adalah satu-satunya yang tahu semua itu.

Dia menulis sebuah surat padaku yang sering kubaca setiap kali pikiran-pikiran lama itu muncul di kepalaku. Itu adalah sesuatu yang kuat yang dapat aku pegang di tanganku ketika aku meragukan hal lainnya. Itu adalah garis hidupku untuk waktu yang lama. Aku senang mengatakan bahwa aku tidak perlu sering membacanya belakangan ini.

Jika Anda telah ditindas, kata-katanya juga untuk Anda. Silakan meminjamnya:

Jangan dengarkan suara yang lain. Kamu cantik. Kamu cerdas. Kamu dicintai. Kamu tidak sendiri.

Jika Anda diganggu atau jika Anda masih mendengar kata-kata buruk kepada Anda di sekolah, Anda tidak sendirian. Anda bukan siapa yang mereka katakan. Jika Anda ingin membicarakannya, kami di sini. Cukup isi informasi kontak di bawah ini, dan seseorang akan segera menghubungi Anda.

Menjadi Janda

Kata “janda” masih membuatku merinding. Ini bukan pilihan yang pernah kuinginkan, apalagi yang kubayangkan untuk tahap kehidupan ini. Keluarga suamiku dikenal hidup panjang hingga usia 90-an—aku malah sempat bercanda, berharap dia akan hidup 20 tahun lebih lama dariku. Kadang kulucu, “Nanti, kalau aku meninggal duluan, tolong nangislah sepuasnya. Aku mau dirindukan. Aku mau tahu hidupku berarti, dan kesedihanmu membuktikannya.” Sering kupikir, siapa yang akan menggantikanku setelah aku tiada, mengingat kecil kemungkinannya ia akan sendiri selamanya.

Namun hampir tiga tahun setelah kepergiannya, aku masih sering terisak hebat saat rinduku padanya memuncak.

Selama 23 tahun, kami nyaris tak terpisahkan—hanya terpisah untuk bekerja. Lalu datang diagnosis kanker: adenokarsinoma stadium IV. Prognosisnya suram sejak awal. Aku meneliti kondisinya hingga tahu waktu kami bersama sangat singkat. Aku memutuskan cuti untuk merawatnya, dan dia mengambil cuti sakit sementara.

Kami pindah ke apartemen dekat rumah sakit agar dia mudah menjalani terapi radiasi harian. Selama sembilan bulan berikutnya, ia bolak-balik rumah sakit, menjalani empat operasi besar dan berbagai tindakan rawat jalan. Jarang kulonggarkan pandangan darinya. Agar bisa merayakan hari libur di rumah, aku belajar memberi infus cairan untuk mencegah dehidrasi dan gagal ginjal akut. Selama itu pula ia dipasangi akses infus untuk kemoterapi terus-menerus. Belum lagi risiko bekuan darah akibat operasinya, yang memaksaku menyuntikkan obat pengencer darah di perutnya setiap hari demi mencegah bekuan itu ke paru-paru atau jantung. Pernah kulaporkan pada sahabat, dalam kelelahan yang hampir membuatku menyerah—tapi berkat dukungan keluarga dan teman, aku terus bertahan.

Sembilan bulan sejak penderitaannya dimulai, ia menjalani operasi terakhir. Dokter mengatakan kanker telah merusak usus besarnya, dan tak ada lagi yang bisa dilakukan. Kami disarankan menghubungi layanan hospice, yang sangat membantu dengan materi bacaan tentang apa yang akan terjadi di hari-hari terakhirnya. Tak lama setelah kembali ke rumah, nyeri yang ia rasakan begitu hebat hingga aku memberinya morfin cair tiap jam. Ia nyaris koma selama lebih dari seminggu. Kemudian suatu pagi—pada usia 58 tahun, 10 bulan setelah diagnosis—saat aku menggenggam tangannya, ia memalingkan wajah pelan dan dengan susah payah mengucapkan untuk terakhir kali, “Aku mencintaimu.” Lalu ia mengedip tiga kali, isyarat yang selalu ia gunakan untuk menenangkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku langsung tahu itu adalah salam perpisahan terakhirnya. Malam itu, di pangkuanku, ia menghembuskan napas terakhir.

Lalu dimulailah perjalanan paling sulit yang pernah kualami: hidup tanpanya.

“Menjadi janda adalah menanggung patah hati seorang diri, menyadari tak ada yang bisa berbagi rasa sakit itu seperti dia bisa.”

Tidak, menjadi janda di usia 52 bukanlah yang kuharapkan. Namun selama tiga tahun terakhir, aku belajar apa artinya. Pulang dari hari kerja yang berat ke rumah sepi, merindukan pelukan kuatnya yang bisa membuat segala beban lenyap.

Menjalani hari biasa, bertemu teman lama di supermarket, lalu tergesa-gesa meraih ponsel untuk mengabari suami, hanya untuk sadar—tak ada yang akan mengangkat telepon itu.

Merencanakan masa depan tanpa teman berbagi harapan dan impian. Dulu kami berencana berlayar ke Alaska setelah pensiun; kini kata “suatu saat” itu hilang—pensiun berubah menjadi sesuatu yang kutakuti, bukan dinanti.

Mengetahui ia tak akan berjalan di koridor gereja mendampingi cucu kami—yang kami besarkan bersama—saat ia melangkah ke pelaminan. Sebagai gantinya, setiap kali mengenangnya, kami menyalakan lilin di dekat foto lama dia memeluknya sebagai bayi. Seolah itu membuatnya hadir dalam upacara.

Makan di luar dan mendengar sapaan pramutamu: “Dua orang?” Lalu gema kata itu mengikuti di tiap suapan saat kulihat pasangan lansia di meja sebelah asyik mengobrol, sementara aku terdiam sendiri.

Menjadi janda adalah melihat bunga liar ungu bermekaran—lalu teringat bagaimana ia sering berhenti di pinggir jalan pulang kerja untuk memetik bunga kecil itu, warna favorit putri kami yang wafat di usia 13. Meski tak pernah bisa kami bicarakan tanpa air mata, ia menyerahkan bunga itu padaku—tanpa kata—seolah berkata, “Aku tidak melupakan. Aku masih peduli. Kita masih menjaga kenangan manis bersamanya, dan di hati kita ia hidup selamanya.” Membawa kepedihan itu sendiri, menyadari tak ada yang bisa memahami luka itu sepertinya. Tak ada yang melihat arti bunga ungu kecil itu seperti yang dilihatnya.

Singkatnya, aku belajar: menjadi janda itu berat. Namun aku juga belajar, itu tak berarti tanpa harapan. Jika kau ingin berbagi apa yang kau pelajari atau perjuanganmu menghadapi kehilangan, tinggalkan kontak, dan tim kami akan segera menghubungimu.