by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Ia duduk sendirian di sisi lain ruangan. Pria baru di kelas seniorku. Misterius tetapi layak untuk dipandang lagi. Pandangan kami bertemu dan emosi yang langsung kurasakan membuatku tercengang. Aku mengejapkan mata dan memalingkan muka. Ia juga melakukan hal yang sama. Aku mengetahuinya karena aku memandangnya sekilas lagi. Dan ia menangkap basah waktu aku mencuri pandang padanya. Jadi aku mengumpulkan para gadis yang duduk dekatku dan mengatakan kepada mereka bahwa kami harus berlaku baik dan datang menyapanya. Aman.
Ia mulai bergaul bersama gang-ku dan diterima dengan baik. Tetapi dengan segera, akhirnya hanya kami berdua yang berjalan bersama atau berbincang di sudut ruangan. Kami menjadi lebih secara fisik mengungkapkan perasaan kami. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sungguh cantik. Sinar surya menyelimutiku.
Pada awalnya ia memperlakukanku dengan begitu baik. Semua temanku berkomentar betapa mengagumkannya kami berdua. Ia benar-benar menyukaiku dan mau melakukan hal-hal yang aku suka. Ia membelikanku hadiah-hadiah kecil dan ciumannya yang tepat waktu meluluhkan hatiku. Tentu saja, ia membujukku melakukan hal-hal yang biasanya aku tidak mau melakukan, tetapi aku ingin menyenangkannya. Bersamanya membuatku merasa luar biasa. Setiap orang tahu bahwa kami berpacaran. Kami jarang terpisah, seolah pinggang kami lengket.
Kemudian datanglah permintaan menakutkan – “Aku butuh sendiri.”
Kemudian semuanya berubah. Awalnya aku tidak benar-benar memperhatikan. Atau sejujurnya, aku memilih untuk mengabaikan tanda-tanda itu. Saat dia muncul satu jam terlambat dan kemudian menghabiskan sisa malam itu dengan meminta maaf. Lingkaran-lingkaran merah di bawah kelopak matanya dia katakan karena terkuras kerja dan kuliah. Ada waktu-waktu dia seolah berada di tempat lain dan aku harus menarik perhatiannya kembali kepadaku. Kemudian datanglah permintaan menakutkan – “Aku butuh sendiri.”
Aku memenuhi permintaannya. Aku pikir itu hanya sementara. Kita semua mengalami stres, dan meskipun aku ingin berada di sana untuknya, dia mengatakan ingin sendirian. Aku mencoba untuk tidak membiarkan itu terjadi padaku. Tapi itu terjadi. Tengah-tengah malam aku akan memeluk bantal dengan berurai air mata, tidak tahu bagaimana berbicara dengannya tentang perubahan perasaannya kepadaku.
Dia jarang kelihatan. Aku menyaksikannya ketika dia menyelinap keluar dari hidupku, secara bertahap pada awalnya. Kemudian seperti skateboard mengambil momentum di jalan menurun, ia melaju pergi, meninggalkanku dalam kehancuran. Bingung. Tertolak. Dalam kesedihan. Apa yang sudah kulakukan?
Teman-teman mulai memberitahuku bahwa mereka telah melihatnya bersama gadis lain. Aku tahu mereka bermaksud baik memberitahuku, tetapi aku benar-benar tidak ingin tahu. Dua bulan kemudian dia muncul di salah satu tempat nongkrong favoritku dan bertanya apakah kami bisa bicara. Aku hampir tidak mengenalinya. Kulitnya abu-abu dan matanya kosong. Dia memberitahuku bahwa kami terlalu dekat dan itu membuatnya takut, tetapi dia menyadari bahwa tanpa diriku dia menjadi lebih buruk. Aku menerimanya kembali, dan segala sesuatunya seperti ketika kami pertama kali bertemu. Untuk sementara. Kemudian pola lama mulai muncul ke permukaan. Kali ini, Akulah yang beranjak pergi. Seorang negarawan terkenal pernah berkata, “Menipu aku satu kali, betapa memalukannya kamu. Bisa menipu aku dua kali, betapa memalukannya aku.”
Tiga bulan kemudian dia muncul di depan pintu rumahku. Akhirnya dia mengakui. Dia terjerat obat-obatan terlarang dan selama ini aku adalah gadis lain Dia berpikir karena aku wanita baik maka aku bisa menyelamatkannya. Tapi tarikan gadisnya dan obat-obatan terlarang itu terlalu kuat. Sekarang gadisnya hamil. Meskipun dia tidak mencintainya, mereka akan mencoba untuk berjuang dan masuk rehabilitasi bersama, demi bayi itu. Sebagian dari diriku mengaguminya karena kejujuran dan keberaniannya, tetapi sebagian besar dari diriku ingin mencakar matanya.
