AUTISME

  • * CAHAYA, KEKACAUAN DAN TINDAKAN.**

Di ulang tahun pertama, sudah tiga kali saya divonis sebagai anak yang memiliki keterlambatan perkembangan yang pervasif. Saat itu saya belum bisa berjalan ataupun berbicara – kenyataannya, saya baru dapat berbicara di usia empat tahun dengan ‘terapis’ seorang anak umur tiga tahun. Akan tetapi saya sangat jenius dalam menyusun puzzle potongan gambar, dan saya lebih suka menyusun mainan saya seperti barisan daripada memainkannya. Hal ini memberi petunjuk pada Ibu saya bahwa kemungkinan besar saya menderita autis.

Saat pertama masuk sekolah, dokter anak mendiagnosa saya sebagai anak yang memiliki sindrom asperger. Sewaktu saya SMP dan SMA diagnosa itu berubah menjadi keterlambatan perkembangan yang pervasif (gangguan perkembangan) – tidak spesifik. Saat ini, diagnosa resminya saya mengidap autism spectrum disorder (ASD). Di sekolah guru-guru tidak memahami cara ‘berkomunikasi’ dengan seorang anak autis, sehingga mereka tidak dapat menyampaikan dengan jelas apa yang mereka mau dari saya. Hampir semua guru menyalahkan saya dan Ibu saya karna menurut mereka saya tidak dapat mengikuti instruksi yang mereka berikan. Padahal sebetulnya saya tidak bermaksud untuk tidak taat, saya benar-benar tertekan karna tidak dapat mengerti apa yang mereka maksudkan.

Ini yang perlu anda ketahui tentang kekhasan autis saya. Saat memasuki sebuah ruangan, saya akan mulai mengumpulkan semua hal-hal kecil yang ada disekeliling saya, mulai dari suara, cahaya dan juga warna. Saya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menstimulus kerja otak saya agar dapat mengartikan segala sesuatunya. Jadi, di usia yang lebih muda, saya seringkali merasa terpesona dengan keadaan yang tidak biasa, dan reaksi saya bisa menjadi bahan perhatian orang atau bisa juga membuat saya menutup diri dari dunia sekeliling, hal itu saya lakukan hanya karena ada hal baru yang saya lihat atau dengar. Saya seperti hidup ditengah badai pasir tanpa petunjuk sama sekali tentang apa yang ada di sekeliling saya.

Hal lainnya yang menyusahkan saya adalah memilih kata-kata atau bahasa tubuh yang tepat untuk menginterpretasikan kiasan atau maksud yang tersembunyi. Jalan pikiran saya benar-benar apa adanya. Saya harus banyak belajar untuk dapat berpikir praktis, tapi sekarang saya sudah lebih baik dalam hal ini, meskipun saya harus memikirkan baik-baik tentang apa yang saya katakan atau lakukan bahkan sampai detik pelaksanaannya. Sangat menakutkan bagi saya bila saya tidak tahu bagaimana nantinya reaksi orang atau apa pendapat mereka tentang saya. Tambahan lagi, di usia yang lebih muda, saya tidak mampu untuk menghubungkan konsekwensi dari perbuatan saya dan akibatnya nanti.

Saat orang lain merasa tahu tentang kemampuan saya, saya sendiri merasa seperti dimasukkan dalam sebuah kotak, dan saya tidak menjadi diri saya sendiri.

Di usia dua tahun saya dimasukkan dalam Ritalin (tempat khusus untuk menstimulasi kemampuan anak), saat itu saya merasa seperti ada gajah duduk di atas saya dan menekan seluruh emosi saya. Saya harus melewati masa-masa itu sampai kelas 3 SD. Untungnya guru saya waktu itu merasa kalau saya adalah anak yang cukup penurut dan hampir selalu dapat dikendalikan. Sayangnya saat itu saya justru kehilangan kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang saya butuhkan. Selama duduk di bangku SD saya selalu menjadi obyek yang terus menerus diganggu oleh teman-teman. Saya berusaha untuk dapat bermain dengan mereka, akan tetapi saya tidak mengerti mengapa mereka memperlakukan saya dengan buruk. Saya menerima begitu saja perlakuan mereka yang melecehkan saya hanya agar saya tetap dapat bermain dengan mereka. Satu saat waktu jam istirahat sekolah saya bahkan pernah ditendang. Waktu SMP, teman-teman sekelas mulai mengacuhkan saya, yang sebetulnya satu tingkat lebih buruk daripada dilecehkan. Di tingkat SMA, saya mulai mendapatkan teman. Saya mencari anak-anak yang keliatan menyendiri, karna saya pikir mungkin mereka memiliki perasaan yang sama dengan saya.

