Orang Tua Alkoholik

Waktu aku kelas tiga SD, aku pernah mengajak seorang teman untuk menginap di rumah. Keesokan harinya dia kembali dan berkata, “Orang tuaku bilang tidak boleh karena orang tuamu pemabuk.” Saat itulah aku sadar: keluargaku tidak normal. Orang tuaku adalah pecandu alkohol. Seluruh aspek kehidupan mereka berputar di sekitar minuman keras; itulah satu-satunya hal yang kukenal sejak kecil.

Kenyataan semakin menyakitkan ketika aku dan adikku makan malam di rumah keluarga lain. Tidak ada minuman, tidak ada pertengkaran. Mereka bermain dan bersenang-senang bersama. Kami pun cepat belajar bahwa kami lebih aman jauh dari rumah, jadi kami mencoba pergi sejauh mungkin. Paman kami tinggal tidak jauh, jadi terkadang kami menginap di sana ketika orang tua kami mulai minum dan bertengkar tak terkendali. Saat kembali ke rumah keesokan paginya, sering kali kami mendapati rumah berantakan, dengan furnitur rusak dan pecahan piring di mana-mana.

Aku sering menyendiri di loteng, kamar tidurku, tapi tempat itu tidak memberi banyak ketenangan. Aku masih bisa mendengar orang tuaku saling memaki dan menyakiti secara fisik dari kamar mereka di bawah. Tidak seharusnya seorang anak mendengar apa yang kudengar. Atau melihat apa yang kulihat. Ayahku tidak tahu, tapi aku melihat dia mendorong ibuku begitu keras hingga ibuku harus dirawat di rumah sakit karena patah panggul.

Ketika ayahku tidak sedang marah karena mabuk, ia menjadi sedih. Kadang dia pulang dan membangunkanku dari tempat tidur hanya untuk menceritakan penderitaannya, dan tentu saja, aku masih anak-anak, jadi aku hanya duduk di sana dan melihat ayahku menangis. Aku mati rasa. Aku ingat pernah berpikir, “Aku tidak tahu harus apa dengan semua ini.”

Aku sampai pada titik di mana aku bertanya-tanya apakah hidup ini benar-benar layak dijalani. Aku menatap pohon besar di luar jendela dan membayangkan diriku menggantung diri. Aku bahkan sempat membuat batu nisan sendiri dari potongan papan kayu tipis. Kadang aku bertanya-tanya apakah benda itu masih ada di loteng, tersembunyi di bawah karpet longgar.

Tidak seharusnya seorang anak mendengar apa yang kudengar. Atau melihat apa yang kulihat.

Tiket keluarku adalah prestasi akademik yang membawaku masuk universitas. Aku berhasil dengan sangat baik dan masuk daftar dekan. Ketika ayahku mendengarnya, dia untuk pertama dan terakhir kalinya mengatakan bahwa dia bangga padaku. Itu adalah salah satu dari dua momen di mana aku tahu dia benar-benar memperhatikan hidupku.

Aku memang tidak menjadi pecandu, tapi dampak alkohol tetap menempel dalam hidupku. Tumbuh dalam keluarga yang begitu disfungsional membuatku tidak punya acuan tentang seperti apa seharusnya sebuah keluarga. Ketika aku menjadi suami dan ayah, aku merasa seperti menjelajahi wilayah asing, berusaha memahami apa itu “normal.”

Ada juga luka emosional yang tertinggal. Aku tidak pernah melihat orang tuaku mengelola emosi negatif tanpa alkohol, dan mereka tidak pernah mengakui perasaan kami sebagai anak-anak. Kalau ada di antara kami yang mulai menangis, ayahku akan berkata, “Berhenti menangis atau akan kubuat kau benar-benar punya alasan untuk menangis.” Aku ingat ketika memeluk ibuku saat kuliah. Tubuhnya kaku seperti papan. Ia tidak tahu bagaimana cara menerima kelembutan, sementara aku baru belajar memberikannya.

Selama bertahun-tahun aku hidup dengan banyak kekecewaan. Aku sering menoleh ke belakang dan berharap bisa dibesarkan dalam keluarga yang berbeda. Lagu “kasihan aku” terus berputar di latar pikiranku: kenapa aku harus tumbuh seperti ini? Aku memendam kepahitan dan kemarahan, terutama kepada ayahku; dan itu mulai menggerogotiku dari dalam.

Aku tahu aku harus belajar memaafkan atau kepahitan itu akan mengendalikanku.

