by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Saat aku berusia 17 tahun, olahraga adalah seluruh hidupku. Aku bermain ski, softball, voli, basket, sepak bola, dan hampir semua jenis olahraga yang bisa kamu bayangkan. Jadi ketika lututku mulai membengkak, dokter tentu saja mengira itu karena cedera olahraga. Baru saat operasi, mereka menemukan bahwa penyebabnya adalah radang sendi.
Rheumatoid arthritis adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sendiri persendiannya. Ini menyebabkan peradangan yang sangat menyakitkan dan intens, yang lama-lama bisa mengikis tulang, menyebabkan deformitas sendi, dan bahkan merusak organ. Tapi saat aku berusia 17, aku sama sekali tidak tahu semua itu. Para ahli bilang bahwa rheumatoid arthritis bisa diturunkan dari orang tua; aku selalu bercanda ke ibuku bahwa lain kali dia ingin memberiku sesuatu, aku lebih memilih uang saja.
Waktu dokter mengatakan aku mengidap arthritis, aku bahkan belum pernah mendengar bahwa anak muda bisa kena penyakit itu. Kukira itu hanya dialami oleh orang-orang seumuran kakek nenekku. Aku tidak benar-benar memahami bagaimana penyakit ini akan menghancurkan tubuhku perlahan-lahan. Bagiku, arthritis saat itu hanya sekadar rasa sakit menyebalkan yang tak kunjung hilang. Dan karena progresinya yang bertahap, tubuhku tidak langsung lumpuh seketika. Lututku duluan yang kena, lalu saat flare-up berikutnya, mungkin tulang rusuk atau siku. Aku tidak langsung kehilangan gerakan di jari tangan, kaki, bahu, siku, tulang belakang, rahang, dan lutut. Semuanya berjalan perlahan — progresi menyakitkan menuju ketidakmampuan bergerak.
Gejalaku masuk ke tiga persen terparah. Dan saat aku pertama kali didiagnosis 33 tahun lalu, pilihan pengobatannya sangat terbatas. Sekarang, sudah ada banyak obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini. Salah satu penyesalan terbesarku adalah tidak mendengarkan nasihat seorang guru SMP-ku; dia juga didiagnosis arthritis sekitar waktu yang sama denganku dan terus menyarankan aku untuk ikut uji coba obat baru. Aku pernah ikut uji coba sebelumnya, dan aku sudah lelah dengan kerepotannya. Tapi kalau aku ikut uji coba itu, arthritis-ku mungkin tidak akan separah sekarang.
Banyak orang mengira aku tidak bisa melakukan hal-hal tertentu. Mereka melihatku seolah aku tak berdaya, seolah aku tidak bisa melakukan apa pun sendirian.
Hal-hal sehari-hari yang orang lakukan tanpa berpikir panjang — seperti mencuci rambut, minum dari gelas, meniup hidung, memotong makanan, dan memakai make-up — semuanya butuh usaha lebih besar bagiku. Aku tetap bisa melakukannya, tapi aku memakai alat bantu khusus. Mungkin tantangan fisik terbesarku adalah tinggal di Kanada bagian utara, di mana menjaga harga diri saat berjalan di atas es saja sudah sulit, apalagi buat orang sepertiku.
Walau tubuhku tidak berfungsi seperti yang kuinginkan, dan meskipun aku sering mengalami nyeri luar biasa, mungkin tantangan terbesar justru datang dari bagaimana orang lain memperlakukan dan memandangku. Banyak yang mengira aku tidak bisa melakukan hal-hal tertentu. Mereka memandangku seperti aku tidak bisa apa-apa. Mereka tidak sadar bahwa aku bisa melakukan banyak hal, bahwa aku ingin melakukan banyak hal, dan bahwa aku tidak malu meminta bantuan saat aku memang membutuhkannya. Dalam niat yang katanya baik, aku pernah direbut tas dari tanganku, bahkan pernah secara fisik diangkat dan dibawa begitu saja (karena tubuhku kecil, ini kadang terjadi), teman dan keluargaku pernah dimarahi karena membiarkanku membawa barang sendirian. Kadang, ketika orang tidak memahami batas kemampuanku, mereka malah cenderung terlalu membantu.