Saya selalu merasa bahwa saya berbeda dengan orang lain. Saya berpikir, mungkin di luar sana banyak orang yang merasa seperti saya, bahwa hidupnya berbenturan dengan norma yang ada pada umumnya. Saya seringkali tidak mengerti mengapa saya berbeda, apa yang saya lakukan yang membuat saya berbeda – saya masih tidak dapat memahaminya. Dalam pikiran saya, apa yang saya lakukan atau pikirkan rasanya normal-normal saja. Seringkali orang berpikir bahwa mereka tahu apa yang dapat saya lakukan hanya karna mereka mengenal orang lain yang juga autis. Akan tetapi salah satu hal yang paling menarik tentang autis adalah, setiap penderita akan menunjukkan kemampuan yang berbeda. Apabila saya dapat berperilaku atau berpikir dengan cara saya saat ini, tidak berarti kemampuan yang sama juga dimiliki oleh penderita autis yang lainnya.

Jadi, saat ada orang yang mengira bahwa dia tahu kemampuan saya, saya merasa seperti sedang dimasukkan dalam sebuah kotak, dan saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya merasa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak nyaman untuk dilakukan, dan dengan begitu mereka seperti tidak menghargai kemampuan saya. Seringkali saya berharap agar orang-orang dapat menerima saya apa adanya.

Benar sekali, sepanjang hidup saya mengalami banyak tekanan, tantangan, dan hal-hal yang sulit untuk dilalui, akan tetapi lewat setiap perjuangan, saya dibentuk menjadi sebagaimana saya saat ini. Saya sekarang adalah saya yang terbentuk karna masa-masa sulit yang sudah saya lewati. Saya merasa bangga dengan pencapaian saya: mampu berbicara di depan orang banyak, dapat menghadapi tantangan yang menakutkan, berhasil mengatasi berbagai kendala, dan saat ini saya jauh lebih fleksibel dari saya yang dulu.

Saya tidak akan dapat melangkah sejauh ini tanpa adanya orang-orang yang mendukung saya. Yang terutama dari semuanya adalah Ibu saya, beliau adalah seorang yang kuat dan tidak pernah berhenti untuk menyemangati saya agar saya dapat melakukan yang terbaik dan tidak pernah menyerah. Tidak ada dua penderita autis yang sama persis. Akan tetapi apabila kebetulan anda mengalami hal yang sama seperti yang pernah saya alami, anda tidak sendiri. Salah seorang dari tim kami akan siap untuk mendengarkan kisah anda. Apabila anda bersedia untuk mengisi formulir di bawah ini kami akan segera menghubungi anda.

Anda tidak perlu menghadapi masalah ini sendiri. Isilah formulir di bawah ini dan salah seorang mentor kami akan segera meresponinya. Ini bersifat rahasia dan tanpa dipungut biaya. Para mentor kami bukanlah praktisi konselor, mereka adalah orang-orang biasa yang memiliki kerinduan untuk turut mengiringi perjalanan hidup orang lain dengan dasar kasih dan penghargaan.

Autisme

Sebelum ulang tahunku yang pertama, aku sudah tiga kali menjalani asesmen untuk keterlambatan perkembangan. Aku belum bisa berjalan atau bicara — bahkan aku baru mulai berbicara saat berusia empat tahun, meskipun sudah menjalani terapi wicara selama tiga tahun. Tapi aku sangat jago dalam menyusun puzzle, dan aku lebih suka menyusun mainanku berbaris-baris daripada memainkannya. Hal ini membuat ibuku curiga kalau aku mungkin punya autisme.

Saat aku mulai bersekolah, psikiater anakku mendiagnosisku dengan sindrom Asperger. Saat SMP dan SMA, diagnosisku berubah menjadi pervasive developmental delay – not otherwise specified. Sekarang, diagnosis resmiku adalah autism spectrum disorder (gangguan spektrum autisme).

