Gegar Otak

 

Saya selalu menjadi pribadi yang termotivasi dan ambisius. Pada tanggal 5 Oktober 2010, saya mengalami gegar otak pertama saat bermain voli. Saya dibawa dengan ambulans ke ruang gawat darurat, dan mereka hanya menyuruh saya pulang serta minum Advil. Itu adalah gegar otak pertama dari tujuh yang saya alami.

Saya mengabaikan gejalanya selama beberapa bulan, sampai akhirnya sakit kepala menjadi begitu parah hingga tidak ada obat yang mampu meredakannya. Saya terpaksa keluar dari kuliah. Kinerja saya di tempat kerja menurun drastis. Saya banyak menghabiskan waktu duduk di ruang bawah tanah yang gelap.

Selama dua bulan berikutnya, saya bolak-balik ke berbagai dokter — spesialis, ahli saraf, dan terapis. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Akhirnya, beberapa spesialis mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa saya mengidap kanker otak.

Itu menghancurkan saya.

Saya tidak pernah memberi tahu siapa pun. Saya terus berbohong tentang kondisi saya. Saya tidak pernah mengakuinya, tapi saya benar-benar hancur. Suatu malam saat saya sedang mengemudi pulang larut malam, saya mencoba membelokkan mobil saya ke arah truk besar yang datang dari depan, tetapi saya tidak bisa memutar setir. Saya menggunakan kedua tangan untuk menarik mobil saya ke arah truk itu, tetapi tidak terjadi apa-apa. Kami hanya melintas begitu saja.

Saya bolak-balik ke berbagai dokter selama dua bulan. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Akhirnya, beberapa spesialis mulai mempertimbangkan kemungkinan saya mengidap kanker otak.

Seminggu kemudian, saya berada di kamar saya, dipenuhi pikiran bahwa saya akan mati karena kanker otak di usia 18 tahun. Saya ingin mengambil alih kendali atas segalanya. Jadi, untuk kedua kalinya dalam seminggu, saya mencoba bunuh diri. Saya berniat menaruh mulut saya di atas knalpot mobil, tetapi saya tidak bisa menemukan kedua set kunci mobil saya. Belakangan saya menemukannya — keduanya duduk di atas meja samping tempat tidur saya. Saya tidak memberi tahu siapa pun tentang hal ini selama beberapa bulan.

Setelah dua kali percobaan bunuh diri yang gagal dan kabar bahwa saya tidak menderita kanker, saya mulai melanjutkan hidup saya. Atau lebih tepatnya, saya mencoba melanjutkan apa yang tersisa dari hidup saya. Segala hal yang saya hargai dan sukai — seperti menyelesaikan kuliah, bermain olahraga, dan menghabiskan waktu bersama teman — sangat terpengaruh oleh kondisi kesehatan saya.

Musim panas itu, saya mengalami dua gegar otak lagi. Rasa sakitnya kembali memburuk. Orangtua saya terus menyarankan agar ada beberapa orang datang dan mendoakan saya. Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan ide itu, tetapi karena desakan orangtua, akhirnya saya setuju. Mereka juga membantu saya untuk mematahkan banyak kebohongan yang mulai saya percayai tentang diri saya sendiri. Saya sangat stres karena merasa diri saya begitu tidak berguna. Tak lama setelah itu, semua rasa sakit dan gejala saya menghilang. Saya tidak benar-benar bisa menjelaskan apa yang terjadi.

Saya tahu bahwa penderitaan bisa membentuk karakter, tetapi mengetahui hal itu tidak banyak membantu ketika kita sedang berada di tengah-tengahnya. Jika kamu sedang tersandung karena masalah kesehatan, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Gunakan formulir di bawah ini untuk terhubung dengan kami.

Tonton kisah Brett

 

Aktifkan javascript di browser Saudara jika formulir ini tidak dimuat.