Beberapa tahun di bangku kuliah, seseorang berkata padaku bahwa aku perlu memaafkan ayahku dan belajar mencintainya. Aku sadar bahwa aku punya dua pilihan. Aku bisa terus merasa pahit, marah, dan merasa dirampas – yang entah bagaimana aku tahu tidak akan baik bagiku atau hubunganku dengan orang lain. Atau aku bisa menerima semua hal baik dan buruk dari cara aku dibesarkan, dan bahwa orang tuaku adalah manusia yang punya kelemahan. Aku tahu aku harus belajar memaafkan atau kepahitan itu akan menguasai hidupku.

Akhirnya aku bisa mengatakan padanya, “Ayah, aku mencintaimu,” tanpa tapi atau keluhan. Itu membuka kembali hubungan kami. Dia menjadi lebih terbuka. Suatu hari, aku menulis surat untuk ayahku. Aku dengan sangat sengaja menulis semua hal baik yang bisa kuingat tentang dirinya. Dia tidak pernah membalas, tapi aku rasa dia memang tidak pernah belajar menulis. Tapi ibuku membalas. Dia menulis, “Ayahmu membaca suratmu dan dia menangis. Aku rasa itu yang dia butuhkan.” Itu adalah momen yang sangat berarti bagiku. Ada perubahan nyata dalam hubungan kami sebelum ia meninggal di tahun 1989.

Apakah kamu memiliki orang tua yang kecanduan alkohol? Apakah ada luka yang belum selesai kamu hadapi? Kamu tidak sendirian. Bahkan jika kamu hanya ingin berbagi pengalaman, seseorang dari tim kami siap mendengarkan. Tinggalkan kontakmu di bawah dan kami akan segera menghubungimu.

Inisial penulis digunakan demi privasi.

Keluarga Campuran

“Kamu tahu, Bu, darah lebih kental daripada air.” Kalimat itu menusuk. Sulit untuk diterima. Putra saya yang berusia 22 tahun sedang berkomentar tentang masa kecilnya, dan nada bicaranya jelas: Ibu seharusnya lebih mengutamakan aku daripada suami barumu.

Meskipun saya percaya bahwa hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk memberikan rasa aman kepada anak-anak saya adalah dengan menempatkan suami saya di posisi pertama, mereka tetaplah anak-anak. Dalam keluarga campuran, mereka memproses dan melihat segala sesuatu secara berbeda. Saat saya menikah dengan Tom, sangat wajar jika kedua putra saya—yang saat itu berusia 2 dan 4 tahun—berpikir bahwa merekalah yang lebih penting dan seharusnya mendapat lebih banyak perhatian saya. Jelas, delapan belas tahun kemudian, perasaan itu masih tersisa.

Ketika kami merencanakan pernikahan, kami pikir kami sudah siap. Kami memiliki pandangan yang naif dan idealis. Tentu, akan ada tantangan di depan, tapi kami sudah membaca banyak buku dan berpikir kami hanya perlu menerapkan apa yang kami pelajari. Namun, Tom tidak benar-benar siap menghadapi semua emosi yang muncul, dan saya pun segera menyadari bahwa saya belum sepenuhnya menyelesaikan luka akibat ditinggalkan dan dikhianati dalam pernikahan pertama saya.

Baca kisah Tom tentang Menjadi Ayah Tiri.

Luka saya mulai menimbulkan rasa sakit dalam hubungan kami. Saya terus dihantui oleh keraguan tentang kesetiaan Tom. Dia tidak pernah memberi saya alasan untuk mencurigainya berselingkuh, tetapi saya tetap kesulitan untuk sepenuhnya mempercayainya. Ketika dia bersiap-siap di pagi hari, berdandan untuk pekerjaannya di pemerintahan, saya kadang merasa takut, seperti mantan saya dulu yang merapikan diri sebelum pergi menemui selingkuhannya. Ini juga berdampak pada anak-anak. Karena sakit hatinya sendiri, Tom terkadang menjadi terlalu kritis terhadap anak-anak saya.

Banyak hal yang harus kami atasi. Ada konflik yang terus-menerus antara saya dan mantan suami, ketegangan dalam pernikahan kami, dan anak-anak baru yang lahir kemudian. Hidup tidak pernah rapi dan tertata. Bahkan hal-hal kecil, seperti merencanakan liburan atau Natal, bisa menjadi pertengkaran besar.

Saat saya mendengar seseorang berkata bahwa ayah dari anak-anak mereka sama sekali tidak terlibat, sebagian dari diri saya berpikir, “Wah, pasti lebih enak begitu.”