Saat aku masih sekolah, guru-guru tidak benar-benar memahami autisme fungsi tinggi, dan mereka tidak bisa menjelaskan secara jelas apa yang mereka harapkan dariku. Kebanyakan dari mereka menyalahkan aku dan orang tuaku atas perilakuku dan ketidakmampuanku mengikuti instruksi. Padahal aku tidak bermaksud untuk berperilaku buruk; aku hanya sangat stres.

Inilah yang perlu kamu ketahui tentang “keanehan” autistikku. Setiap kali aku masuk ke sebuah ruangan, otakku langsung menangkap semua informasi kecil di sekitarku: suara, cahaya, warna. Butuh waktu lama bagiku untuk bisa terbiasa dengan banyaknya stimulus yang otakku proses setiap saat. Jadi, saat aku masih kecil, aku sering kewalahan saat menghadapi situasi baru dan kemudian panik atau secara fisik benar-benar shut down karena terlalu banyak yang kulihat dan kudengar. Rasanya seperti berada di tengah badai pasir — semuanya berkelebat tanpa pola atau makna.

Hal lain yang juga sulit bagiku adalah menangkap isyarat verbal atau bahasa tubuh serta menafsirkan petunjuk dan metafora yang halus. Otakku sangat literal. Aku harus belajar “akal sehat” sendiri: sekarang aku lebih baik dalam hal ini, meski sejak dulu aku selalu terlalu memikirkan segala sesuatu yang kukatakan atau kulakukan, sampai detail terkecil. Aku takut saat tidak tahu bagaimana orang akan bereaksi atau apa yang mereka pikirkan tentangku. Selain itu, dulu aku juga tidak bisa menghubungkan konsekuensi dengan perilaku masa lalu atau masa depan.

Saat orang mengira mereka tahu apa yang bisa kulakukan, aku merasa dikurung dalam sebuah kotak, dan aku tidak merasa menjadi diriku sendiri.

Aku diberi obat Ritalin saat berusia 2 tahun, dan rasanya seperti ada gajah duduk di atas tubuhku, menekan semua emosiku. Aku mengonsumsinya hingga kelas 3 SD. Hal baiknya, aku jadi anak yang tenang dan mudah dihadapi oleh guru. Tapi sisi buruknya, aku jadi kehilangan banyak kesempatan belajar.

Selama sekolah dasar, aku sering diganggu, diejek, dan di-bully. Aku tetap bermain dengan anak-anak lain, tapi aku tidak mengerti kenapa mereka memperlakukanku seperti itu. Aku menoleransi banyak perlakuan buruk hanya supaya mereka mau mengajakku bermain. Aku bahkan pernah ditendang saat istirahat.

Saat SMP, teman-temanku mulai mengabaikanku — dan bagiku itu sudah lebih baik dibanding di-bully. Saat SMA, aku akhirnya bisa mendapatkan beberapa teman. Aku sering mendekati orang-orang yang menyendiri, karena kupikir mereka mungkin merasa seperti aku juga.

Aku selalu merasa berbeda dari orang lain. Aku yakin banyak orang seperti aku yang merasa tidak cocok dengan norma. Aku tidak selalu tahu kenapa aku berbeda, atau apa yang kulakukan yang membuatku berbeda — bahkan kadang aku masih tidak menyadarinya. Bagiku, apa yang kulakukan dan kupikirkan terasa normal.

Sering kali orang merasa mereka mengerti kemampuan seseorang hanya karena mereka mengenal orang lain dengan autisme. Tapi salah satu hal paling menarik dari autisme adalah bahwa gejalanya muncul berbeda pada setiap orang; hanya karena aku berpikir atau bertindak dengan cara tertentu, bukan berarti orang lain dengan autisme akan bertindak serupa.

Jadi ketika orang mengira mereka tahu batas kemampuanku, aku merasa terkurung dalam kotak, dan kehilangan rasa sebagai individu. Aku merasa dipaksa melakukan hal-hal yang tidak nyaman untukku, atau diremehkan kemampuannya. Kadang aku berharap orang-orang bisa menerimaku apa adanya.