Sakit Kronis

Rasa sakit adalah hal terakhir yang saya sadari saat tertidur setiap malam, dan hal pertama yang menyapa saya setiap pagi. Ini adalah rasa sakit neurologis yang terasa seperti terbakar, kesemutan, dan mati rasa. Selama 20 tahun terakhir, ia telah menjadi teman yang selalu menemani saya. Walau tingkat keparahannya berubah-ubah, rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Ketika saya mengalami kekambuhan—yang juga menyebabkan kelemahan parah di sisi kanan tubuh saya dan kelelahan yang luar biasa—rasa sakit itu menjadi tak tertahankan.

Kekambuhan pertama saya terjadi tak lama setelah kelahiran anak ketiga saya. Awalnya, dokter menduga saya terkena stroke. Lalu mereka menyingkirkan kemungkinan multiple sclerosis dan penyakit neurologis lainnya. Hingga kini, dokter keluarga saya menyebutnya sebagai “Neurological Syndrome X.”

Di tahun-tahun awal, saya bergumul dengan rasa putus asa, frustrasi, bahkan depresi. Tugas-tugas sehari-hari yang paling sederhana pun berubah menjadi tantangan yang mustahil. Mengikat tali sepatu, mandi, berpakaian, menyiapkan makan malam, berjalan ke taman—semuanya tak bisa saya lakukan. Saya senang saat bisa menyelesaikan pekerjaan saya dan menyenangkan orang-orang yang saya cintai. Tapi saya merasa terus-menerus mengecewakan mereka.

Sering kali saya menangis sendirian di kamar karena sekali lagi harus berkata kepada orang yang saya cintai, “Saya tidak bisa melakukannya hari ini. Maafkan saya.” Saya begitu ingin sehat agar bisa melakukan apa yang saya inginkan setiap hari. Namun setiap kali saya memaksakan tubuh saya, gejalanya justru semakin parah. Jauh lebih parah. Dalam keputusasaan, saya terus memohon kepada Tuhan agar menyembuhkan saya, tapi itu tak terjadi.

Di tahun-tahun awal itu, banyak orang di sekitar saya berusaha membantu dengan memberi saran yang tidak saya minta. Ada yang bilang saya sakit karena tidak mengonsumsi suplemen atau tidak mencoba pengobatan alternatif yang mereka jual. Ada juga yang bilang semuanya hanya ada di pikiran saya dan saya harus bersikap kuat, percaya diri, dan semuanya akan baik-baik saja. Yang lain yakin saya sakit karena kurang iman atau karena dosa tersembunyi. Saya tahu mereka semua berniat baik, tapi kata-kata dan sikap mereka sangat menyakiti saya. Saya merasa sendirian, dihakimi, dan tidak dimengerti.

Setiap kali saya memaksa tubuh saya untuk berbuat lebih, gejalanya justru semakin parah—jauh lebih parah.

Selama tujuh tahun saya mengalami kekambuhan demi kekambuhan tanpa kelegaan. Lalu, suatu hari, putri sulung saya didiagnosis dengan penyakit celiac. Ia harus menjalani diet bebas gluten, dan saya memutuskan untuk ikut agar ia tak merasa sendirian. Hanya dalam tiga hari setelah menghilangkan gluten dari diet saya, saya mulai merasakan kelelahan yang mereda dan kekuatan di sisi kanan tubuh saya kembali. Namun rasa sakitnya tidak pernah hilang.

Dalam 13 tahun setelah penemuan penting itu, tingkat aktivitas saya meningkat pesat. Saya hanya mengalami beberapa kekambuhan—hampir semuanya karena tak sengaja mengonsumsi gluten. Saya masih mengalami nyeri setiap hari, tapi pada tingkat yang bisa ditoleransi. Saya bahkan bisa kembali bekerja paruh waktu sebagai penulis dan penerjemah serta mulai berolahraga secara teratur.