Pria yang salah itu membuatku belajar banyak hal yang benar. Emosi tidak bisa menjadi fondasi untuk sebuah hubungan. Tidak juga seks. Kamu harus berproses dan belajar mengenal satu sama lain sebelum kamu berkomitmen untuk berpacaran. Lihat bagaimana dia berinteraksi dengan keluarganya dan keluargamu. Dan tanyakan kepada sahabat sejatimu bagaimana insting jujur mereka tentang dia.
Kamu tidak bisa mengubah siapa pun. Mereka juga tidak bisa mengubahmu.
Jangan menyembunyikan dirimu yang sesungguhnya, dengan pikiran bahwa orang yang ingin kamu tarik akan terpesona, dan cobalah untuk tidak selalu melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Itu palsu. Jika mereka tidak menyukaimu apa adanya, itu tidak akan berhasil. Jika mereka tidak dapat melihat di seputar masalah dan hal-hal yang tidak biasa tentangmu, maka mereka tidak benar-benar peduli.
Kamu tidak dapat mengubah siapa pun. Mereka juga tidak bisa mengubahmu. Kamu tidak dapat mencoba menjadi orang lain hanya karena hatimu tertarik kepada seseorang. Jika ada sesuatu yang ingin kamu ubah tentang dirimu, kamu harus melakukannya untuk dirimu sendiri. Demikian juga tidak adil untuk menekan orang lain, mengharapkan orang lain seperti yang kita inginkan, dan itu jarang berhasil.
Jika kamu tidak merasa nyaman dengan diri sendiri, kamu harus menghadapinya. Rasa nyaman itu tidak bergantung pada orang lain. Ini tidak adil baginya atau Anda, dan kemungkinan besar dia tidak akan menyukai diri Anda yang sebenarnya ketika terungkap, dan itu akan terjadi. Dia mungkin hanya melihat Anda sebagai sasaran empuk atau permainan untuk meningkatkan egonya. Hasilnya? Seseorang, mungkin Anda berdua, akan berakhir terluka.
Jika kamu berada dalam cengkeraman patah hati karena putus cinta, kami memahami betapa menghancurkan dan memalukannya hal itu. Kita mendapati kemarahan, kesepian yang menyakitkan, dan keraguan. Mungkin kamu kuatir bahwa pria yang bersamamu sekarang bukan pria yang tepat untukmu. Jika kamu membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, salah satu mentor kami yang akan menjaga rahahasiamu ada di sini untukmu. Cukup isi formulir di bawah dan kamu akan segera dihubungi oleh seseorang dari tim kami.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Musim panas lalu, anak tiri tertua saya tertangkap dengan narkoba di Florida dan dipenjara. Kami akhirnya berbicara lewat telepon dan memiliki percakapan yang luar biasa. Kami berdua menangis, saling meminta maaf, dan ada proses penyembuhan yang sungguh nyata. Perjalanan kami sudah sangat panjang sejak pertama kali saya mengenalnya saat masih balita.
Itu adalah pagi bulan Februari yang cerah dan sejuk di tahun 1999. Seorang wanita cantik berambut pirang bersama dua putra kecilnya berambut gelap memasuki lobi gereja saya. Dalam hati saya langsung tahu, dialah wanita yang akan saya nikahi.
Caramel dan saya menikah pada bulan Desember di tahun yang sama. Kedua anaknya saat itu berusia 2 dan 4 tahun. Saya belum memiliki anak sendiri, tapi tak lama kemudian kami menambah anggota keluarga baru.
Ketika menikah, kami sangat optimis. Semuanya akan berjalan baik. Kami saling mencintai. Saya memiliki keyakinan kuat bahwa saya harus memperlakukan semua anak dengan adil. Bagi saya, kami semua adalah satu keluarga.
Namun tak butuh waktu lama sampai luka dari pernikahan pertamanya mulai muncul ke permukaan. Rutinitas normal bisa memicu ketakutan akan pengkhianatan dalam dirinya. Ia mengingat bagaimana di hari-hari saat mantan suaminya berencana bertemu dengan wanita lain, dia akan berpakaian rapi, mencukur, dan berusaha terlihat menarik. Jadi, ketika saya berdandan tiap pagi untuk pekerjaan pemerintah saya, kenangan menyakitkan dan keraguan kadang muncul dalam dirinya. Apakah saya juga akan mengkhianatinya?
Saya benar-benar tidak siap menghadapi badai emosional ini. Saya merasa terluka dan marah karena dia mengira saya mungkin berselingkuh. Saya pikir hal ini memengaruhi cara saya menjadi ayah tiri. Karena luka saya sendiri, saya kadang terlalu keras dalam menasihati atau menegur anak-anak. Saya berharap saya bisa mengelola emosi saya dengan lebih baik dan lebih membuka hati untuk memahami rasa sakit yang dialami istri saya dan anak-anak.