Ya, aku mengalami stres, tantangan, dan kesulitan sepanjang hidupku. Tapi setiap perjuangan itu membawaku lebih dekat pada diriku yang sekarang. Aku adalah aku karena semua hal itu. Aku bangga dengan pencapaianku: aku bisa berbicara di depan orang, menghadapi tantangan yang menakutkanku, melewati rintangan, dan aku jauh lebih fleksibel dibanding dulu.

Tanpa orang-orang yang telah mendukung dan membantuku selama perjalanan ini, aku tak akan bisa sampai sejauh ini. Terutama ibuku, yang selalu kuat dan mendorongku untuk melakukan yang terbaik dan tidak menyerah.

Tidak ada dua orang dengan autisme yang sama persis. Tapi jika kamu juga berada dalam spektrum, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Seseorang dari tim kami dengan senang hati ingin mendengarkan ceritamu. Gunakan formulir di bawah ini, dan kamu akan segera mendengar kabar dari kami.

Radang Sendi

Saat aku berusia 17 tahun, olahraga adalah seluruh hidupku. Aku bermain ski, softball, voli, basket, sepak bola, dan hampir semua jenis olahraga yang bisa kamu bayangkan. Jadi ketika lututku mulai membengkak, dokter tentu saja mengira itu karena cedera olahraga. Baru saat operasi, mereka menemukan bahwa penyebabnya adalah radang sendi.

Rheumatoid arthritis adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sendiri persendiannya. Ini menyebabkan peradangan yang sangat menyakitkan dan intens, yang lama-lama bisa mengikis tulang, menyebabkan deformitas sendi, dan bahkan merusak organ. Tapi saat aku berusia 17, aku sama sekali tidak tahu semua itu. Para ahli bilang bahwa rheumatoid arthritis bisa diturunkan dari orang tua; aku selalu bercanda ke ibuku bahwa lain kali dia ingin memberiku sesuatu, aku lebih memilih uang saja.

Waktu dokter mengatakan aku mengidap arthritis, aku bahkan belum pernah mendengar bahwa anak muda bisa kena penyakit itu. Kukira itu hanya dialami oleh orang-orang seumuran kakek nenekku. Aku tidak benar-benar memahami bagaimana penyakit ini akan menghancurkan tubuhku perlahan-lahan. Bagiku, arthritis saat itu hanya sekadar rasa sakit menyebalkan yang tak kunjung hilang. Dan karena progresinya yang bertahap, tubuhku tidak langsung lumpuh seketika. Lututku duluan yang kena, lalu saat flare-up berikutnya, mungkin tulang rusuk atau siku. Aku tidak langsung kehilangan gerakan di jari tangan, kaki, bahu, siku, tulang belakang, rahang, dan lutut. Semuanya berjalan perlahan — progresi menyakitkan menuju ketidakmampuan bergerak.

Gejalaku masuk ke tiga persen terparah. Dan saat aku pertama kali didiagnosis 33 tahun lalu, pilihan pengobatannya sangat terbatas. Sekarang, sudah ada banyak obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini. Salah satu penyesalan terbesarku adalah tidak mendengarkan nasihat seorang guru SMP-ku; dia juga didiagnosis arthritis sekitar waktu yang sama denganku dan terus menyarankan aku untuk ikut uji coba obat baru. Aku pernah ikut uji coba sebelumnya, dan aku sudah lelah dengan kerepotannya. Tapi kalau aku ikut uji coba itu, arthritis-ku mungkin tidak akan separah sekarang.

Banyak orang mengira aku tidak bisa melakukan hal-hal tertentu. Mereka melihatku seolah aku tak berdaya, seolah aku tidak bisa melakukan apa pun sendirian.

Hal-hal sehari-hari yang orang lakukan tanpa berpikir panjang — seperti mencuci rambut, minum dari gelas, meniup hidung, memotong makanan, dan memakai make-up — semuanya butuh usaha lebih besar bagiku. Aku tetap bisa melakukannya, tapi aku memakai alat bantu khusus. Mungkin tantangan fisik terbesarku adalah tinggal di Kanada bagian utara, di mana menjaga harga diri saat berjalan di atas es saja sudah sulit, apalagi buat orang sepertiku.