Hidup dengan disabilitas fisik memengaruhi semua aspek kehidupanku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku tidak punya dukungan. Punya dukungan dalam hidup itu sangat penting, dan terkadang, sekadar membicarakan apa yang kamu alami saja sudah sangat membantu. Kalau kamu hidup dengan arthritis atau kondisi disabilitas fisik lainnya dan ingin berbagi cerita, tinggalkan informasi kontakmu di bawah. Tim kami dengan senang hati akan mendengarkan. Karena kamu tidak sendirian.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Aku punya anjing yang sangat, sangat cemas. Setiap pagi, dia mondar-mandir saat aku bersiap-siap untuk bekerja. Dia tahu apa yang akan terjadi: aku akan pergi, dan dia akan sendirian di rumah. Dia gelisah mengikuti aku ke mana pun aku pergi. Setiap kali kutinggalkan, dia menangis, merengek, menggonggong sambil menyelinap ketakutan — dia benar-benar lumpuh dan tak berdaya. Kecemasannya sepenuhnya menguasainya.
Hal yang lucu/sedih/menyeramkan adalah… aku rasa anjingku mendapat kecemasannya dariku. Aku pun pernah mengalami saat-saat melumpuhkan seperti itu. Aku pernah merasakan rasa nyeri yang tajam di dada, sensasi kesemutan yang aneh sampai aku yakin bahwa jantungku benar-benar meledak, atau aku sedang sekarat karena serangan jantung. Bahkan saat menulis ini, rasanya seperti ada beban yang makin lama makin berat di dadaku. Aku merasa seperti sedang tercekik, tenggelam, dan pingsan — semua sekaligus.
Sejak aku kecil, aku sudah sering khawatir soal hal-hal kecil seperti apa yang akan kumakan untuk makan siang dan apakah aku punya cukup uang untuk beli camilan, kalau-kalau nanti butuh. Banyak waktu istirahatku kuhabiskan di telepon umum, menelepon ibuku agar dia bisa meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, kecemasanku sempat mereda. Aku hanya khawatir soal hal-hal umum — nilai bagus, kerja paruh waktu, dan harapan punya pasangan suatu hari nanti.
Namun ketika ibuku didiagnosis menderita penyakit terminal, segalanya berubah. Sejak saat itu hingga hari ini, kecemasanku kembali. Aku mulai terus-menerus takut pada hal-hal yang tak bisa kulihat atau kukendalikan:
- Aku takut bahwa cepat atau lambat, aku atau anggota keluargaku akan meninggal karena kanker.
- Aku cemas tetanggaku akan kembali mengeluh soal anjingku yang terlalu cemas dan menggonggong terus.
- Aku takut datang ke reuni SMA dan merasa gagal di antara teman yang jadi pengacara, dokter, atau yang sudah sukses bangun bisnis.
- Aku takut semua kehamilanku akan berujung keguguran – padahal aku belum pernah hamil.
Daftarnya terus berlanjut. Aku takut mengecewakan orang lain, jadi aku sering kali menghindari risiko. Aku juga sering menolak undangan ke acara sosial karena aku cemas saat berada di antara banyak orang. Sayangnya, aku punya kecenderungan langsung membayangkan skenario terburuk. Dalam pikiranku, aku sudah divonis sakit parah, dipenjara, dipecat, bercerai, dan dikubur. Kadang pikiranku adalah tempat yang sangat menakutkan.
Kecemasanku bisa muncul kapan saja — dan tak pernah pada waktu yang tepat. Suatu kali, aku begitu takut menghadiri rapat dengan atasan sampai aku kehabisan napas dan tak bisa merangkai satu kalimat pun. Saat aku sendirian di rumah dan mulai panik, pikiranku langsung membayangkan aku akan kena serangan jantung dan mati sendirian. Saat aku sedang di bioskop dan ponselku bergetar, pikiranku langsung melompat pada pikiran buruk — aku merencanakan bagaimana caranya keluar dari bioskop sambil menangis tanpa menimbulkan keributan.
Aku punya kecenderungan untuk langsung membayangkan skenario terburuk. Dalam pikiranku, aku sudah divonis sakit parah, dipenjara, dipecat, bercerai, dan dikubur.
Aku pernah baca satu kutipan: “Kalau kamu selalu mengharapkan kekecewaan, kamu tidak akan pernah kecewa!” Dalam banyak situasi, aku terbiasa mengantisipasi hal terburuk. Uniknya, aku menikah dengan seseorang yang spontan dan sangat santai. Bisa kamu bayangkan bagaimana aku langsung membeku saat dia menerima undangan sosial tanpa berdiskusi denganku lebih dulu. Sejujurnya, aku selalu kagum dengan keberaniannya — dengan kemauannya mencoba hal baru, bahkan yang menyeramkan sekalipun. Sering kali aku datang padanya sambil menangis, menanyakan bagaimana caranya agar semua ini tidak terus-menerus melumpuhkanku. Dia justru berkembang di situasi di mana ia tahu ia bebas untuk gagal. Sementara aku… aku langsung panik hanya dengan membayangkannya.