Namun enam bulan terakhir ini, saya mengalami kekambuhan demi kekambuhan. Kondisi saya perlahan memburuk. Gejala mulai muncul di sisi kiri tubuh saya juga. Penglihatan saya mulai kabur karena otot di mata kanan saya melemah. Saya hanya bisa bekerja di depan komputer dalam waktu yang sangat singkat. Membaca yang dulunya menjadi kegembiraan kini menjadi pekerjaan yang melelahkan. Saya kembali mengalami kelelahan, nyeri, dan kelemahan yang terus-menerus.

Saya merasa begitu tak berdaya menghadapi musuh yang terus menyerang ini. Dulu saya pikir saya bisa mengendalikan penyakit ini dengan menghindari gluten, tapi sekarang saya tahu ada hal-hal lain yang bisa memicu kekambuhan. Akankah saya bisa menemukan apa saja pemicunya dan menghentikannya? Akankah saya bisa membaik lagi? Saya takut memikirkan kemungkinan tubuh ini akan semakin lumpuh dan tak bisa bergerak. Saya pikir ketakutan itu sudah berlalu, tapi kini saya kembali ke titik yang sama seperti 20 tahun lalu. Saya tahu solusi atas kekhawatiran adalah dengan hidup sepenuhnya di saat ini—fokus pada apa yang bisa saya lakukan, bukan apa yang tidak bisa. Tapi sangat sulit untuk tidak memikirkan masa depan.

Saya tahu bagaimana rasanya menghadapi rasa sakit dan kelemahan setiap hari. Bagaimana rasanya kehilangan harapan untuk sembuh. Jika kamu juga sedang berjuang dengan nyeri kronis atau penyakit jangka panjang, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Jangan ragu untuk menulis dan bercerita kepada kami. Terkadang, saat kita merasa sakit dan sendirian, yang paling kita butuhkan hanyalah kehadiran yang penuh kasih dan pengertian—seseorang yang mau mendengarkan dan memahami. Saya tahu betapa besar dampaknya bagi saya. Saya yakin itu juga bisa sangat membantu kamu.

Emotional Abandonment

Aku ditinggalkan sendirian dalam pernikahan kami. Suamiku tidak tahu bagaimana mengakui perasaanku atau menunjukkan dukungannya padaku. Setelah tujuh tahun berpacaran dan tiga belas tahun menikah, kami perlahan-lahan menjadi orang asing — sampai pada titik di mana saling pengertian memudar dan nyaris tidak ada lagi jejak koneksi di antara kami.

Aku ingin dia mendengarkanku, menunjukkan bahwa dia peduli terhadap apa yang aku rasakan, dan menyadari apa yang sedang kualami. Tapi itu bukan sesuatu yang ingin dia lakukan. Dia menjadi “sahabat terbaik” bagi orang-orang di luar rumah, tetapi selama bertahun-tahun aku merasa seperti selalu menjadi pilihan kedua untuk segalanya. Aku terus berpikir, Andai saja dia mau menjadi temanku. Ketika aku mengatakan padanya bagaimana perasaanku, dia malah mengabaikan perasaanku, seolah-olah tidak nyata. Kami menjadi orang asing, tinggal serumah namun jarang berbicara. Kalaupun berbicara, biasanya berakhir dengan pertengkaran. Kami bahkan tidur di kamar terpisah karena dia tidak ingin berada di dekatku.

Ketika suamiku ada di rumah, dia tidak benar-benar hadir untukku dan anak perempuan kami. Dia telah pergi secara emosional sejak bertahun-tahun lalu, tapi aku tidak membiarkan diriku menerima kenyataan itu. Dia menghabiskan begitu banyak waktu di luar rumah hingga pada dasarnya aku membesarkan anak kami seorang diri. Orang-orang menyukainya — dia adalah pahlawan mereka dan mereka butuh bantuannya. Tapi semua itu justru menjauhkannya dari keluarganya sendiri. Pada akhirnya, dia hanya menjadi seorang penyedia kebutuhan, padahal aku juga membutuhkannya sebagai rekan dalam mengasuh anak.