Walau tubuhku tidak berfungsi seperti yang kuinginkan, dan meskipun aku sering mengalami nyeri luar biasa, mungkin tantangan terbesar justru datang dari bagaimana orang lain memperlakukan dan memandangku. Banyak yang mengira aku tidak bisa melakukan hal-hal tertentu. Mereka memandangku seperti aku tidak bisa apa-apa. Mereka tidak sadar bahwa aku bisa melakukan banyak hal, bahwa aku ingin melakukan banyak hal, dan bahwa aku tidak malu meminta bantuan saat aku memang membutuhkannya. Dalam niat yang katanya baik, aku pernah direbut tas dari tanganku, bahkan pernah secara fisik diangkat dan dibawa begitu saja (karena tubuhku kecil, ini kadang terjadi), teman dan keluargaku pernah dimarahi karena membiarkanku membawa barang sendirian. Kadang, ketika orang tidak memahami batas kemampuanku, mereka malah cenderung terlalu membantu.

Hidup dengan disabilitas fisik memengaruhi semua aspek kehidupanku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku tidak punya dukungan. Punya dukungan dalam hidup itu sangat penting, dan terkadang, sekadar membicarakan apa yang kamu alami saja sudah sangat membantu. Kalau kamu hidup dengan arthritis atau kondisi disabilitas fisik lainnya dan ingin berbagi cerita, tinggalkan informasi kontakmu di bawah. Tim kami dengan senang hati akan mendengarkan. Karena kamu tidak sendirian.

Kecemasan

Kecemasan

 

Aku punya anjing yang sangat, sangat cemas. Setiap pagi, dia mondar-mandir saat aku bersiap-siap untuk bekerja. Dia tahu apa yang akan terjadi: aku akan pergi, dan dia akan sendirian di rumah. Dia gelisah mengikuti aku ke mana pun aku pergi. Setiap kali kutinggalkan, dia menangis, merengek, menggonggong sambil menyelinap ketakutan — dia benar-benar lumpuh dan tak berdaya. Kecemasannya sepenuhnya menguasainya.

Hal yang lucu/sedih/menyeramkan adalah… aku rasa anjingku mendapat kecemasannya dariku. Aku pun pernah mengalami saat-saat melumpuhkan seperti itu. Aku pernah merasakan rasa nyeri yang tajam di dada, sensasi kesemutan yang aneh sampai aku yakin bahwa jantungku benar-benar meledak, atau aku sedang sekarat karena serangan jantung. Bahkan saat menulis ini, rasanya seperti ada beban yang makin lama makin berat di dadaku. Aku merasa seperti sedang tercekik, tenggelam, dan pingsan — semua sekaligus.

Sejak aku kecil, aku sudah sering khawatir soal hal-hal kecil seperti apa yang akan kumakan untuk makan siang dan apakah aku punya cukup uang untuk beli camilan, kalau-kalau nanti butuh. Banyak waktu istirahatku kuhabiskan di telepon umum, menelepon ibuku agar dia bisa meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, kecemasanku sempat mereda. Aku hanya khawatir soal hal-hal umum — nilai bagus, kerja paruh waktu, dan harapan punya pasangan suatu hari nanti.

Namun ketika ibuku didiagnosis menderita penyakit terminal, segalanya berubah. Sejak saat itu hingga hari ini, kecemasanku kembali. Aku mulai terus-menerus takut pada hal-hal yang tak bisa kulihat atau kukendalikan:

  • Aku takut bahwa cepat atau lambat, aku atau anggota keluargaku akan meninggal karena kanker.
  • Aku cemas tetanggaku akan kembali mengeluh soal anjingku yang terlalu cemas dan menggonggong terus.
  • Aku takut datang ke reuni SMA dan merasa gagal di antara teman yang jadi pengacara, dokter, atau yang sudah sukses bangun bisnis.
  • Aku takut semua kehamilanku akan berujung keguguran – padahal aku belum pernah hamil.

Daftarnya terus berlanjut. Aku takut mengecewakan orang lain, jadi aku sering kali menghindari risiko. Aku juga sering menolak undangan ke acara sosial karena aku cemas saat berada di antara banyak orang. Sayangnya, aku punya kecenderungan langsung membayangkan skenario terburuk. Dalam pikiranku, aku sudah divonis sakit parah, dipenjara, dipecat, bercerai, dan dikubur. Kadang pikiranku adalah tempat yang sangat menakutkan.