Akuisah istriku – Keluarga Campuran: Merawat yang Terluka
Ada kehilangan besar di sana. Sebagian besar dari jiwa mereka seperti terkoyak ketika keluarga mereka terpecah. Saya dan anak tiri tertua saya sering berkendara bersama, dan saya bisa merasakan ada banyak hal yang tersimpan di dalam dirinya – terutama rasa dikhianati oleh ayah kandungnya. Tapi sebagai ayah tiri, saya merasa itu bukan tempat saya untuk membantunya memproses itu semua.
Saya tahu saya tidak bisa menggantikan ayah mereka. Saya mencoba hadir dan membantu sebaik mungkin, tapi saya tahu saya tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan itu. Meski kami tertawa bersama, bergulat, dan bersenang-senang, itu tidak sama dengan jika mereka mendapatkannya dari ayah mereka sendiri. Sekarang saya paham betapa pentingnya membantu anak-anak tiri untuk tetap memiliki pengalaman-pengalaman itu dengan ayah biologis mereka, jika memungkinkan.
Pernah ada waktu di mana jelas terlihat bahwa ayahnya melatih dia untuk berkelahi dengan saya.
Selama beberapa tahun pertama, anak-anak pergi ke rumah ayah mereka setiap tiga akhir pekan. Saya selalu yang mengantar-jemput. Rasanya berat melepas mereka ketika kami tidak yakin bahwa kesejahteraan mereka menjadi prioritas di rumah satunya. Saya sering merasa curiga dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di sana. Misalnya, meskipun pengacara melarang, ayah mereka terus-menerus membujuk anak-anak untuk tinggal bersamanya.
Pernah suatu waktu mereka menelepon untuk mengubah lokasi penjemputan agar lebih mudah bagi mereka. Tapi setelah menyetir lebih dari enam jam dan terjebak macet karena rute baru, saya tiba terlambat dan mereka sudah pergi. “Kamu tidak datang,” kata mereka kemudian. Jadi saya kembali menempuh perjalanan enam jam dua hari kemudian, yang tidak mereka duga. Saya bertekad untuk tidak membiarkan mereka merusak pengaturan tempat tinggal yang telah disepakati.
Ketika Anda menjadi ayah tiri, sering kali Anda menjadi tantangan bagi ayah biologis – karena Anda melakukan hal-hal yang menurutnya seharusnya dia yang lakukan. Mereka bisa mulai melampiaskan kemarahan mereka kepada Anda. Pernah benar-benar terlihat jelas bahwa ayahnya melatih dia untuk memulai pertengkaran fisik dengan saya. Itu sangat tidak sesuai dengan karakter anak tiri saya. Dari sudut pandang saya, rasanya seperti dia memanfaatkan kerentanan dan kesetiaan anaknya sendiri.
Ketika akhirnya anak-anak pindah tinggal bersama ayah mereka di usia remaja akhir, mereka mulai terlibat dalam narkoba dan perilaku merusak lainnya. Saya tahu ayah mereka berbohong kepada saya tentang beberapa hal. Rasanya sangat sulit untuk tidak menyimpan dendam dan amarah dalam hati. Satu-satunya hal yang membantu adalah melepaskannya lewat doa, bahkan mendoakan ayah mereka. Sulit membenci seseorang yang saya doakan. Saya tidak ingin kemarahan saya kepadanya merusak jiwa dan keluarga saya sendiri.
Sekarang hubungan saya dengan anak-anak tiri sudah jauh lebih baik. Ada penyembuhan yang signifikan. Tapi masih ada waktu di mana saya menjadi sasaran kemarahan dan luka mereka. Saya paham akan hal itu, jadi saya tidak berjalan dengan rasa kasihan terhadap diri sendiri atau berpikir bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi. Itu akan terjadi lagi; saya perlu menerima bagaimana perjalanan hidup mereka berlangsung.
Menjadi lalai akan jauh lebih mudah, terutama secara emosional, tetapi cinta saya kepada anak-anak tidak mengizinkan itu.
Saya berharap bisa mengulang beberapa hari dalam hidup saya. Saya berharap bisa menarik kembali beberapa sikap dan pendekatan saya. Mungkin saya seharusnya lebih santai dan tidak terlalu curiga. Tapi saya memiliki semangat dan kepedulian yang besar untuk anak-anak, dan saya masih punya sampai sekarang. Menjadi lalai akan jauh lebih mudah, terutama secara emosional, tetapi cinta saya kepada anak-anak tidak mengizinkan itu. Di sisi lain, terlibat terlalu dalam membuat saya kadang terlalu mengatur dan berusaha mengontrol semuanya. Saya kadang terlalu memaksakan pendapat saya pada Caramel dan anak-anak daripada menghormati keputusan mereka.