Kalau kamu merasa hidup di dunia penuh “bagaimana kalau…” dan merasa terjebak tanpa jalan keluar, ceritakanlah pada kami. Kecemasan bisa terasa seperti bayangan gelap yang mengikuti ke mana pun kamu pergi, bahkan di dalam ruang yang juga sudah gelap. Rasanya seperti tidak ada jalan keluar — tapi kamu tidak harus menghadapi semua ini sendirian. Tinggalkan informasi kontakmu di bawah, dan seseorang dari tim kami akan segera menghubungimu.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Pernahkah kamu merasa ingin menurunkan lima pon (sekitar dua kilogram)? Aku pernah — dan ternyata itu menjadi awal dari diet selama 15 tahun yang nyaris merenggut nyawaku.
Saat aku masih praremaja, aku mengalami perundungan yang parah, adik laki-lakiku meninggal, dan aku mengalami pelecehan seksual. Semua itu membuatku merasa sangat tidak aman terhadap diriku sendiri. Aku takut berbicara dengan orang tuaku. Aku takut membuat mereka sedih, jadi aku membenarkan sikap diamku — toh, rasanya tidak separah itu.
Dalam kondisi rentan ini, aku bertanya pada seorang laki-laki yang terkenal agak kasar apakah dia dengan jujur bisa bilang kalau aku perlu menurunkan berat badan. Dia berkata, “Beberapa pon saja akan membantu.” Itu jadi pemicu yang kubutuhkan. Keesokan harinya, aku mulai diet.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kehilangan lima pon, dan itu membuatku merasa sangat baik. Aku pikir, kalau lima pon saja bisa memberikan dampak sebesar ini, lima pon berikutnya pasti lebih baik lagi. Saat berat badanku terus turun, aku mulai mendapatkan popularitas, teman, dan pacar — semua yang selama ini aku dambakan.
Aku mulai menyamakan cinta dengan menjadi kurus.
Aku menjadi terobsesi dengan kesempurnaan, dan tidak berani mendapatkan nilai selain A. Aku berolahraga setiap hari: berlari sejauh 10 mil, melakukan hingga 1.000 sit-up, dan aerobik untuk membakar setiap kalori yang masuk. Setelah enam bulan, aku mulai mengalami pusing yang parah dan harus ke dokter. Ketika dia bilang aku mengidap anoreksia nervosa, aku berpikir, “Bagaimana mungkin seseorang dengan berat 105 pon bisa punya gangguan makan?” Orang-orang yang mendengar diagnosis itu pun bertanya hal yang sama. Bahkan ada yang bilang aku tidak terlihat seperti pengidap anoreksia. Jadi aku memutuskan untuk berusaha lebih keras — menjadi anoreksik yang sempurna.
Selama 15 tahun berikutnya, aku terus berjuang dan nyaris meninggal dua kali. Selama waktu itu, aku berada di bawah pengawasan medis dan ikut terapi secara intensif.
Namun dari luar, aku tetap berusaha keras agar terlihat seolah semuanya baik-baik saja.
Titik terendahku terjadi saat aku dirawat di rumah sakit untuk kedua kalinya. Jantungku berdebar tak beraturan dan tubuhku sangat dehidrasi. Aku berada di ambang kematian. Untuk memberi nutrisi ke tubuhku yang tinggal 37 kilogram, aku dipaksa makan 3.000 kalori per hari lewat selang langsung ke lambung. Tapi aku diam-diam membuang isi selang ke tempat sampah di bawah tempat tidur dan terus berolahraga secara diam-diam kapan pun aku bisa.
Tapi di ranjang rumah sakit itulah segalanya mulai berubah. Aku sendirian, berhadapan langsung dengan diriku sendiri. Aku mulai menuliskan daftar kebohongan yang selama ini aku percayai, lalu menuliskan kebenaran yang sebenarnya aku tahu di dalam hati. Saat menulis, aku mulai merindukan kemampuan untuk percaya pada kebenaran itu. Setelah itu, melalui terapi mendalam, bantuan medis, dan doa serta kasih dari keluargaku dan suamiku, aku perlahan bisa merebut kembali hidupku — hidup yang hampir direnggut oleh anoreksia.