Saya adalah orang tua utama dalam mengasuh anak-anak selama sebagian besar masa pertumbuhan mereka. Tom yang melakukan penjemputan dan pengantaran, yang pada satu titik memerlukan perjalanan enam jam yang sangat melelahkan baginya. Saya sangat bersyukur dia bersedia melakukannya. Kami tidak pernah memiliki hubungan yang damai dengan mantan suami saya dan istrinya. Dia adalah wanita yang menjadi selingkuhannya dan akhirnya dinikahi, jadi saya tidak punya keinginan untuk menjalin hubungan dengan mereka. Tom sempat beberapa kali mencoba menghubunginya. Mungkin kami bisa berusaha lebih keras. Saya tidak tahu.

Selama bertahun-tahun, mantan suami saya terus berusaha meyakinkan anak-anak untuk tinggal bersamanya. Dia berkali-kali membawa kami ke pengadilan untuk mencoba mendapatkan hak asuh. Hakim selalu memutuskan bahwa yang terbaik adalah anak-anak tetap tinggal bersama saya sebagai pengasuh utama. Rasanya seperti dia terus berusaha merusak otoritas kami dalam kehidupan anak-anak. Pada akhirnya, saya merasa motivasi utamanya adalah untuk menghindari pembayaran tunjangan anak. Dia ingin memiliki lebih banyak sumber daya untuk keluarganya yang baru.

Pertarungan di pengadilan sangat melelahkan bagi kami semua. Di satu sisi, Tom ingin membiarkan saya yang mengurus semuanya, tapi di sisi lain, dia juga ingin ikut campur dan mencoba mengendalikan hasilnya. Anak-anak pun menyadari hal ini, dan itu menyebabkan tekanan besar bagi mereka juga. Kalau boleh jujur, ketika saya mendengar seseorang berkata bahwa ayah dari anak-anak mereka tidak terlibat sama sekali, bagian dari diri saya berkata, “Pasti lebih mudah seperti itu.” Saya tahu anak-anak saya butuh ayah mereka, tapi semua itu sangat rumit dan menguras emosi.

Akhirnya, tibalah saat di mana anak-anak memang ingin tinggal bersama ayah mereka. Saat remaja, mereka mulai membicarakan tentang kebebasan yang dijanjikan ayah mereka dan bagaimana kami dianggap terlalu membatasi. “Rumah Ayah” menjadi rumput yang lebih hijau. Sampai akhirnya saya berkata kepada Tom, “Biarkan saja mereka pergi.” Saya sangat lelah dengan pertarungan ini. Meskipun saya pikir itu bukan pilihan terbaik bagi mereka, saya berharap mereka akan menyadari sendiri dan ingin kembali pulang.

Putra sulung saya mengatakan sesuatu yang sangat membuka mata saya musim panas lalu: “Aku tidak memberi tahu Ibu banyak tentang rasa sakit yang aku alami.”

Putra sulung saya berusia tujuh belas tahun ketika dia pindah ke rumah ayahnya. Adiknya melakukan hal yang sama saat berusia enam belas. Dalam waktu kurang dari setahun, putra sulung saya terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dan diusir dari rumah ayahnya tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18. Keduanya kini berada di pusat rehabilitasi dan menjalani konseling. Mereka juga telah kembali tinggal bersama kami untuk waktu yang berbeda-beda.

Putra sulung saya mengatakan sesuatu yang sangat membuka mata saya musim panas lalu: “Aku tidak memberi tahu Ibu banyak tentang rasa sakit yang aku alami.” Saya pikir banyak anak tiri pandai menyembunyikan luka emosional mereka. Dibutuhkan orang tua yang benar-benar bijaksana untuk menyadari apa yang terjadi di bawah permukaan. Saya belajar bahwa saya tidak bisa hanya menunggu momen langka ketika mereka akan membuka hati mereka. Saya harus secara sengaja menyediakan ruang untuk benar-benar mendengarkan. Itu membutuhkan banyak kerendahan hati karena saya membuka diri untuk mendengar hal-hal yang mungkin tidak ingin saya dengar. Itu berarti bersedia menjadi penampung rasa sakit mereka karena saya adalah tempat yang aman — meskipun terasa beracun.

Ini sulit, tapi kami juga belajar untuk sedikit melepaskan keterikatan emosional. Kami akan selalu ada untuk mereka. Itu tidak akan berubah. Tapi penting untuk memahami bahwa mereka sekarang adalah orang dewasa dengan luka mereka sendiri. Tidak ada jadwal pasti kapan semua ini akan beres.