Suamiku adalah seorang pecandu alkohol dan juga gila kerja. Dia butuh minum alkohol setiap hari sebelum menyudahi harinya, dan dia selalu menyimpan banyak stok minuman keras di rumah. Dia sering bekerja di akhir pekan. Saat aku menunggunya pulang di malam hari, dia justru masih di kantor mengerjakan sesuatu atau pergi keluar bersama teman-temannya. Ketika akhirnya dia pulang, bukannya bersamaku, dia malah terus minum dan terpaku pada ponselnya hingga larut malam. Kami bahkan jarang makan bersama. Beberapa hari dalam seminggu dia pulang jam satu pagi atau lebih, mengatakan bahwa dia sudah makan dan aku tidak perlu menunggunya.

Yang mengejutkanku, di tahun-tahun terakhir pernikahan kami, aku menyadari bahwa dia sudah menemukan orang lain.

Dia sering mengatakan bahwa dia sudah selesai secara emosional, mental, dan fisik denganku, tapi aku tidak pernah benar-benar menerima kata-katanya. Yang mengejutkanku, di tahun-tahun terakhir pernikahan kami, aku menyadari bahwa dia sudah menemukan orang lain. Aku menutup mata terhadap perselingkuhannya dan terus hidup bersamanya walaupun aku tahu dia secara emosional dan fisik terlibat dengan wanita lain. Aku hanya tidak ingin melepaskannya. Aku takut ditinggalkan sepenuhnya.

Ketika semuanya benar-benar tersadar olehku, aku mengasingkan diri. Aku ingin sendirian karena aku merasa tak punya lagi yang bisa kuberikan padanya. Aku berperang dengan pikiranku sendiri dan dengan hubungan kami. Jika aku membahas perilakunya, kami akan bertengkar dan kemudian dia akan mabuk. Aku pergi ke psikolog, mengira aku sedang mengalami gangguan saraf. Aku mulai mengonsumsi obat resep untuk depresi. Obat-obatan itu membuatku merasa seperti aku sakit dan sendirian tanpa harapan.

Dia tidak pernah melihat apa yang terjadi padaku karena dia terlalu sibuk atau memang tidak ada. Aku hancur karena dia tidak pernah mengakui perannya dalam kehancuran pernikahan kami. Dia menyalahkanku sepenuhnya. Ketika aku memintanya ikut konseling pasangan, dia menolak. Karena aku tetap pergi ke psikolog sendiri, dia mulai memberi tahu keluarga dan teman-teman bahwa aku punya gangguan mental.

Selama bertahun-tahun aku menutup diri.

Tapi aku berhasil melewati depresiku dengan mulai bekerja untuk diriku sendiri — hanya untuk diriku sendiri. Aku menjangkau anggota keluarga dan teman-teman yang menerimaku apa adanya. Aku bergabung dalam komunitas yang sehat, yang membantuku keluar dari belenggu pernikahan yang mati — pernikahan yang selama ini aku pikir adalah salahku. Aku menyadari bahwa aku perlu kembali kepada Tuhan untuk menerima cinta dan penerimaan tanpa syarat yang aku butuhkan.

Selama bertahun-tahun aku menutup diri. Ada luka emosional yang mendalam, dan karena tidak membagikannya serta tidak mengizinkan diriku untuk diperbarui, aku menanggung semua beban hidup sendirian. Dengan melepaskan hubungan yang telah mati, aku bisa mengalami penyembuhan dan menjadi diriku sendiri lagi, memulai sesuatu yang baru.

Aku merasa kini aku sedang dalam proses pemulihan. Semua yang telah kulalui membuatku lebih kuat dari yang pernah kubayangkan. Aku telah menjalani hidup dalam banyak warna — beberapa dingin, beberapa hangat. Apa pun warna yang telah kulukis di kanvas hidupku sejauh ini, semuanya membentuk diriku yang sekarang. Kini aku percaya bahwa ada tujuan dalam perjuanganku.