Apakah kamu sedang bergumul dengan gangguan makan? Saat ini kamu mungkin merasa putus asa dan terjebak, tapi kamu tidak sendirian. Jika kamu mengisi formulir di bawah, seseorang dari tim kami akan menghubungimu untuk mendengar ceritamu dan membantu menemukan harapan.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Waktu aku kelas tiga SD, aku pernah mengajak seorang teman untuk menginap di rumah. Keesokan harinya dia kembali dan berkata, “Orang tuaku bilang tidak boleh karena orang tuamu pemabuk.” Saat itulah aku sadar: keluargaku tidak normal. Orang tuaku adalah pecandu alkohol. Seluruh aspek kehidupan mereka berputar di sekitar minuman keras; itulah satu-satunya hal yang kukenal sejak kecil.
Kenyataan semakin menyakitkan ketika aku dan adikku makan malam di rumah keluarga lain. Tidak ada minuman, tidak ada pertengkaran. Mereka bermain dan bersenang-senang bersama. Kami pun cepat belajar bahwa kami lebih aman jauh dari rumah, jadi kami mencoba pergi sejauh mungkin. Paman kami tinggal tidak jauh, jadi terkadang kami menginap di sana ketika orang tua kami mulai minum dan bertengkar tak terkendali. Saat kembali ke rumah keesokan paginya, sering kali kami mendapati rumah berantakan, dengan furnitur rusak dan pecahan piring di mana-mana.
Aku sering menyendiri di loteng, kamar tidurku, tapi tempat itu tidak memberi banyak ketenangan. Aku masih bisa mendengar orang tuaku saling memaki dan menyakiti secara fisik dari kamar mereka di bawah. Tidak seharusnya seorang anak mendengar apa yang kudengar. Atau melihat apa yang kulihat. Ayahku tidak tahu, tapi aku melihat dia mendorong ibuku begitu keras hingga ibuku harus dirawat di rumah sakit karena patah panggul.
Ketika ayahku tidak sedang marah karena mabuk, ia menjadi sedih. Kadang dia pulang dan membangunkanku dari tempat tidur hanya untuk menceritakan penderitaannya, dan tentu saja, aku masih anak-anak, jadi aku hanya duduk di sana dan melihat ayahku menangis. Aku mati rasa. Aku ingat pernah berpikir, “Aku tidak tahu harus apa dengan semua ini.”
Aku sampai pada titik di mana aku bertanya-tanya apakah hidup ini benar-benar layak dijalani. Aku menatap pohon besar di luar jendela dan membayangkan diriku menggantung diri. Aku bahkan sempat membuat batu nisan sendiri dari potongan papan kayu tipis. Kadang aku bertanya-tanya apakah benda itu masih ada di loteng, tersembunyi di bawah karpet longgar.
Tidak seharusnya seorang anak mendengar apa yang kudengar. Atau melihat apa yang kulihat.
Tiket keluarku adalah prestasi akademik yang membawaku masuk universitas. Aku berhasil dengan sangat baik dan masuk daftar dekan. Ketika ayahku mendengarnya, dia untuk pertama dan terakhir kalinya mengatakan bahwa dia bangga padaku. Itu adalah salah satu dari dua momen di mana aku tahu dia benar-benar memperhatikan hidupku.
Aku memang tidak menjadi pecandu, tapi dampak alkohol tetap menempel dalam hidupku. Tumbuh dalam keluarga yang begitu disfungsional membuatku tidak punya acuan tentang seperti apa seharusnya sebuah keluarga. Ketika aku menjadi suami dan ayah, aku merasa seperti menjelajahi wilayah asing, berusaha memahami apa itu “normal.”
Ada juga luka emosional yang tertinggal. Aku tidak pernah melihat orang tuaku mengelola emosi negatif tanpa alkohol, dan mereka tidak pernah mengakui perasaan kami sebagai anak-anak. Kalau ada di antara kami yang mulai menangis, ayahku akan berkata, “Berhenti menangis atau akan kubuat kau benar-benar punya alasan untuk menangis.” Aku ingat ketika memeluk ibuku saat kuliah. Tubuhnya kaku seperti papan. Ia tidak tahu bagaimana cara menerima kelembutan, sementara aku baru belajar memberikannya.
Selama bertahun-tahun aku hidup dengan banyak kekecewaan. Aku sering menoleh ke belakang dan berharap bisa dibesarkan dalam keluarga yang berbeda. Lagu “kasihan aku” terus berputar di latar pikiranku: kenapa aku harus tumbuh seperti ini? Aku memendam kepahitan dan kemarahan, terutama kepada ayahku; dan itu mulai menggerogotiku dari dalam.