Melihat ke belakang, saya rasa kami seharusnya mencari seseorang — pihak netral — tempat putra sulung kami bisa mencurahkan isi hatinya. Saya berharap kami sengaja mengambil langkah untuk mengikuti konseling sebagai keluarga agar bisa memproses semua masalah ini bersama. Sekarang dia berada di situasi di mana, karena kecanduan narkoba, dia terpaksa menjalani konseling dan menggali luka yang selama ini ia coba redam. Mungkin dia akan berada di tempat yang lebih baik sekarang jika kami sudah melakukannya sejak dulu.

Memiliki keluarga campuran bukanlah tugas yang mudah. Ada lapisan demi lapisan kompleksitas. Melelahkan. Jika kamu sedang berjuang menembus kabut dan rasa sakit dari semua ini, saya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian. Kami memiliki mentor yang siap mendengarkan dan memberi dukungan secara rahasia. Tinggalkan informasi kontakmu di bawah ini dan salah satu anggota tim kami akan segera menghubungimu.

Baca kisah suami saya tentang menjadi ayah tiri.

(https://issuesiface.com/being-a-stepfather)

Berpacaran Dengan Cowok yang Salah

Ia duduk sendirian di sisi lain ruangan. Pria baru di kelas seniorku. Misterius tetapi layak untuk dipandang lagi. Pandangan kami bertemu dan emosi yang langsung kurasakan membuatku tercengang. Aku mengejapkan mata dan memalingkan muka. Ia juga melakukan hal yang sama. Aku mengetahuinya karena aku memandangnya sekilas lagi. Dan ia menangkap basah waktu aku mencuri pandang padanya. Jadi aku mengumpulkan para gadis yang duduk dekatku dan mengatakan kepada mereka bahwa kami harus berlaku baik dan datang menyapanya. Aman.

Ia mulai bergaul bersama gang-ku dan diterima dengan baik. Tetapi dengan segera, akhirnya hanya kami berdua yang berjalan bersama atau berbincang di sudut ruangan. Kami menjadi lebih secara fisik mengungkapkan perasaan kami. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa sungguh cantik. Sinar surya menyelimutiku.

Pada awalnya ia memperlakukanku dengan begitu baik. Semua temanku berkomentar betapa mengagumkannya kami berdua. Ia benar-benar menyukaiku dan mau melakukan hal-hal yang aku suka. Ia membelikanku hadiah-hadiah kecil dan ciumannya yang tepat waktu meluluhkan hatiku. Tentu saja, ia membujukku melakukan hal-hal yang biasanya aku tidak mau melakukan, tetapi aku ingin menyenangkannya. Bersamanya membuatku merasa luar biasa. Setiap orang tahu bahwa kami berpacaran. Kami jarang terpisah, seolah pinggang kami lengket.

Kemudian datanglah permintaan menakutkan – “Aku butuh sendiri.”

Kemudian semuanya berubah. Awalnya aku tidak benar-benar memperhatikan. Atau sejujurnya, aku memilih untuk mengabaikan tanda-tanda itu. Saat dia muncul satu jam terlambat dan kemudian menghabiskan sisa malam itu dengan meminta maaf. Lingkaran-lingkaran merah di bawah kelopak matanya dia katakan karena terkuras kerja dan kuliah. Ada waktu-waktu dia seolah berada di tempat lain dan aku harus menarik perhatiannya kembali kepadaku. Kemudian datanglah permintaan menakutkan – “Aku butuh sendiri.”

Aku memenuhi permintaannya. Aku pikir itu hanya sementara. Kita semua mengalami stres, dan meskipun aku ingin berada di sana untuknya, dia mengatakan ingin sendirian. Aku mencoba untuk tidak membiarkan itu terjadi padaku. Tapi itu terjadi. Tengah-tengah malam aku akan memeluk bantal dengan berurai air mata, tidak tahu bagaimana berbicara dengannya tentang perubahan perasaannya kepadaku.

Dia jarang kelihatan. Aku menyaksikannya ketika dia menyelinap keluar dari hidupku, secara bertahap pada awalnya. Kemudian seperti skateboard mengambil momentum di jalan menurun, ia melaju pergi, meninggalkanku dalam kehancuran. Bingung. Tertolak. Dalam kesedihan. Apa yang sudah kulakukan?

Teman-teman mulai memberitahuku bahwa mereka telah melihatnya bersama gadis lain. Aku tahu mereka bermaksud baik memberitahuku, tetapi aku benar-benar tidak ingin tahu. Dua bulan kemudian dia muncul di salah satu tempat nongkrong favoritku dan bertanya apakah kami bisa bicara. Aku hampir tidak mengenalinya. Kulitnya abu-abu dan matanya kosong. Dia memberitahuku bahwa kami terlalu dekat dan itu membuatnya takut, tetapi dia menyadari bahwa tanpa diriku dia menjadi lebih buruk. Aku menerimanya kembali, dan segala sesuatunya seperti ketika kami pertama kali bertemu. Untuk sementara. Kemudian pola lama mulai muncul ke permukaan. Kali ini, Akulah yang beranjak pergi. Seorang negarawan terkenal pernah berkata, “Menipu aku satu kali, betapa memalukannya kamu. Bisa menipu aku dua kali, betapa memalukannya aku.”

