Menjadi Ibu Tunggal

Saya merasa terpukul dan benar-benar mati rasa. Hidup berubah seketika. Suami saya mengatakan ia mencintai orang lain dan sudah tidur dengannya. Dia telah menemukan belahan jiwanya—dan itu bukan saya.

Deskripsi peran saya berubah dari ibu rumahan menjadi CEO segala urusan rumah tangga. Saya juga harus kembali masuk dunia kerja setelah tujuh tahun. Kadang saya menjalani dua pekerjaan demi mencukupi kebutuhan sekaligus membesarkan kedua putri saya. Saya tidak yakin bisa melewatinya, dan mantan suami bahkan mengatakan dia tidak yakin saya akan berhasil.

Lingkar pertemanan kami hancur berkeping-keping, dan saya tahu orang-orang bergosip di belakang: “Kamu sudah dengar yang terjadi pada Linda?” Hati saya remuk. Saya merasa malu, menyesal, bersalah, dan kegagalan—tapi yang paling menghantam adalah rasa terkejut. Ini seharusnya tidak terjadi pada keluarga kami. Kami adalah keluarga yang tinggal di lingkungan baik, punya dua anak, dan segudang teman.

Apa yang salah dengan saya? Bayangkan perasaan tidak kompeten dan gagal.

Di kepala saya, saya berubah menjadi angka statistik: ibu tunggal bercerai. Bahkan status pajak saya pun “divorced.” Saya sama sekali tak menyangka suatu hari diri saya akan didefinisikan seperti itu.

Saya ingin keluarga kami kembali seperti dulu… tapi lebih bahagia dan sehat, menyelesaikan konflik yang sebenarnya bisa kami selesaikan. Saya ingin kesempatan kedua.

Saya harus mencari tahu siapa Linda sebenarnya. Apa kesukaan, ketidaksukaan, dan keterampilan saya? Keterampilan baru apa yang harus saya pelajari? Selama berbulan-bulan saya merasa sedih dan sangat lelah. Sulit mengakui saya butuh antidepresan untuk menarik diri keluar dari lorong gelap. Saya sering menangis—rasanya saya harus punya saham di perusahaan tisu.

Perjalanan menjadi ibu tunggal ini sepi dan menyakitkan! Saya merasa seperti ditukar dengan model baru, sementara anak-anak saya bersenang-senang bersama pacar mantan suami saya. Dia menanjak kariernya, dan meski taat membayar tunjangan serta biaya kegiatan anak-anak, dia juga membelikan pacarnya berlian dan mengajaknya jalan-jalan. Saya yang dulu membiayainya sekolah dengan uang pas-pasan, kini berjuang sendiri secara finansial, sementara dia menikmati hidup nyaman.

Hidup kini soal “normal baru.” Saya punya identitas dan tanggung jawab baru. Saya harus jadi ibu dan ayah di rumah, menghadapi tantangan keuangan baru—dan belajar keterampilan baru saat kembali bekerja. Ada hari-hari saya panik hebat: biaya sewa jatuh tempo, mobil tiba-tiba rusak. Bagaimana mungkin saya membentangkan anggaran yang sudah kebanyakan kewajiban? Saat itulah saya semakin sadar betapa sendirinya saya.

Meskipun masih bergumul dengan kesepian dan merasa tidak memadai, saya telah jauh melangkah. Saya kini bisa menerima diriku apa adanya: seorang ibu, mantan istri, pekerja, dan teman. Cerita saya masih terus ditulis. Bagaimana dengan cerita Anda? Jika Anda menghadapi tantangan mengasuh anak seorang diri, hubungi salah satu mentor kami dengan meninggalkan alamat email Anda di bawah. Kami ada untuk Anda.

Menjadi Ayah Tunggal

Saya tumbuh di rumah tanpa sosok ayah yang hadir penuh waktu. Saya dikandung dari sebuah perselingkuhan, sehingga hubungan itu dijaga rapat selama bertahun-tahun. Sepanjang masa kecil, saya hanya menemuinya beberapa jam dalam seminggu—lebih sebagai teman bermain daripada sebagai ayah. Saat memasuki SMA, saya mulai membuat pilihan hidup yang buruk: kecanduan narkoba dan alkohol, serta perilaku seksual yang sembrono. Kekacauan itu bertahan lebih dari satu dekade.

Tak lama setelah ulang tahun ke-30 saya, saya dikaruniai seorang putri dari seorang wanita yang nyaris tidak saya kenal.

Segalanya berat sejak awal—pertarungan hukum yang sengit, naik-turunnya emosi, dan pikiran terus-menerus, “Bagaimana saya akan menghadapinya?”

Yang saya inginkan hanyalah menjadi ayah dan memberi anak saya cinta serta perhatian yang tak pernah saya terima dari ayah saya sendiri.

Ibunya memiliki hak asuh utama sejak anak kami masih bayi, meski saya dapat menaiki jadwal kunjungan mingguan dan setiap akhir pekan. Hidup terasa kabur. Saya hampir relapse (dan akhirnya kembali kecanduan), hingga kehilangan jejak siapa diri saya sebenarnya.

Di tahun-tahun pertama, saya kesulitan menjalani peran sebagai ayah. Saya masih membuat keputusan buruk—minum minuman keras dan bersikap serampangan. Saya dan ibunya terus bertikai, dan keuangan menipis. Sesuatu harus berubah—dan cepat.

Karena komunikasi dengan ibunya nyaris tak ada, saya belajar sendiri seluk-beluk pengasuhan: manajemen waktu, mengganti popok, memberi makan, dan berinteraksi dengan putri saya. Meski tanpa panutan, saya cepat menyesuaikan diri.

Menjelang ulang tahun pertamanya, saya berbalik total. Iman saya bertumbuh, saya bergabung dengan komunitas ayah tunggal yang saling mendukung, dan akhirnya mendirikan kelompok pendukung bagi ayah-ayah tunggal lain. Hidup tetap menantang… tapi kini ada secercah harapan. Seiring waktu, iman saya kian kuat, saya benar-benar lepas dari kecanduan, dan mendapatkan pekerjaan tetap. Saya menutup pintu-pintu lama yang merugikan, dan membuka peluang baru. Saya mencurahkan diri menjadi ayah yang baik, belajar dari setiap kesalahan.

Kini, saya dan putri saya memiliki hubungan luar biasa. Meski saya bukan pemegang hak asuh utama, saya tetap “Ayah” baginya. Saya telah melewati masa-masa kelam, dan meski tantangan masih ada, saya yakin lebih siap daripada sebelumnya untuk menghadapinya dan membesarkan putri saya sebaik mungkin.

Apakah Anda juga seorang ayah tunggal yang bergumul dengan tantangan—baik soal komunikasi dengan mantan pasangan, berusaha menjadi ayah yang baik, atau mengatasi kehilangan? Salah satu mentor kami siap mendengarkan dan menemani perjalanan Anda. Silakan isi formulir kontak di bawah.