Aku tahu aku harus belajar memaafkan atau kepahitan itu akan mengendalikanku.
Beberapa tahun di bangku kuliah, seseorang berkata padaku bahwa aku perlu memaafkan ayahku dan belajar mencintainya. Aku sadar bahwa aku punya dua pilihan. Aku bisa terus merasa pahit, marah, dan merasa dirampas – yang entah bagaimana aku tahu tidak akan baik bagiku atau hubunganku dengan orang lain. Atau aku bisa menerima semua hal baik dan buruk dari cara aku dibesarkan, dan bahwa orang tuaku adalah manusia yang punya kelemahan. Aku tahu aku harus belajar memaafkan atau kepahitan itu akan menguasai hidupku.
Akhirnya aku bisa mengatakan padanya, “Ayah, aku mencintaimu,” tanpa tapi atau keluhan. Itu membuka kembali hubungan kami. Dia menjadi lebih terbuka. Suatu hari, aku menulis surat untuk ayahku. Aku dengan sangat sengaja menulis semua hal baik yang bisa kuingat tentang dirinya. Dia tidak pernah membalas, tapi aku rasa dia memang tidak pernah belajar menulis. Tapi ibuku membalas. Dia menulis, “Ayahmu membaca suratmu dan dia menangis. Aku rasa itu yang dia butuhkan.” Itu adalah momen yang sangat berarti bagiku. Ada perubahan nyata dalam hubungan kami sebelum ia meninggal di tahun 1989.
Apakah kamu memiliki orang tua yang kecanduan alkohol? Apakah ada luka yang belum selesai kamu hadapi? Kamu tidak sendirian. Bahkan jika kamu hanya ingin berbagi pengalaman, seseorang dari tim kami siap mendengarkan. Tinggalkan kontakmu di bawah dan kami akan segera menghubungimu.
Inisial penulis digunakan demi privasi.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
“Kamu tahu, Bu, darah lebih kental daripada air.” Kalimat itu menusuk. Sulit untuk diterima. Putra saya yang berusia 22 tahun sedang berkomentar tentang masa kecilnya, dan nada bicaranya jelas: Ibu seharusnya lebih mengutamakan aku daripada suami barumu.
Meskipun saya percaya bahwa hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk memberikan rasa aman kepada anak-anak saya adalah dengan menempatkan suami saya di posisi pertama, mereka tetaplah anak-anak. Dalam keluarga campuran, mereka memproses dan melihat segala sesuatu secara berbeda. Saat saya menikah dengan Tom, sangat wajar jika kedua putra saya—yang saat itu berusia 2 dan 4 tahun—berpikir bahwa merekalah yang lebih penting dan seharusnya mendapat lebih banyak perhatian saya. Jelas, delapan belas tahun kemudian, perasaan itu masih tersisa.
Ketika kami merencanakan pernikahan, kami pikir kami sudah siap. Kami memiliki pandangan yang naif dan idealis. Tentu, akan ada tantangan di depan, tapi kami sudah membaca banyak buku dan berpikir kami hanya perlu menerapkan apa yang kami pelajari. Namun, Tom tidak benar-benar siap menghadapi semua emosi yang muncul, dan saya pun segera menyadari bahwa saya belum sepenuhnya menyelesaikan luka akibat ditinggalkan dan dikhianati dalam pernikahan pertama saya.
Baca kisah Tom tentang Menjadi Ayah Tiri.
Luka saya mulai menimbulkan rasa sakit dalam hubungan kami. Saya terus dihantui oleh keraguan tentang kesetiaan Tom. Dia tidak pernah memberi saya alasan untuk mencurigainya berselingkuh, tetapi saya tetap kesulitan untuk sepenuhnya mempercayainya. Ketika dia bersiap-siap di pagi hari, berdandan untuk pekerjaannya di pemerintahan, saya kadang merasa takut, seperti mantan saya dulu yang merapikan diri sebelum pergi menemui selingkuhannya. Ini juga berdampak pada anak-anak. Karena sakit hatinya sendiri, Tom terkadang menjadi terlalu kritis terhadap anak-anak saya.
Banyak hal yang harus kami atasi. Ada konflik yang terus-menerus antara saya dan mantan suami, ketegangan dalam pernikahan kami, dan anak-anak baru yang lahir kemudian. Hidup tidak pernah rapi dan tertata. Bahkan hal-hal kecil, seperti merencanakan liburan atau Natal, bisa menjadi pertengkaran besar.