Saya sadar betapa pentingnya memanfaatkan sumber daya sebagai keluarga untuk menavigasi segala emosi, luka, dan kebingungan. Seorang pihak luar yang netral bisa sangat membantu untuk memilah segala sesuatunya agar kita membuat keputusan yang tidak akan disesali di masa depan. Jika Anda merasa tidak cukup baik sebagai ayah tiri, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Ini pekerjaan yang luar biasa sulit dan sering kali terasa mustahil. Jika Anda meninggalkan informasi Anda di bawah, salah satu mentor kami yang gratis dan rahasia akan menghubungi Anda untuk memberikan dorongan dan dukungan.
Baca perspektif istriku tentang keluarga campuran kami.
(https://issuesiface.com/blended-family)
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
- * CAHAYA, KEKACAUAN DAN TINDAKAN.**
Di ulang tahun pertama, sudah tiga kali saya divonis sebagai anak yang memiliki keterlambatan perkembangan yang pervasif. Saat itu saya belum bisa berjalan ataupun berbicara – kenyataannya, saya baru dapat berbicara di usia empat tahun dengan ‘terapis’ seorang anak umur tiga tahun. Akan tetapi saya sangat jenius dalam menyusun puzzle potongan gambar, dan saya lebih suka menyusun mainan saya seperti barisan daripada memainkannya. Hal ini memberi petunjuk pada Ibu saya bahwa kemungkinan besar saya menderita autis.
Saat pertama masuk sekolah, dokter anak mendiagnosa saya sebagai anak yang memiliki sindrom asperger. Sewaktu saya SMP dan SMA diagnosa itu berubah menjadi keterlambatan perkembangan yang pervasif (gangguan perkembangan) – tidak spesifik. Saat ini, diagnosa resminya saya mengidap autism spectrum disorder (ASD). Di sekolah guru-guru tidak memahami cara ‘berkomunikasi’ dengan seorang anak autis, sehingga mereka tidak dapat menyampaikan dengan jelas apa yang mereka mau dari saya. Hampir semua guru menyalahkan saya dan Ibu saya karna menurut mereka saya tidak dapat mengikuti instruksi yang mereka berikan. Padahal sebetulnya saya tidak bermaksud untuk tidak taat, saya benar-benar tertekan karna tidak dapat mengerti apa yang mereka maksudkan.
Ini yang perlu anda ketahui tentang kekhasan autis saya. Saat memasuki sebuah ruangan, saya akan mulai mengumpulkan semua hal-hal kecil yang ada disekeliling saya, mulai dari suara, cahaya dan juga warna. Saya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk menstimulus kerja otak saya agar dapat mengartikan segala sesuatunya. Jadi, di usia yang lebih muda, saya seringkali merasa terpesona dengan keadaan yang tidak biasa, dan reaksi saya bisa menjadi bahan perhatian orang atau bisa juga membuat saya menutup diri dari dunia sekeliling, hal itu saya lakukan hanya karena ada hal baru yang saya lihat atau dengar. Saya seperti hidup ditengah badai pasir tanpa petunjuk sama sekali tentang apa yang ada di sekeliling saya.
Hal lainnya yang menyusahkan saya adalah memilih kata-kata atau bahasa tubuh yang tepat untuk menginterpretasikan kiasan atau maksud yang tersembunyi. Jalan pikiran saya benar-benar apa adanya. Saya harus banyak belajar untuk dapat berpikir praktis, tapi sekarang saya sudah lebih baik dalam hal ini, meskipun saya harus memikirkan baik-baik tentang apa yang saya katakan atau lakukan bahkan sampai detik pelaksanaannya. Sangat menakutkan bagi saya bila saya tidak tahu bagaimana nantinya reaksi orang atau apa pendapat mereka tentang saya. Tambahan lagi, di usia yang lebih muda, saya tidak mampu untuk menghubungkan konsekwensi dari perbuatan saya dan akibatnya nanti.
Saat orang lain merasa tahu tentang kemampuan saya, saya sendiri merasa seperti dimasukkan dalam sebuah kotak, dan saya tidak menjadi diri saya sendiri.
Di usia dua tahun saya dimasukkan dalam Ritalin (tempat khusus untuk menstimulasi kemampuan anak), saat itu saya merasa seperti ada gajah duduk di atas saya dan menekan seluruh emosi saya. Saya harus melewati masa-masa itu sampai kelas 3 SD. Untungnya guru saya waktu itu merasa kalau saya adalah anak yang cukup penurut dan hampir selalu dapat dikendalikan. Sayangnya saat itu saya justru kehilangan kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang saya butuhkan.