Tiga bulan kemudian dia muncul di depan pintu rumahku. Akhirnya dia mengakui. Dia terjerat obat-obatan terlarang dan selama ini aku adalah gadis lain Dia berpikir karena aku wanita baik maka aku bisa menyelamatkannya. Tapi tarikan gadisnya dan obat-obatan terlarang itu terlalu kuat. Sekarang gadisnya hamil. Meskipun dia tidak mencintainya, mereka akan mencoba untuk berjuang dan masuk rehabilitasi bersama, demi bayi itu. Sebagian dari diriku mengaguminya karena kejujuran dan keberaniannya, tetapi sebagian besar dari diriku ingin mencakar matanya.

Pria yang salah itu membuatku belajar banyak hal yang benar. Emosi tidak bisa menjadi fondasi untuk sebuah hubungan. Tidak juga seks. Kamu harus berproses dan belajar mengenal satu sama lain sebelum kamu berkomitmen untuk berpacaran. Lihat bagaimana dia berinteraksi dengan keluarganya dan keluargamu. Dan tanyakan kepada sahabat sejatimu bagaimana insting jujur mereka tentang dia.

Kamu tidak bisa mengubah siapa pun. Mereka juga tidak bisa mengubahmu.

Jangan menyembunyikan dirimu yang sesungguhnya, dengan pikiran bahwa orang yang ingin kamu tarik akan terpesona, dan cobalah untuk tidak selalu melakukan sesuatu atau mengatakan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Itu palsu. Jika mereka tidak menyukaimu apa adanya, itu tidak akan berhasil. Jika mereka tidak dapat melihat di seputar masalah dan hal-hal yang tidak biasa tentangmu, maka mereka tidak benar-benar peduli.

Kamu tidak dapat mengubah siapa pun. Mereka juga tidak bisa mengubahmu. Kamu tidak dapat mencoba menjadi orang lain hanya karena hatimu tertarik kepada seseorang. Jika ada sesuatu yang ingin kamu ubah tentang dirimu, kamu harus melakukannya untuk dirimu sendiri. Demikian juga tidak adil untuk menekan orang lain, mengharapkan orang lain seperti yang kita inginkan, dan itu jarang berhasil.

Jika kamu tidak merasa nyaman dengan diri sendiri, kamu harus menghadapinya. Rasa nyaman itu tidak bergantung pada orang lain. Ini tidak adil baginya atau Anda, dan kemungkinan besar dia tidak akan menyukai diri Anda yang sebenarnya ketika terungkap, dan itu akan terjadi. Dia mungkin hanya melihat Anda sebagai sasaran empuk atau permainan untuk meningkatkan egonya. Hasilnya? Seseorang, mungkin Anda berdua, akan berakhir terluka.

Jika kamu berada dalam cengkeraman patah hati karena putus cinta, kami memahami betapa menghancurkan dan memalukannya hal itu. Kita mendapati kemarahan, kesepian yang menyakitkan, dan keraguan. Mungkin kamu kuatir bahwa pria yang bersamamu sekarang bukan pria yang tepat untukmu. Jika kamu membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, salah satu mentor kami yang akan menjaga rahahasiamu ada di sini untukmu. Cukup isi formulir di bawah dan kamu akan segera dihubungi oleh seseorang dari tim kami.

Aneurisma Otak

Pada 26 Januari 2009, saya sedang mengunjungi ayah saya di rumah sakit ketika tiba-tiba saya merasakan sakit luar biasa di kepala saya. Saya bilang kepada saudara laki-laki saya untuk membawa saya ke UGD, dan saat itulah saya kehilangan kesadaran.

Ingatan saya berikutnya adalah 40 hari kemudian di rumah sakit, ketika anak laki-laki saya menepuk bahu saya dan berkata, “Ayah, aku akan membawamu pulang hari ini.” Saya benar-benar bingung. Ternyata saya telah mengalami aneurisma otak yang parah. Kemampuan bernalar saya terganggu, sehingga segalanya jadi jauh lebih sulit untuk diproses. Saya seperti robot—hanya mengikuti apa yang diperintahkan. Saya kehilangan banyak berat badan dan bahkan kesulitan melakukan hal-hal sederhana seperti naik-turun tangga.