Jika kamu sedang mengalami pengabaian emosional hari ini, aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Mengulurkan tangan untuk membicarakannya adalah bagian besar dari perjalananku menuju pemulihan. Jika kamu bersedia meninggalkan alamat email dan namamu di bawah ini, salah satu mentor kami yang bersifat gratis dan rahasia akan segera menghubungimu untuk mendengarkan dan mendukungmu. Kamu boleh menggunakan nama asli atau nama samaran. Itu terserah kamu.

Nama penulis diubah demi menjaga privasi.

Duka yang Mendalam

Duka yang Mendalam

Hampir setiap orang yang aku kenal telah terpengaruh oleh kanker pada satu titik atau lebih dalam kehidupan mereka. Apakah mereka sendiri yang terkena kanker, atau kenal seseorang yang mengidap kanker. Beberapa orang hidup dengan kanker, dan banyak yang lain telah menguburkan orang-orang yang mereka kasihi karena hal itu. Kanker adalah penyakit yang merajalela dan kelihatannya menjadi semakin buruk.

Beberapa hari sebelum ulang tahunku yang ke 19, ibuku berkata kepadaku bahwa dokter menemukan benjolan yang mencurigakan di tubuhnya, sehingga mereka ingin memeriksanya. Aku serasa lumpuh karena ancaman tiba-tiba akan penyakit serius. Aku memiliki kerabat jauh yang meninggal karena kanker – tetapi ibuku? Jangan dia! Aku baru saja memasuki tahun kedua di universitas, dan semua berjalan lancar. Tiga hari setelah ulang tahunku, dokter memberi konfirmasi tentang satu hal yang tidak ingin didengar oleh orang lain; ibuku mengidap kanker. Kanker itu telah menyebar ke bagian tubuh yang lain. Operasi bukan pilihan, tetapi ada beberapa perawatan alternatif, kata dokter.

Kanker itu telah menyebar ke bagian tubuh yang lain. Operasi bukan pilihan, tetapi ada beberapa perawatan alternatif, kata dokter.

Ia kemudian memberikan kami binder yang berisi pamflet yang berisi keterangan tentang kanker paru, harapan hidup, dan pilihan perawatan. Banyak sekali.

Beberapa bulan berikutnya merupakan kunjungan non-stop ke dokter. X-ray, CT scan, terapi alternatif dan pengobatan secara agresif. Setiap hari sepertinya lebih buruk dari hari sebelumnya, dan sukacita seperti dirampas dari hati kami. Tubuh ibu memberikan reaksi baik terhadap beberapa bentuk perawatan, dan kemudian beberapa minggu kemudian, scan terakhir menunjukkan pertumbuhan yang baru di tempat lain. Tidak ada yang dapat menghalangi makhluk yang bernama kanker. Yang dengan rakus melahap sel-sel sehat milik ibuku. ibu berjuang melawan kanker selama 14 bulan, dan meninggal pada minggu sore yang dingin di bulan Januari. Hidupku pun berubah selamanya.

Ibuku tidak dapat menghadiri wisudaku, pernikahanku, dan ia juga tidak dapat merayakan ulang tahun anak-anakku. Ini merupakan kenyataan yang paling menyakitkan karena ditinggalkan sendiri. Engkau tidak dapat membuat kenangan baru dengan orang yang kau kasihi. Sejak saat itu, mereka tidak dapat lagi menghadiri setiap ulang tahun, setiap ulang tahun pernikahan, juga Natal.