Kecemasanku bisa muncul kapan saja — dan tak pernah pada waktu yang tepat. Suatu kali, aku begitu takut menghadiri rapat dengan atasan sampai aku kehabisan napas dan tak bisa merangkai satu kalimat pun. Saat aku sendirian di rumah dan mulai panik, pikiranku langsung membayangkan aku akan kena serangan jantung dan mati sendirian. Saat aku sedang di bioskop dan ponselku bergetar, pikiranku langsung melompat pada pikiran buruk — aku merencanakan bagaimana caranya keluar dari bioskop sambil menangis tanpa menimbulkan keributan.

Aku punya kecenderungan untuk langsung membayangkan skenario terburuk. Dalam pikiranku, aku sudah divonis sakit parah, dipenjara, dipecat, bercerai, dan dikubur.

Aku pernah baca satu kutipan: “Kalau kamu selalu mengharapkan kekecewaan, kamu tidak akan pernah kecewa!” Dalam banyak situasi, aku terbiasa mengantisipasi hal terburuk. Uniknya, aku menikah dengan seseorang yang spontan dan sangat santai. Bisa kamu bayangkan bagaimana aku langsung membeku saat dia menerima undangan sosial tanpa berdiskusi denganku lebih dulu. Sejujurnya, aku selalu kagum dengan keberaniannya — dengan kemauannya mencoba hal baru, bahkan yang menyeramkan sekalipun. Sering kali aku datang padanya sambil menangis, menanyakan bagaimana caranya agar semua ini tidak terus-menerus melumpuhkanku. Dia justru berkembang di situasi di mana ia tahu ia bebas untuk gagal. Sementara aku… aku langsung panik hanya dengan membayangkannya.

Kalau kamu merasa hidup di dunia penuh “bagaimana kalau…” dan merasa terjebak tanpa jalan keluar, ceritakanlah pada kami. Kecemasan bisa terasa seperti bayangan gelap yang mengikuti ke mana pun kamu pergi, bahkan di dalam ruang yang juga sudah gelap. Rasanya seperti tidak ada jalan keluar — tapi kamu tidak harus menghadapi semua ini sendirian. Tinggalkan informasi kontakmu di bawah, dan seseorang dari tim kami akan segera menghubungimu.

 

Anoreksia

Pernahkah kamu merasa ingin menurunkan lima pon (sekitar dua kilogram)? Aku pernah — dan ternyata itu menjadi awal dari diet selama 15 tahun yang nyaris merenggut nyawaku.

Saat aku masih praremaja, aku mengalami perundungan yang parah, adik laki-lakiku meninggal, dan aku mengalami pelecehan seksual. Semua itu membuatku merasa sangat tidak aman terhadap diriku sendiri. Aku takut berbicara dengan orang tuaku. Aku takut membuat mereka sedih, jadi aku membenarkan sikap diamku — toh, rasanya tidak separah itu.

Dalam kondisi rentan ini, aku bertanya pada seorang laki-laki yang terkenal agak kasar apakah dia dengan jujur bisa bilang kalau aku perlu menurunkan berat badan. Dia berkata, “Beberapa pon saja akan membantu.” Itu jadi pemicu yang kubutuhkan. Keesokan harinya, aku mulai diet.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kehilangan lima pon, dan itu membuatku merasa sangat baik. Aku pikir, kalau lima pon saja bisa memberikan dampak sebesar ini, lima pon berikutnya pasti lebih baik lagi. Saat berat badanku terus turun, aku mulai mendapatkan popularitas, teman, dan pacar — semua yang selama ini aku dambakan.

Aku mulai menyamakan cinta dengan menjadi kurus.