Selama duduk di bangku SD saya selalu menjadi obyek yang terus menerus diganggu oleh teman-teman. Saya berusaha untuk dapat bermain dengan mereka, akan tetapi saya tidak mengerti mengapa mereka memperlakukan saya dengan buruk. Saya menerima begitu saja perlakuan mereka yang melecehkan saya hanya agar saya tetap dapat bermain dengan mereka. Satu saat waktu jam istirahat sekolah saya bahkan pernah ditendang. Waktu SMP, teman-teman sekelas mulai mengacuhkan saya, yang sebetulnya satu tingkat lebih buruk daripada dilecehkan. Di tingkat SMA, saya mulai mendapatkan teman. Saya mencari anak-anak yang keliatan menyendiri, karna saya pikir mungkin mereka memiliki perasaan yang sama dengan saya.
Saya selalu merasa bahwa saya berbeda dengan orang lain. Saya berpikir, mungkin di luar sana banyak orang yang merasa seperti saya, bahwa hidupnya berbenturan dengan norma yang ada pada umumnya. Saya seringkali tidak mengerti mengapa saya berbeda, apa yang saya lakukan yang membuat saya berbeda – saya masih tidak dapat memahaminya. Dalam pikiran saya, apa yang saya lakukan atau pikirkan rasanya normal-normal saja.
Seringkali orang berpikir bahwa mereka tahu apa yang dapat saya lakukan hanya karna mereka mengenal orang lain yang juga autis. Akan tetapi salah satu hal yang paling menarik tentang autis adalah, setiap penderita akan menunjukkan kemampuan yang berbeda. Apabila saya dapat berperilaku atau berpikir dengan cara saya saat ini, tidak berarti kemampuan yang sama juga dimiliki oleh penderita autis yang lainnya.
Jadi, saat ada orang yang mengira bahwa dia tahu kemampuan saya, saya merasa seperti sedang dimasukkan dalam sebuah kotak, dan saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya merasa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak nyaman untuk dilakukan, dan dengan begitu mereka seperti tidak menghargai kemampuan saya. Seringkali saya berharap agar orang-orang dapat menerima saya apa adanya.
Benar sekali, sepanjang hidup saya mengalami banyak tekanan, tantangan, dan hal-hal yang sulit untuk dilalui, akan tetapi lewat setiap perjuangan, saya dibentuk menjadi sebagaimana saya saat ini. Saya sekarang adalah saya yang terbentuk karna masa-masa sulit yang sudah saya lewati. Saya merasa bangga dengan pencapaian saya: mampu berbicara di depan orang banyak, dapat menghadapi tantangan yang menakutkan, berhasil mengatasi berbagai kendala, dan saat ini saya jauh lebih fleksibel dari saya yang dulu.
Saya tidak akan dapat melangkah sejauh ini tanpa adanya orang-orang yang mendukung saya. Yang terutama dari semuanya adalah Ibu saya, beliau adalah seorang yang kuat dan tidak pernah berhenti untuk menyemangati saya agar saya dapat melakukan yang terbaik dan tidak pernah menyerah.
Tidak ada dua penderita autis yang sama persis. Akan tetapi apabila kebetulan anda mengalami hal yang sama seperti yang pernah saya alami, anda tidak sendiri. Salah seorang dari tim kami akan siap untuk mendengarkan kisah anda. Apabila anda bersedia untuk mengisi formulir di bawah ini kami akan segera menghubungi anda.
Anda tidak perlu menghadapi masalah ini sendiri. Isilah formulir di bawah ini dan salah seorang mentor kami akan segera meresponinya. Ini bersifat rahasia dan tanpa dipungut biaya.
Para mentor kami bukanlah praktisi konselor, mereka adalah orang-orang biasa yang memiliki kerinduan untuk turut mengiringi perjalanan hidup orang lain dengan dasar kasih dan penghargaan.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Sebelum ulang tahunku yang pertama, aku sudah tiga kali menjalani asesmen untuk keterlambatan perkembangan. Aku belum bisa berjalan atau bicara — bahkan aku baru mulai berbicara saat berusia empat tahun, meskipun sudah menjalani terapi wicara selama tiga tahun. Tapi aku sangat jago dalam menyusun puzzle, dan aku lebih suka menyusun mainanku berbaris-baris daripada memainkannya. Hal ini membuat ibuku curiga kalau aku mungkin punya autisme.
Saat aku mulai bersekolah, psikiater anakku mendiagnosisku dengan sindrom Asperger. Saat SMP dan SMA, diagnosisku berubah menjadi pervasive developmental delay – not otherwise specified. Sekarang, diagnosis resmiku adalah autism spectrum disorder (gangguan spektrum autisme).
Saat aku masih sekolah, guru-guru tidak benar-benar memahami autisme fungsi tinggi, dan mereka tidak bisa menjelaskan secara jelas apa yang mereka harapkan dariku. Kebanyakan dari mereka menyalahkan aku dan orang tuaku atas perilakuku dan ketidakmampuanku mengikuti instruksi. Padahal aku tidak bermaksud untuk berperilaku buruk; aku hanya sangat stres.