Saat saya mendengar seseorang berkata bahwa ayah dari anak-anak mereka sama sekali tidak terlibat, sebagian dari diri saya berpikir, “Wah, pasti lebih enak begitu.”
Saya adalah orang tua utama dalam mengasuh anak-anak selama sebagian besar masa pertumbuhan mereka. Tom yang melakukan penjemputan dan pengantaran, yang pada satu titik memerlukan perjalanan enam jam yang sangat melelahkan baginya. Saya sangat bersyukur dia bersedia melakukannya. Kami tidak pernah memiliki hubungan yang damai dengan mantan suami saya dan istrinya. Dia adalah wanita yang menjadi selingkuhannya dan akhirnya dinikahi, jadi saya tidak punya keinginan untuk menjalin hubungan dengan mereka. Tom sempat beberapa kali mencoba menghubunginya. Mungkin kami bisa berusaha lebih keras. Saya tidak tahu.
Selama bertahun-tahun, mantan suami saya terus berusaha meyakinkan anak-anak untuk tinggal bersamanya. Dia berkali-kali membawa kami ke pengadilan untuk mencoba mendapatkan hak asuh. Hakim selalu memutuskan bahwa yang terbaik adalah anak-anak tetap tinggal bersama saya sebagai pengasuh utama. Rasanya seperti dia terus berusaha merusak otoritas kami dalam kehidupan anak-anak. Pada akhirnya, saya merasa motivasi utamanya adalah untuk menghindari pembayaran tunjangan anak. Dia ingin memiliki lebih banyak sumber daya untuk keluarganya yang baru.
Pertarungan di pengadilan sangat melelahkan bagi kami semua. Di satu sisi, Tom ingin membiarkan saya yang mengurus semuanya, tapi di sisi lain, dia juga ingin ikut campur dan mencoba mengendalikan hasilnya. Anak-anak pun menyadari hal ini, dan itu menyebabkan tekanan besar bagi mereka juga. Kalau boleh jujur, ketika saya mendengar seseorang berkata bahwa ayah dari anak-anak mereka tidak terlibat sama sekali, bagian dari diri saya berkata, “Pasti lebih mudah seperti itu.” Saya tahu anak-anak saya butuh ayah mereka, tapi semua itu sangat rumit dan menguras emosi.
Akhirnya, tibalah saat di mana anak-anak memang ingin tinggal bersama ayah mereka. Saat remaja, mereka mulai membicarakan tentang kebebasan yang dijanjikan ayah mereka dan bagaimana kami dianggap terlalu membatasi. “Rumah Ayah” menjadi rumput yang lebih hijau. Sampai akhirnya saya berkata kepada Tom, “Biarkan saja mereka pergi.” Saya sangat lelah dengan pertarungan ini. Meskipun saya pikir itu bukan pilihan terbaik bagi mereka, saya berharap mereka akan menyadari sendiri dan ingin kembali pulang.
Putra sulung saya mengatakan sesuatu yang sangat membuka mata saya musim panas lalu: “Aku tidak memberi tahu Ibu banyak tentang rasa sakit yang aku alami.”
Putra sulung saya berusia tujuh belas tahun ketika dia pindah ke rumah ayahnya. Adiknya melakukan hal yang sama saat berusia enam belas. Dalam waktu kurang dari setahun, putra sulung saya terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dan diusir dari rumah ayahnya tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18. Keduanya kini berada di pusat rehabilitasi dan menjalani konseling. Mereka juga telah kembali tinggal bersama kami untuk waktu yang berbeda-beda.
Putra sulung saya mengatakan sesuatu yang sangat membuka mata saya musim panas lalu: “Aku tidak memberi tahu Ibu banyak tentang rasa sakit yang aku alami.” Saya pikir banyak anak tiri pandai menyembunyikan luka emosional mereka. Dibutuhkan orang tua yang benar-benar bijaksana untuk menyadari apa yang terjadi di bawah permukaan. Saya belajar bahwa saya tidak bisa hanya menunggu momen langka ketika mereka akan membuka hati mereka. Saya harus secara sengaja menyediakan ruang untuk benar-benar mendengarkan. Itu membutuhkan banyak kerendahan hati karena saya membuka diri untuk mendengar hal-hal yang mungkin tidak ingin saya dengar. Itu berarti bersedia menjadi penampung rasa sakit mereka karena saya adalah tempat yang aman — meskipun terasa beracun.