Aku menjadi terobsesi dengan kesempurnaan, dan tidak berani mendapatkan nilai selain A. Aku berolahraga setiap hari: berlari sejauh 10 mil, melakukan hingga 1.000 sit-up, dan aerobik untuk membakar setiap kalori yang masuk. Setelah enam bulan, aku mulai mengalami pusing yang parah dan harus ke dokter. Ketika dia bilang aku mengidap anoreksia nervosa, aku berpikir, “Bagaimana mungkin seseorang dengan berat 105 pon bisa punya gangguan makan?” Orang-orang yang mendengar diagnosis itu pun bertanya hal yang sama. Bahkan ada yang bilang aku tidak terlihat seperti pengidap anoreksia. Jadi aku memutuskan untuk berusaha lebih keras — menjadi anoreksik yang sempurna.

Selama 15 tahun berikutnya, aku terus berjuang dan nyaris meninggal dua kali. Selama waktu itu, aku berada di bawah pengawasan medis dan ikut terapi secara intensif.

Namun dari luar, aku tetap berusaha keras agar terlihat seolah semuanya baik-baik saja.

Titik terendahku terjadi saat aku dirawat di rumah sakit untuk kedua kalinya. Jantungku berdebar tak beraturan dan tubuhku sangat dehidrasi. Aku berada di ambang kematian. Untuk memberi nutrisi ke tubuhku yang tinggal 37 kilogram, aku dipaksa makan 3.000 kalori per hari lewat selang langsung ke lambung. Tapi aku diam-diam membuang isi selang ke tempat sampah di bawah tempat tidur dan terus berolahraga secara diam-diam kapan pun aku bisa.

Tapi di ranjang rumah sakit itulah segalanya mulai berubah. Aku sendirian, berhadapan langsung dengan diriku sendiri. Aku mulai menuliskan daftar kebohongan yang selama ini aku percayai, lalu menuliskan kebenaran yang sebenarnya aku tahu di dalam hati. Saat menulis, aku mulai merindukan kemampuan untuk percaya pada kebenaran itu. Setelah itu, melalui terapi mendalam, bantuan medis, dan doa serta kasih dari keluargaku dan suamiku, aku perlahan bisa merebut kembali hidupku — hidup yang hampir direnggut oleh anoreksia.

Apakah kamu sedang bergumul dengan gangguan makan? Saat ini kamu mungkin merasa putus asa dan terjebak, tapi kamu tidak sendirian. Jika kamu mengisi formulir di bawah, seseorang dari tim kami akan menghubungimu untuk mendengar ceritamu dan membantu menemukan harapan.

Orang Tua Alkoholik

Waktu aku kelas tiga SD, aku pernah mengajak seorang teman untuk menginap di rumah. Keesokan harinya dia kembali dan berkata, “Orang tuaku bilang tidak boleh karena orang tuamu pemabuk.” Saat itulah aku sadar: keluargaku tidak normal. Orang tuaku adalah pecandu alkohol. Seluruh aspek kehidupan mereka berputar di sekitar minuman keras; itulah satu-satunya hal yang kukenal sejak kecil.

Kenyataan semakin menyakitkan ketika aku dan adikku makan malam di rumah keluarga lain. Tidak ada minuman, tidak ada pertengkaran. Mereka bermain dan bersenang-senang bersama. Kami pun cepat belajar bahwa kami lebih aman jauh dari rumah, jadi kami mencoba pergi sejauh mungkin. Paman kami tinggal tidak jauh, jadi terkadang kami menginap di sana ketika orang tua kami mulai minum dan bertengkar tak terkendali. Saat kembali ke rumah keesokan paginya, sering kali kami mendapati rumah berantakan, dengan furnitur rusak dan pecahan piring di mana-mana.

Aku sering menyendiri di loteng, kamar tidurku, tapi tempat itu tidak memberi banyak ketenangan. Aku masih bisa mendengar orang tuaku saling memaki dan menyakiti secara fisik dari kamar mereka di bawah. Tidak seharusnya seorang anak mendengar apa yang kudengar. Atau melihat apa yang kulihat. Ayahku tidak tahu, tapi aku melihat dia mendorong ibuku begitu keras hingga ibuku harus dirawat di rumah sakit karena patah panggul.

Ketika ayahku tidak sedang marah karena mabuk, ia menjadi sedih. Kadang dia pulang dan membangunkanku dari tempat tidur hanya untuk menceritakan penderitaannya, dan tentu saja, aku masih anak-anak, jadi aku hanya duduk di sana dan melihat ayahku menangis. Aku mati rasa. Aku ingat pernah berpikir, “Aku tidak tahu harus apa dengan semua ini.”