Inilah yang perlu kamu ketahui tentang “keanehan” autistikku. Setiap kali aku masuk ke sebuah ruangan, otakku langsung menangkap semua informasi kecil di sekitarku: suara, cahaya, warna. Butuh waktu lama bagiku untuk bisa terbiasa dengan banyaknya stimulus yang otakku proses setiap saat. Jadi, saat aku masih kecil, aku sering kewalahan saat menghadapi situasi baru dan kemudian panik atau secara fisik benar-benar shut down karena terlalu banyak yang kulihat dan kudengar. Rasanya seperti berada di tengah badai pasir — semuanya berkelebat tanpa pola atau makna.
Hal lain yang juga sulit bagiku adalah menangkap isyarat verbal atau bahasa tubuh serta menafsirkan petunjuk dan metafora yang halus. Otakku sangat literal. Aku harus belajar “akal sehat” sendiri: sekarang aku lebih baik dalam hal ini, meski sejak dulu aku selalu terlalu memikirkan segala sesuatu yang kukatakan atau kulakukan, sampai detail terkecil. Aku takut saat tidak tahu bagaimana orang akan bereaksi atau apa yang mereka pikirkan tentangku. Selain itu, dulu aku juga tidak bisa menghubungkan konsekuensi dengan perilaku masa lalu atau masa depan.
Saat orang mengira mereka tahu apa yang bisa kulakukan, aku merasa dikurung dalam sebuah kotak, dan aku tidak merasa menjadi diriku sendiri.
Aku diberi obat Ritalin saat berusia 2 tahun, dan rasanya seperti ada gajah duduk di atas tubuhku, menekan semua emosiku. Aku mengonsumsinya hingga kelas 3 SD. Hal baiknya, aku jadi anak yang tenang dan mudah dihadapi oleh guru. Tapi sisi buruknya, aku jadi kehilangan banyak kesempatan belajar.
Selama sekolah dasar, aku sering diganggu, diejek, dan di-bully. Aku tetap bermain dengan anak-anak lain, tapi aku tidak mengerti kenapa mereka memperlakukanku seperti itu. Aku menoleransi banyak perlakuan buruk hanya supaya mereka mau mengajakku bermain. Aku bahkan pernah ditendang saat istirahat.
Saat SMP, teman-temanku mulai mengabaikanku — dan bagiku itu sudah lebih baik dibanding di-bully. Saat SMA, aku akhirnya bisa mendapatkan beberapa teman. Aku sering mendekati orang-orang yang menyendiri, karena kupikir mereka mungkin merasa seperti aku juga.
Aku selalu merasa berbeda dari orang lain. Aku yakin banyak orang seperti aku yang merasa tidak cocok dengan norma. Aku tidak selalu tahu kenapa aku berbeda, atau apa yang kulakukan yang membuatku berbeda — bahkan kadang aku masih tidak menyadarinya. Bagiku, apa yang kulakukan dan kupikirkan terasa normal.
Sering kali orang merasa mereka mengerti kemampuan seseorang hanya karena mereka mengenal orang lain dengan autisme. Tapi salah satu hal paling menarik dari autisme adalah bahwa gejalanya muncul berbeda pada setiap orang; hanya karena aku berpikir atau bertindak dengan cara tertentu, bukan berarti orang lain dengan autisme akan bertindak serupa.
Jadi ketika orang mengira mereka tahu batas kemampuanku, aku merasa terkurung dalam kotak, dan kehilangan rasa sebagai individu. Aku merasa dipaksa melakukan hal-hal yang tidak nyaman untukku, atau diremehkan kemampuannya. Kadang aku berharap orang-orang bisa menerimaku apa adanya.
Ya, aku mengalami stres, tantangan, dan kesulitan sepanjang hidupku. Tapi setiap perjuangan itu membawaku lebih dekat pada diriku yang sekarang. Aku adalah aku karena semua hal itu. Aku bangga dengan pencapaianku: aku bisa berbicara di depan orang, menghadapi tantangan yang menakutkanku, melewati rintangan, dan aku jauh lebih fleksibel dibanding dulu.
Tanpa orang-orang yang telah mendukung dan membantuku selama perjalanan ini, aku tak akan bisa sampai sejauh ini. Terutama ibuku, yang selalu kuat dan mendorongku untuk melakukan yang terbaik dan tidak menyerah.
Tidak ada dua orang dengan autisme yang sama persis. Tapi jika kamu juga berada dalam spektrum, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Seseorang dari tim kami dengan senang hati ingin mendengarkan ceritamu. Gunakan formulir di bawah ini, dan kamu akan segera mendengar kabar dari kami.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Saat aku berusia 17 tahun, olahraga adalah seluruh hidupku. Aku bermain ski, softball, voli, basket, sepak bola, dan hampir semua jenis olahraga yang bisa kamu bayangkan. Jadi ketika lututku mulai membengkak, dokter tentu saja mengira itu karena cedera olahraga. Baru saat operasi, mereka menemukan bahwa penyebabnya adalah radang sendi.