Banyak orang berkata bahwa semua akan menjadi lebih baik dengan berjalannya waktu. Dalam saat-saat tertentu, itu benar. Hidup harus terus berjalan, dan hubungan yang baru menjadi mekar. Tetapi selalu ada sebuah kekosongan di dalam hatimu. Aku dulu selalu berpikir bahwa kekosongan itu telah merusakku dalam banyak hal. Cukup lama, aku harus menyadari bahwa aku adalahi seorang anak piatu. Aku membenarkan emosi, keputusanku – bahkan sikapku yang penuh kepahitan – karena fakta bahwa aku seorang yang terluka dan hancur, yang rapuh karena badai hidup.

Ini adalah kenyataan yang paling menyakitkan karena ditinggalkan sendiri. Kamu tidak lagi dapat membuat kenangan baru dengan orang-orang yang kau kasihi. Sejak itu, mereka tidak lagi dapat merayakan setiap ulang tahun, ulang tahun pernikahan, juga Natal.

Berduka karena kehilangan orang yang dikasihi adalah sebuah proses yang panjang. Kadang kala, kamu dapat dengan tulus tersenyum saat melalui saat-saat yang menyakitkan dan merasa seperti kamu dapat menendang jauh-jauh apa yang membuatmu sedih. Tetapi kadang kala, kamu bisa menangis seperti seorang anak kecil, benar-benar tenggelam dalam kesedihan.

Cukup lama, saya merasa terpisah dari orang-orang yang ada di sekitarku. Aku merasa seperti aku tidak berhak memiliki kegembiraan yang orang lain miliki. ini adalah nasibku. Aku kemudian bertemu dengan salah seorang teman SMA dan dia menceritakan pengalamannya ketika ibunya meninggal saat ia masih balita. Ia bahkan memberitahuku beberapa sumber yang telah menolongnya. Inisiatifnya untuk terhubung denganku membuka mataku bahwa ada banyak orang di seluruh dunia yang mengalami pergumulan yang sama denganku. Membaca dan mempelajari pengalaman orang lain tidak menghentikan pergumulanku sendiri; tetap hal itu menolongku menyadari bahwa aku bukan satu-satunya orang yang aneh. Aku mungkin merasa aneh dan tidak sempurna, tetapi aku tidak harus merasa sendiri.

Hampir setiap orang memiliki dampak atas kehilangan. Jika kamu kehilangan seseorang, kami ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri.

Berduka bukanlah sebuah keterampilan yang dapat kamu pelajari dari sebuah aplikasi, buku atau video. TIdak ada “juara berduka”, tetapi yang ada adalah orang-orang yang menghadapi kehilangan besar hari demi hari. Kedukaan merupakan jalan yang tidak mudah, karena itu jangan melaluinya seorang diri. Jika kamu memiliki pertanyaan tentang kehidupan, kematian atau apa pun yang ada di antaranya, kami senang dapat terhubung dan berkomunikasi dengan kamu. Silahkan tinggalkan informasi tentang diri kamu dan seseorang dari tim kami akan memberikan respons kepadamu. Mari kita menghadapinya bersama-sama.

 

Kecanduan Obat

Kecanduan Obat

 

 

Baru lulus kuliah, aku mulai mengalami migrain. Aku ingat suatu sore, aku berbaring di bawah meja kerjaku karena kesakitan luar biasa, jadi aku meminum segenggam Excedrin dan beristirahat selama beberapa hari. Rasa sakit itu akhirnya hilang.

Tapi tidak lama — setiap bulan, sakit kepala yang melumpuhkan itu terus datang kembali. Setelah beberapa bulan, aku pergi ke dokter. Dia memberiku suntikan morfin dan mengirimku pulang dengan sekantong obat penghilang rasa sakit. Setelah tidur sepanjang sore, aku merasa luar biasa. Jadi keesokan harinya aku minum pil itu lagi. Rasanya seperti ada saklar lampu di otakku yang menyala: pil membuatku merasa hebat dan menghilangkan rasa sakit. Apa lagi yang aku butuhkan?