Aku sampai pada titik di mana aku bertanya-tanya apakah hidup ini benar-benar layak dijalani. Aku menatap pohon besar di luar jendela dan membayangkan diriku menggantung diri. Aku bahkan sempat membuat batu nisan sendiri dari potongan papan kayu tipis. Kadang aku bertanya-tanya apakah benda itu masih ada di loteng, tersembunyi di bawah karpet longgar.

Tidak seharusnya seorang anak mendengar apa yang kudengar. Atau melihat apa yang kulihat.

Tiket keluarku adalah prestasi akademik yang membawaku masuk universitas. Aku berhasil dengan sangat baik dan masuk daftar dekan. Ketika ayahku mendengarnya, dia untuk pertama dan terakhir kalinya mengatakan bahwa dia bangga padaku. Itu adalah salah satu dari dua momen di mana aku tahu dia benar-benar memperhatikan hidupku.

Aku memang tidak menjadi pecandu, tapi dampak alkohol tetap menempel dalam hidupku. Tumbuh dalam keluarga yang begitu disfungsional membuatku tidak punya acuan tentang seperti apa seharusnya sebuah keluarga. Ketika aku menjadi suami dan ayah, aku merasa seperti menjelajahi wilayah asing, berusaha memahami apa itu “normal.”

Ada juga luka emosional yang tertinggal. Aku tidak pernah melihat orang tuaku mengelola emosi negatif tanpa alkohol, dan mereka tidak pernah mengakui perasaan kami sebagai anak-anak. Kalau ada di antara kami yang mulai menangis, ayahku akan berkata, “Berhenti menangis atau akan kubuat kau benar-benar punya alasan untuk menangis.” Aku ingat ketika memeluk ibuku saat kuliah. Tubuhnya kaku seperti papan. Ia tidak tahu bagaimana cara menerima kelembutan, sementara aku baru belajar memberikannya.

Selama bertahun-tahun aku hidup dengan banyak kekecewaan. Aku sering menoleh ke belakang dan berharap bisa dibesarkan dalam keluarga yang berbeda. Lagu “kasihan aku” terus berputar di latar pikiranku: kenapa aku harus tumbuh seperti ini? Aku memendam kepahitan dan kemarahan, terutama kepada ayahku; dan itu mulai menggerogotiku dari dalam.

Aku tahu aku harus belajar memaafkan atau kepahitan itu akan mengendalikanku.

Beberapa tahun di bangku kuliah, seseorang berkata padaku bahwa aku perlu memaafkan ayahku dan belajar mencintainya. Aku sadar bahwa aku punya dua pilihan. Aku bisa terus merasa pahit, marah, dan merasa dirampas – yang entah bagaimana aku tahu tidak akan baik bagiku atau hubunganku dengan orang lain. Atau aku bisa menerima semua hal baik dan buruk dari cara aku dibesarkan, dan bahwa orang tuaku adalah manusia yang punya kelemahan. Aku tahu aku harus belajar memaafkan atau kepahitan itu akan menguasai hidupku.

Akhirnya aku bisa mengatakan padanya, “Ayah, aku mencintaimu,” tanpa tapi atau keluhan. Itu membuka kembali hubungan kami. Dia menjadi lebih terbuka. Suatu hari, aku menulis surat untuk ayahku. Aku dengan sangat sengaja menulis semua hal baik yang bisa kuingat tentang dirinya. Dia tidak pernah membalas, tapi aku rasa dia memang tidak pernah belajar menulis. Tapi ibuku membalas. Dia menulis, “Ayahmu membaca suratmu dan dia menangis. Aku rasa itu yang dia butuhkan.” Itu adalah momen yang sangat berarti bagiku. Ada perubahan nyata dalam hubungan kami sebelum ia meninggal di tahun 1989.

Apakah kamu memiliki orang tua yang kecanduan alkohol? Apakah ada luka yang belum selesai kamu hadapi? Kamu tidak sendirian. Bahkan jika kamu hanya ingin berbagi pengalaman, seseorang dari tim kami siap mendengarkan. Tinggalkan kontakmu di bawah dan kami akan segera menghubungimu.

Inisial penulis digunakan demi privasi.