Rheumatoid arthritis adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sendiri persendiannya. Ini menyebabkan peradangan yang sangat menyakitkan dan intens, yang lama-lama bisa mengikis tulang, menyebabkan deformitas sendi, dan bahkan merusak organ. Tapi saat aku berusia 17, aku sama sekali tidak tahu semua itu. Para ahli bilang bahwa rheumatoid arthritis bisa diturunkan dari orang tua; aku selalu bercanda ke ibuku bahwa lain kali dia ingin memberiku sesuatu, aku lebih memilih uang saja.
Waktu dokter mengatakan aku mengidap arthritis, aku bahkan belum pernah mendengar bahwa anak muda bisa kena penyakit itu. Kukira itu hanya dialami oleh orang-orang seumuran kakek nenekku. Aku tidak benar-benar memahami bagaimana penyakit ini akan menghancurkan tubuhku perlahan-lahan. Bagiku, arthritis saat itu hanya sekadar rasa sakit menyebalkan yang tak kunjung hilang. Dan karena progresinya yang bertahap, tubuhku tidak langsung lumpuh seketika. Lututku duluan yang kena, lalu saat flare-up berikutnya, mungkin tulang rusuk atau siku. Aku tidak langsung kehilangan gerakan di jari tangan, kaki, bahu, siku, tulang belakang, rahang, dan lutut. Semuanya berjalan perlahan — progresi menyakitkan menuju ketidakmampuan bergerak.
Gejalaku masuk ke tiga persen terparah. Dan saat aku pertama kali didiagnosis 33 tahun lalu, pilihan pengobatannya sangat terbatas. Sekarang, sudah ada banyak obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini. Salah satu penyesalan terbesarku adalah tidak mendengarkan nasihat seorang guru SMP-ku; dia juga didiagnosis arthritis sekitar waktu yang sama denganku dan terus menyarankan aku untuk ikut uji coba obat baru. Aku pernah ikut uji coba sebelumnya, dan aku sudah lelah dengan kerepotannya. Tapi kalau aku ikut uji coba itu, arthritis-ku mungkin tidak akan separah sekarang.
Banyak orang mengira aku tidak bisa melakukan hal-hal tertentu. Mereka melihatku seolah aku tak berdaya, seolah aku tidak bisa melakukan apa pun sendirian.
Hal-hal sehari-hari yang orang lakukan tanpa berpikir panjang — seperti mencuci rambut, minum dari gelas, meniup hidung, memotong makanan, dan memakai make-up — semuanya butuh usaha lebih besar bagiku. Aku tetap bisa melakukannya, tapi aku memakai alat bantu khusus. Mungkin tantangan fisik terbesarku adalah tinggal di Kanada bagian utara, di mana menjaga harga diri saat berjalan di atas es saja sudah sulit, apalagi buat orang sepertiku.
Walau tubuhku tidak berfungsi seperti yang kuinginkan, dan meskipun aku sering mengalami nyeri luar biasa, mungkin tantangan terbesar justru datang dari bagaimana orang lain memperlakukan dan memandangku. Banyak yang mengira aku tidak bisa melakukan hal-hal tertentu. Mereka memandangku seperti aku tidak bisa apa-apa. Mereka tidak sadar bahwa aku bisa melakukan banyak hal, bahwa aku ingin melakukan banyak hal, dan bahwa aku tidak malu meminta bantuan saat aku memang membutuhkannya. Dalam niat yang katanya baik, aku pernah direbut tas dari tanganku, bahkan pernah secara fisik diangkat dan dibawa begitu saja (karena tubuhku kecil, ini kadang terjadi), teman dan keluargaku pernah dimarahi karena membiarkanku membawa barang sendirian. Kadang, ketika orang tidak memahami batas kemampuanku, mereka malah cenderung terlalu membantu.
Hidup dengan disabilitas fisik memengaruhi semua aspek kehidupanku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku tidak punya dukungan. Punya dukungan dalam hidup itu sangat penting, dan terkadang, sekadar membicarakan apa yang kamu alami saja sudah sangat membantu. Kalau kamu hidup dengan arthritis atau kondisi disabilitas fisik lainnya dan ingin berbagi cerita, tinggalkan informasi kontakmu di bawah. Tim kami dengan senang hati akan mendengarkan. Karena kamu tidak sendirian.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Aku punya anjing yang sangat, sangat cemas. Setiap pagi, dia mondar-mandir saat aku bersiap-siap untuk bekerja. Dia tahu apa yang akan terjadi: aku akan pergi, dan dia akan sendirian di rumah. Dia gelisah mengikuti aku ke mana pun aku pergi. Setiap kali kutinggalkan, dia menangis, merengek, menggonggong sambil menyelinap ketakutan — dia benar-benar lumpuh dan tak berdaya. Kecemasannya sepenuhnya menguasainya.