Selama satu atau dua tahun berikutnya, aku mulai meminum pil saat merasa migrain akan datang. Lalu, aku mulai meminumnya saat susah tidur, merasa cemas, atau mengalami ketidaknyamanan apapun. Kalau dipikir-pikir, aku sama sekali tidak sadar bahwa aku mulai kecanduan dan bergantung.

Seorang apoteker mulai mempertanyakanku sekitar setahun setelah itu, saat aku ingin menebus resep sebelum waktunya. Saat itu, aku punya pilihan. Apakah aku akan menganggap ini sebagai peringatan? Atau aku akan tetap melanjutkan jalan ini? Sayangnya, aku memilih untuk sedikit menggertak. Jadi, dia tetap memberiku pil-pil itu.

Sejak saat itu, aku mulai menyusun strategi untuk mendapatkan sebanyak mungkin pil. Aku pergi ke berbagai apotek dan dokter — waktu itu, sistem medis belum terhubung secara elektronik, jadi cukup mudah untuk menebus banyak resep sekaligus. Aku menemui dua atau tiga dokter berbeda dan membeli obat pakai uang tunai agar perusahaan asuransi tidak tahu seberapa banyak aku menggunakannya.

Secara umum, aku adalah anak yang baik. Aku baru saja lulus dari universitas Kristen dan menikah muda. Dokter yang paling banyak memberiku pil saat itu — aku sangat menyukainya, mungkin karena dia memberiku begitu banyak pil — berkata, “Yah, kamu tidak punya kepribadian adiktif, jadi aku tidak khawatir.”

Aku tahu ada yang tidak beres. Aku tahu aku berbohong pada dokter, pada apoteker, dan pada istriku. Tapi aku juga tahu bahwa saat aku tidak minum pil, aku merasa sengsara. Aku mengalami gejala putus zat fisik dan emosional yang intens, jadi makin lama makin penting bagiku untuk selalu punya stok.

Selama beberapa tahun berikutnya, aku minum pil, kalau tidak setiap hari, setidaknya dua hari sekali. Aku selalu menghitung hari sampai resepku bisa ditebus lagi. Akhirnya, sampai pada titik di mana pil menjadi hal terpenting dalam hidupku. Aku bolos kerja karena kehabisan pil. Lalu, saat akhirnya mendapatkan pil lagi, aku merasa menjadi Dave yang dulu. Aku berkata pada diriku sendiri, “Orang yang berbohong dan menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk memastikan dia punya pil — itu bukan aku yang sebenarnya. Itu orang lain. Aku cuma melakukan apa yang perlu kulakukan.”

Waktu itu, aku sudah sadar kalau aku kecanduan. Tapi sangat sedikit orang yang mempertanyakannya. Istriku kadang-kadang, tapi dia juga melihat aku kesakitan. Karena aku adalah guru sekolah Kristen, pelatih, dan pendeta muda, tidak ada yang ingin berpikir buruk tentangku. Mereka bersedia mendengar kebohonganku.

Beberapa tahun setelah kecanduanku dimulai, Tramadol (atau Ultram) muncul di pasaran. Sebelumnya aku biasa mengonsumsi Vicodin, dan Tramadol dipasarkan sebagai alternatif yang tidak membuat ketagihan. Tapi lagi-lagi, aku punya dokter tua yang baik hati dengan banyak sampel obat. Suatu hari, dia memberiku sekitar 50 pil. Gratis. Dan obat itu sempurna: tidak membuatku terlalu “tinggi” seperti Vicodin, jadi tidak ada yang menyadari.

Dalam waktu satu tahun, aku tidak bisa melewati satu hari tanpa Tramadol.

Sekitar setiap enam bulan, semua kebohonganku mulai terbongkar. Istriku tahu aku seharusnya tidak minum lebih dari jumlah tertentu, dan aku selalu mengatakan bahwa aku mengikuti dosis yang dianjurkan. Tapi, cepat atau lambat, akan ada uang yang hilang dari rekening bank, atau dokter menelepon rumah untuk konfirmasi janji temu. Atau apotek menelepon memberitahu bahwa resepku sudah siap. Saat itu terjadi, aku akan menangis, mengaku, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku bertahan seminggu atau dua minggu, lalu sesuatu membuatku stres, dan aku kembali cari pil lagi.