Ini sulit, tapi kami juga belajar untuk sedikit melepaskan keterikatan emosional. Kami akan selalu ada untuk mereka. Itu tidak akan berubah. Tapi penting untuk memahami bahwa mereka sekarang adalah orang dewasa dengan luka mereka sendiri. Tidak ada jadwal pasti kapan semua ini akan beres.
Melihat ke belakang, saya rasa kami seharusnya mencari seseorang — pihak netral — tempat putra sulung kami bisa mencurahkan isi hatinya. Saya berharap kami sengaja mengambil langkah untuk mengikuti konseling sebagai keluarga agar bisa memproses semua masalah ini bersama. Sekarang dia berada di situasi di mana, karena kecanduan narkoba, dia terpaksa menjalani konseling dan menggali luka yang selama ini ia coba redam. Mungkin dia akan berada di tempat yang lebih baik sekarang jika kami sudah melakukannya sejak dulu.
Memiliki keluarga campuran bukanlah tugas yang mudah. Ada lapisan demi lapisan kompleksitas. Melelahkan. Jika kamu sedang berjuang menembus kabut dan rasa sakit dari semua ini, saya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian. Kami memiliki mentor yang siap mendengarkan dan memberi dukungan secara rahasia. Tinggalkan informasi kontakmu di bawah ini dan salah satu anggota tim kami akan segera menghubungimu.
Baca kisah suami saya tentang menjadi ayah tiri.
(https://issuesiface.com/being-a-stepfather)
by CKCM | Apr 24, 2025 | Blog, Stories
Ia duduk sendirian di sisi lain ruangan. Pria baru di kelas seniorku. Misterius tetapi layak untuk dipandang lagi. Pandangan kami bertemu dan emosi yang langsung kurasakan membuatku tercengang. Aku mengejapkan mata dan memalingkan muka. Ia juga melakukan hal yang sama. Aku mengetahuinya karena aku memandangnya sekilas lagi. Dan ia menangkap basah waktu aku mencuri pandang padanya. Jadi aku mengumpulkan para gadis yang duduk dekatku dan mengatakan kepada mereka bahwa kami harus berlaku baik dan datang menyapanya. Aman.
Ia mulai bergaul bersama gang-ku dan diterima dengan baik. Tetapi dengan segera, akhirnya hanya kami berdua yang berjalan bersama atau berbincang di sudut ruangan. Kami menjadi lebih secara fisik mengungkapkan perasaan kami. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sungguh cantik. Sinar surya menyelimutiku.
Pada awalnya ia memperlakukanku dengan begitu baik. Semua temanku berkomentar betapa mengagumkannya kami berdua. Ia benar-benar menyukaiku dan mau melakukan hal-hal yang aku suka. Ia membelikanku hadiah-hadiah kecil dan ciumannya yang tepat waktu meluluhkan hatiku. Tentu saja, ia membujukku melakukan hal-hal yang biasanya aku tidak mau melakukan, tetapi aku ingin menyenangkannya. Bersamanya membuatku merasa luar biasa. Setiap orang tahu bahwa kami berpacaran. Kami jarang terpisah, seolah pinggang kami lengket.
Kemudian datanglah permintaan menakutkan – “Aku butuh sendiri.”
Kemudian semuanya berubah. Awalnya aku tidak benar-benar memperhatikan. Atau sejujurnya, aku memilih untuk mengabaikan tanda-tanda itu. Saat dia muncul satu jam terlambat dan kemudian menghabiskan sisa malam itu dengan meminta maaf. Lingkaran-lingkaran merah di bawah kelopak matanya dia katakan karena terkuras kerja dan kuliah. Ada waktu-waktu dia seolah berada di tempat lain dan aku harus menarik perhatiannya kembali kepadaku. Kemudian datanglah permintaan menakutkan – “Aku butuh sendiri.”
Aku memenuhi permintaannya. Aku pikir itu hanya sementara. Kita semua mengalami stres, dan meskipun aku ingin berada di sana untuknya, dia mengatakan ingin sendirian. Aku mencoba untuk tidak membiarkan itu terjadi padaku. Tapi itu terjadi. Tengah-tengah malam aku akan memeluk bantal dengan berurai air mata, tidak tahu bagaimana berbicara dengannya tentang perubahan perasaannya kepadaku.