Semua orang sangat khawatir tentang saya. Awalnya saya pikir keluarga saya terlalu dramatis dan melebih-lebihkan segalanya, tapi sedikit demi sedikit saya mulai menyadari betapa seriusnya aneurisma itu. Saat mereka mulai menceritakan detail-detailnya, saya menyadari bahwa mereka juga telah melalui trauma yang besar.

Istri saya, Elma, menceritakan apa yang dia alami: “Ketika saya menerima telepon dari putri kami dan menyadari bahwa Don yang mengalami keadaan darurat, saya berjalan sebentar ke rumah anak laki-laki kami, di sana saya menemukan sahabat saya dan langsung terjatuh ke pelukannya, menangis dan menangis. Itu adalah momen terburuk dalam hidup saya. Saya benar-benar mengalami shock selama tiga minggu. Saya sering berkata kepada anak-anak, ‘Katakan saja apa yang harus saya lakukan dan saya akan melakukannya.’ Mereka secara otomatis mengambil peran dalam mendukung Don. Tapi selama tiga minggu pertama itu, kami benar-benar tidak tahu apakah dia akan selamat. Dia sering meronta-ronta di tempat tidur dan harus diikat. Ia menjalani tiga operasi otak dan harus dipasang shunt untuk mengatasi cairan di sekitar otaknya. Itu sangat berat bagi semua orang. Kami takut kehilangan dia. Atau jika dia selamat, dia mungkin akan berubah atau mengalami gangguan mental.”

Saat itulah saya mulai merasa sangat bersyukur! Saya bisa saja sudah meninggal. Aneurisma sering kali membuat seseorang mengalami tantangan berat secara mental dan fisik seumur hidup. Bahkan bisa membuat mereka menjadi agresif secara verbal dan fisik terhadap orang-orang yang mereka cintai. Tapi saya terhindar dari dampak-dampak itu.

Bagaimana kalau itu terjadi lagi dan hasilnya jauh lebih buruk?

Saya mengalami kemajuan setiap hari, memulihkan mobilitas dan fungsi mental lebih cepat dari yang diperkirakan. Keluarga saya mengelilingi saya dengan begitu banyak dukungan, dan saya memiliki terapis okupasi yang luar biasa yang sangat membantu, serta fisioterapis yang sangat meningkatkan kondisi fisik saya. Saya sangat bersyukur bisa pulih dengan cepat. Setelah hanya sebulan, saya kembali bekerja paruh waktu.

Namun tetap saja ada ketidakpastian. Elma bertemu seorang pria di rumah sakit yang mengalami kekambuhan, dan ia menjadi sangat dan permanen terganggu. Ketika saya lelah atau batuk, Elma sangat waspada untuk memastikan saya menjaga diri. Ia takut kehilangan saya jika itu terjadi lagi. Kadang-kadang saya melihat kekhawatiran itu di wajahnya. Ya, saya memang membaik, tapi di dalam benaknya selalu ada pertanyaan: “Bagaimana jika itu terjadi lagi dan hasilnya jauh lebih buruk?”

Jika Anda atau seseorang yang Anda cintai sedang menderita akibat fisik atau emosional dari trauma, sangat membantu untuk berbicara dengan seseorang. Anda tidak sendirian, kami juga pernah mengalaminya. Jika Anda meninggalkan informasi kontak di bawah ini, seseorang akan menghubungi Anda untuk mendengarkan dan memberikan dukungan.

Kehilangan Pekerjaan

Kehilangan pekerjaan adalah masalah besar. Dalam skala stress menurut Holmes dan Rahe, kehilangan pekerjaan ada dalam peringkat ke 8, dari hal-hal yang paling membuat stres yang dapat dialami oleh seseorang (hal yang yang lebih membuat stres dari PHK diantaranya, kematian, perceraian dan masuk penjara). Jika kamu merasa kewalahan, itu sangat normal. Aku juga merasakan hal yang sama.

Aku tidak terlalu memikirkan hal itu ketika atasanku memanggilku ke ruangannya hari itu. Tetapi ketika aku melihat perwakilan dari HRD duduk di sudut ruangan, aku makin yakin apa yang akan terjadi. Aku ingat ketika bertanya,”Apakah ini seperti yang saya pikirkan?” Dan benar. Aku kehilangan pekerjaanku hari itu. Hal berikutnya terjadi sangat cepat.

Pemotongan biaya anggaran. Mohon maaf, PHK. Aku telah bekerja untuk organisasi itu selama 15 tahun.