Hal yang lucu/sedih/menyeramkan adalah… aku rasa anjingku mendapat kecemasannya dariku. Aku pun pernah mengalami saat-saat melumpuhkan seperti itu. Aku pernah merasakan rasa nyeri yang tajam di dada, sensasi kesemutan yang aneh sampai aku yakin bahwa jantungku benar-benar meledak, atau aku sedang sekarat karena serangan jantung. Bahkan saat menulis ini, rasanya seperti ada beban yang makin lama makin berat di dadaku. Aku merasa seperti sedang tercekik, tenggelam, dan pingsan — semua sekaligus.
Sejak aku kecil, aku sudah sering khawatir soal hal-hal kecil seperti apa yang akan kumakan untuk makan siang dan apakah aku punya cukup uang untuk beli camilan, kalau-kalau nanti butuh. Banyak waktu istirahatku kuhabiskan di telepon umum, menelepon ibuku agar dia bisa meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, kecemasanku sempat mereda. Aku hanya khawatir soal hal-hal umum — nilai bagus, kerja paruh waktu, dan harapan punya pasangan suatu hari nanti.
Namun ketika ibuku didiagnosis menderita penyakit terminal, segalanya berubah. Sejak saat itu hingga hari ini, kecemasanku kembali. Aku mulai terus-menerus takut pada hal-hal yang tak bisa kulihat atau kukendalikan:
- Aku takut bahwa cepat atau lambat, aku atau anggota keluargaku akan meninggal karena kanker.
- Aku cemas tetanggaku akan kembali mengeluh soal anjingku yang terlalu cemas dan menggonggong terus.
- Aku takut datang ke reuni SMA dan merasa gagal di antara teman yang jadi pengacara, dokter, atau yang sudah sukses bangun bisnis.
- Aku takut semua kehamilanku akan berujung keguguran – padahal aku belum pernah hamil.
Daftarnya terus berlanjut. Aku takut mengecewakan orang lain, jadi aku sering kali menghindari risiko. Aku juga sering menolak undangan ke acara sosial karena aku cemas saat berada di antara banyak orang. Sayangnya, aku punya kecenderungan langsung membayangkan skenario terburuk. Dalam pikiranku, aku sudah divonis sakit parah, dipenjara, dipecat, bercerai, dan dikubur. Kadang pikiranku adalah tempat yang sangat menakutkan.
Kecemasanku bisa muncul kapan saja — dan tak pernah pada waktu yang tepat. Suatu kali, aku begitu takut menghadiri rapat dengan atasan sampai aku kehabisan napas dan tak bisa merangkai satu kalimat pun. Saat aku sendirian di rumah dan mulai panik, pikiranku langsung membayangkan aku akan kena serangan jantung dan mati sendirian. Saat aku sedang di bioskop dan ponselku bergetar, pikiranku langsung melompat pada pikiran buruk — aku merencanakan bagaimana caranya keluar dari bioskop sambil menangis tanpa menimbulkan keributan.
Aku punya kecenderungan untuk langsung membayangkan skenario terburuk. Dalam pikiranku, aku sudah divonis sakit parah, dipenjara, dipecat, bercerai, dan dikubur.
Aku pernah baca satu kutipan: “Kalau kamu selalu mengharapkan kekecewaan, kamu tidak akan pernah kecewa!” Dalam banyak situasi, aku terbiasa mengantisipasi hal terburuk. Uniknya, aku menikah dengan seseorang yang spontan dan sangat santai. Bisa kamu bayangkan bagaimana aku langsung membeku saat dia menerima undangan sosial tanpa berdiskusi denganku lebih dulu. Sejujurnya, aku selalu kagum dengan keberaniannya — dengan kemauannya mencoba hal baru, bahkan yang menyeramkan sekalipun. Sering kali aku datang padanya sambil menangis, menanyakan bagaimana caranya agar semua ini tidak terus-menerus melumpuhkanku. Dia justru berkembang di situasi di mana ia tahu ia bebas untuk gagal. Sementara aku… aku langsung panik hanya dengan membayangkannya.
Kalau kamu merasa hidup di dunia penuh “bagaimana kalau…” dan merasa terjebak tanpa jalan keluar, ceritakanlah pada kami. Kecemasan bisa terasa seperti bayangan gelap yang mengikuti ke mana pun kamu pergi, bahkan di dalam ruang yang juga sudah gelap. Rasanya seperti tidak ada jalan keluar — tapi kamu tidak harus menghadapi semua ini sendirian. Tinggalkan informasi kontakmu di bawah, dan seseorang dari tim kami akan segera menghubungimu.