Dia jarang kelihatan. Aku menyaksikannya ketika dia menyelinap keluar dari hidupku, secara bertahap pada awalnya. Kemudian seperti skateboard mengambil momentum di jalan menurun, ia melaju pergi, meninggalkanku dalam kehancuran. Bingung. Tertolak. Dalam kesedihan. Apa yang sudah kulakukan?
Teman-teman mulai memberitahuku bahwa mereka telah melihatnya bersama gadis lain. Aku tahu mereka bermaksud baik memberitahuku, tetapi aku benar-benar tidak ingin tahu. Dua bulan kemudian dia muncul di salah satu tempat nongkrong favoritku dan bertanya apakah kami bisa bicara. Aku hampir tidak mengenalinya. Kulitnya abu-abu dan matanya kosong. Dia memberitahuku bahwa kami terlalu dekat dan itu membuatnya takut, tetapi dia menyadari bahwa tanpa diriku dia menjadi lebih buruk. Aku menerimanya kembali, dan segala sesuatunya seperti ketika kami pertama kali bertemu. Untuk sementara. Kemudian pola lama mulai muncul ke permukaan. Kali ini, Akulah yang beranjak pergi. Seorang negarawan terkenal pernah berkata, “Menipu aku satu kali, betapa memalukannya kamu. Bisa menipu aku dua kali, betapa memalukannya aku.”
Tiga bulan kemudian dia muncul di depan pintu rumahku. Akhirnya dia mengakui. Dia terjerat obat-obatan terlarang dan selama ini aku adalah gadis lain Dia berpikir karena aku wanita baik maka aku bisa menyelamatkannya. Tapi tarikan gadisnya dan obat-obatan terlarang itu terlalu kuat. Sekarang gadisnya hamil. Meskipun dia tidak mencintainya, mereka akan mencoba untuk berjuang dan masuk rehabilitasi bersama, demi bayi itu. Sebagian dari diriku mengaguminya karena kejujuran dan keberaniannya, tetapi sebagian besar dari diriku ingin mencakar matanya.
Pria yang salah itu membuatku belajar banyak hal yang benar. Emosi tidak bisa menjadi fondasi untuk sebuah hubungan. Tidak juga seks. Kamu harus berproses dan belajar mengenal satu sama lain sebelum kamu berkomitmen untuk berpacaran. Lihat bagaimana dia berinteraksi dengan keluarganya dan keluargamu. Dan tanyakan kepada sahabat sejatimu bagaimana insting jujur mereka tentang dia.
Kamu tidak bisa mengubah siapa pun. Mereka juga tidak bisa mengubahmu.
Jangan menyembunyikan dirimu yang sesungguhnya, dengan pikiran bahwa orang yang ingin kamu tarik akan terpesona, dan cobalah untuk tidak selalu melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Itu palsu. Jika mereka tidak menyukaimu apa adanya, itu tidak akan berhasil. Jika mereka tidak dapat melihat di seputar masalah dan hal-hal yang tidak biasa tentangmu, maka mereka tidak benar-benar peduli.
Kamu tidak dapat mengubah siapa pun. Mereka juga tidak bisa mengubahmu. Kamu tidak dapat mencoba menjadi orang lain hanya karena hatimu tertarik kepada seseorang. Jika ada sesuatu yang ingin kamu ubah tentang dirimu, kamu harus melakukannya untuk dirimu sendiri. Demikian juga tidak adil untuk menekan orang lain, mengharapkan orang lain seperti yang kita inginkan, dan itu jarang berhasil.
Jika kamu tidak merasa nyaman dengan diri sendiri, kamu harus menghadapinya. Rasa nyaman itu tidak bergantung pada orang lain. Ini tidak adil baginya atau Anda, dan kemungkinan besar dia tidak akan menyukai diri Anda yang sebenarnya ketika terungkap, dan itu akan terjadi. Dia mungkin hanya melihat Anda sebagai sasaran empuk atau permainan untuk meningkatkan egonya. Hasilnya? Seseorang, mungkin Anda berdua, akan berakhir terluka.
Jika kamu berada dalam cengkeraman patah hati karena putus cinta, kami memahami betapa menghancurkan dan memalukannya hal itu. Kita mendapati kemarahan, kesepian yang menyakitkan, dan keraguan. Mungkin kamu kuatir bahwa pria yang bersamamu sekarang bukan pria yang tepat untukmu. Jika kamu membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, salah satu mentor kami yang akan menjaga rahahasiamu ada di sini untukmu. Cukup isi formulir di bawah dan kamu akan segera dihubungi oleh seseorang dari tim kami.