Hal itu terjadi sekitar setengah jam. Aku ingat pada awalnya tubuhku seperti mati rasa, terguncang. Aku berjalan cukup jauh setelah itu mencoba mencari tahu apa yang aku rasakan. Aku pikir, aku merasakan banyak hal – takut, marah, sedih, sakit, bingung, malu. Aku ingat mengatakan hal ini dengan keras: “Aku kehilangan pekerjaanku!” Kata-kata itu terasa begitu asing di mulutku.

Sebagian besar dari hidupku, sebagian besar dari rutinitasku sehari-hari sudah berakhir. Selesai. Aku seperti tali yang putus, apakah aku sedang melayang atau jatuh, kadang kala hal itu sulit untuk dibedakan.

Jabatan dan tugas sangat berarti – hal itu menunjukkan siapa kita dan di mana kita seharusnya berada. Ketika hal-hal itu diambil, aku merasa ragu, takut, dan tidak aman. Selama lebih dari 10 tahun aku adalah seorang Editor Senior. Sekarang aku tidak tahu harus menyebut diriku apa. Bagian terbesar dalam hidupku, rutinitasku sehari-hari telah berakhir. Selesai. Aku seperti tali yang diputuskan dan apakah aku sedang melayang atau jatuh; kadang kala sulit membedakannya.

Aku tahu beberapa orang mendapati bahwa perubahan dan pilihan itu suatu yang membebaskan, tetapi aku cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang menekan. Aku seorang perencana (ini adalah kata-kata halus dari – aku kuatir tentang hal-hal yang rinci). Sekarang aku memiliki banyak pertanyaan yang tak dapat kujawab. Aku tidak tahu jika aku mencari pekerjaan yang lain di bidang yang sama atau apakah ini waktunya untuk melepaskan ikatan dan mencoba sesuatu yang sama sekali baru. Apakah aku ingin bekerja kantoran? Apakah aku ingin kuliah lagi? Apakah ada pekerjaan seperti ini di luar sana, dan jika ada, bagaimana mendapatkannya? (Dan bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?)

Masa depan menjadi hal besar yang tidak diketahui dan itu menakutkan. Lebih dari sekali aku berkata, ”Aku harap dapat menghindari bagian yang tidak pasti ini dan melompat ke depan di mana aku punya pekerjaan yang baru dan nyaman.” Ya, bukankah kita juga ingin seperti itu? Pertumbuhan adalah sesuatu yang berat dan sering kali kacau dan menyakitkan. Aku tahu ini hanyalah akhir dari sebuah bab, bukan akhir dari ceritaku, tetapi sulit untuk mengingat hal itu, ketika aku sedang bekerja keras mencari pekerjaan.

Semua yang engkau inginkan sebenarnya ada di sisi lain dari rasa takut.” — George Addair

Aku mencoba berpikir tentang apa yang sangat aku inginkan dan apa yang ingin aku lakukan untuk mendapatkannya. Ada harapan yang bercampur dengan semua ketidakpastian yang tidak diinginkan. Sepertinya sulit untuk melihatnya dalam beberapa hari ke depan. Ketika aku menulis kisah ini, aku tidak tahu apa yang ada di depanku. Aku memiliki banyak pertanyaan, tetapi tidak memiliki jawabannya. Membicarakan hal itu cukup membantu. Jika kamu ingin berbicara kepada seseorang tentang pengalamanmu, gunakan form di bawah ini. Seorang mentor akan mengontak kamu segera untuk mendengarkan, memberikan dukungan dan berjalan bersamamu.

Korban Pelecehan Seksual

Saat aku berusia delapan tahun, aku menukar boneka anjing kesayanganku dengan pena dan kertas — dan sejak itu aku menjadi seorang penulis. Cerita pendek, puisi, hingga akhirnya naskah drama: aku menulis setiap kali terinspirasi. Inilah yang membuatku berbeda di sekolah dan di gereja. Tidak ada yang mengerti mengapa aku tidak tertarik pada mobil, olahraga, atau video game. Akibatnya, aku sering di-bully di sekolah. Aku menjadi penyendiri.

Di kelas 6, guru kami memberi tugas menulis jurnal mingguan yang harus kami kumpulkan. Awalnya — seperti anak-anak lain — aku menulis tentang apa yang kulakukan di akhir pekan, atau ke mana aku berharap keluarga kami akan berlibur saat musim panas. Namun seiring waktu, aku mulai menggunakan jurnal itu sebagai tempat untuk membuka diri dan benar-benar mempercayai guruku.

Aku pernah mengalami pelecehan seksual, dan menulis jurnal menjadi semacam pelampiasan dari rasa sakit yang kupendam.

Tapi aku tidak pernah menceritakan pelecehan itu pada guruku. Aku terlalu malu, terlalu merasa bersalah. Saat itu, aku pikir semua ini salahku, dan seperti hal lain, pasti aku sendiri yang menyebabkan itu terjadi. Aku dilecehkan antara usia empat hingga enam tahun, dan aku merasa semua itu harus dirahasiakan.

Saat aku tumbuh dewasa, aku merasa malu, dikhianati. Aku meragukan diriku sendiri karena bertanya-tanya: jika aku tidak bicara sejak awal, apakah itu karena aku menikmatinya?

Aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku merasa diriku adalah seseorang yang tidak akan pernah berarti apa-apa dalam hidup. Aku tidak mempercayai siapa pun dan hanya bicara jika diajak bicara. Seperti memar yang kudapat dari para pembully di sekolah, entah bagaimana aku merasa pantas diperlakukan seperti itu. Aku mencoba mengubur kenangan pelecehan itu, tapi dampaknya jelas: kurang percaya diri, kurang rasa percaya, kurang keyakinan. Aku membenci diriku sendiri sampai-sampai aku mulai melukai diriku sendiri, dan aku benar-benar percaya bahwa aku pantas merasakan sakit itu. Aku mati rasa terhadap segalanya kecuali rasa sakit fisik: setidaknya aku bisa merasakan sesuatu.

Masa SMA ternyata lebih sulit. Aku terus meragukan diri sendiri, dan terus memikirkan masa-masa aku dilecehkan secara seksual. Kenapa aku tidak bicara? Apakah karena aku menikmatinya? Pelakuku tidak pernah tahu betapa rusaknya aku secara psikologis akibat perbuatannya.

Akhirnya aku mulai merasa berharga ketika aku diterima di program teater di perguruan tinggi. Belajar teater membuatku bisa bermimpi, tertantang, dan merasa hidup. Tapi aku sangat pandai menyimpan rahasia, dan aku masih belum pernah terbuka pada siapa pun tentang apa yang kualami. Sebagian besar kenangan itu sudah aku blokir.

Pada usia 22 tahun, aku mulai membangun persahabatan sejati dengan orang-orang yang benar-benar mencintaiku apa adanya. Tapi kenyataan masa laluku terus menghantuiku. Jika aku ingin benar-benar utuh dan bebas, aku harus menghadapi rahasia yang tersembunyi jauh di dalam hatiku. Teman-teman ini mengajakku melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya karena dulu aku selalu ditolak di SMA. Aku kesulitan menerima persahabatan dan cinta yang tulus. Masa laluku menghalangi masa depanku.

Ada begitu banyak rasa malu, dan aku masih belum bisa menceritakan hal itu pada siapa pun.

Pada masa ini, aku mulai sering mengalami kilas balik dan mimpi buruk tentang pelecehan itu — yang rasanya sama menyakitkannya dengan kejadian aslinya. Kadang, rasanya seperti mengalami pelecehan lagi: aku terbangun dengan perasaan seolah-olah ada seseorang di kamar dan kejadian itu terulang. Ada begitu banyak rasa malu, dan aku masih belum bisa menceritakan hal itu pada siapa pun.

Rasa takut ditolak kembali menghantuiku. Tapi aku memberanikan diri dan menceritakan apa yang kualami pada seorang teman dekat. Itu adalah terobosan besar. Bentuk terapi terbaik adalah memiliki teman dekat yang memperlakukanmu dengan hormat dan martabat, dan yang mau mendengarkan kapan pun kamu butuh bicara. Aku juga belajar menerima cinta dan percaya bahwa aku layak untuk dicintai.

Seringkali, sebagai laki-laki kita tidak menekankan betapa pentingnya menggali dan membicarakan masalah yang kita hadapi. Sebagai korban laki-laki, aku pikir jika aku bicara, itu hanya akan memperkuat anggapan bahwa aku lemah.

Namun, membicarakannya secara terbuka, mengambil langkah untuk percaya pada seseorang, itulah yang kubutuhkan untuk melepaskan rasa sakit. Menghadapi rasa sakitku sendiri juga membuatku bisa hadir bagi orang lain yang ingin berbagi, tanpa takut dihakimi atau ditolak.

Membicarakannya, menerima penerimaan dan cinta yang tulus dari orang lain, menolak menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi: itulah langkah-langkah penting yang membawaku ke jalan pemulihan.

Jika kamu adalah penyintas pelecehan seksual, lukanya memang dalam, bekasnya berat, emosinya rumit. Tapi kamu tidak sendirian. Jika kamu mengisi data di bawah ini, seseorang dari tim kami akan menghubungimu.

Untuk sudut pandang perempuan, baca kisah Maureen.