Saat itu, aku dan istriku pindah ke Washington karena aku memutuskan kembali kuliah. Dalam hitungan hari, aku menemukan dokter baru; pindah membuat akses ke pil jadi lebih mudah karena aku bisa memulai dari nol dengan orang-orang baru. Ditambah lagi, aku bekerja sebagai sales keliling, yang memungkinkanku mampir ke berbagai klinik dengan dokter yang berbeda. Tapi justru karena itulah aku dipecat: seringkali aku tidak melakukan kunjungan penjualan — aku malah berada di klinik di sepanjang rute untuk cari pil.

Lalu, istriku menangkapku lagi; aku lupa soal pinjaman gaji $700 yang aku ambil. Jadi saat itulah aku setuju untuk pergi ke rehabilitasi untuk pertama kalinya. Sejujurnya, aku sangat lega. Aku tidak perlu menyembunyikan kebohongan ini lagi. Aku selalu ingin mendapatkan bantuan, dan memang ingin berhenti — hanya saja, tidak cukup ingin. Aku tidak ingin konsekuensi dari menggunakan, tapi aku masih ingin menggunakan karena itu membuatku merasa normal, bisa berfungsi. Tapi hari itu, aku tidak menceritakan semuanya padanya. Aku hanya mengaku sejauh yang ketahuan. Aku meminimalkan seberapa parah kecanduanku dan mencoba mencari tahu sejauh mana dia tahu agar aku tidak perlu mengungkapkan seberapa dalam aku terjebak.

Aku dan istriku sama-sama berpikir bahwa begitu aku masuk rehabilitasi, semuanya akan sembuh. Ini mentalitas yang sama seperti saat awal — kamu sakit, kamu ke dokter, dan kamu sembuh.

Selama di rehabilitasi, semua kebohongan dan tagihan mulai muncul ke permukaan. Aku tidak ada di sana untuk menyembunyikan kondisi keuangan kami dari istriku, seperti yang sudah kulakukan bertahun-tahun. Dan begitu keluar, aku harus menghadapi kenyataan. Jadi aku mulai menggunakan lagi untuk mengatasi stres, awalnya cuma sedikit. Aku cuma akan ambil satu supaya bisa bertahan hari ini, pikirku. Tapi dalam enam bulan, aku kembali ke jumlah yang sama seperti sebelum rehab: 20–30 pil per hari.

Saat menggunakan, aku melakukan hal-hal yang memalukan. Aku pernah meninggalkan keempat anakku sendirian di rumah. Aku memakai kartu kredit orang tuaku untuk beli pil. Aku menggadaikan cincin kawin.

Meski aku merasa malu, itu belum cukup untuk mengubah perilakuku. Hal terpenting dalam hidupku adalah memastikan aku merasa baik. Dan satu-satunya cara yang kutahu untuk merasa baik adalah dengan minum pil. Maka dimulailah siklus: aku minum pil untuk merasa lebih baik, lalu saat efeknya habis, aku merasa lebih buruk karena rasa bersalah dan malu. Untuk mengatasinya, aku minum pil lagi. Dan spiral itu terus berlanjut.

Setelah dipecat dari pekerjaan sales, aku akhirnya mendapat pekerjaan sebagai direktur kamp gereja. Itu pekerjaan impianku. Setelah diterima, aku menceritakan sebagian kisahku, tapi aku menyembunyikan banyak bagian penting, meminimalkan masalahku. Awalnya aku cukup kuat; jarang pakai pil. Tapi akhirnya, aku membiarkan diriku stres dan terisolasi. Aku punya teman, tapi tak ada yang benar-benar mengenalku, jadi aku kembali memakai pil untuk mengatasi semuanya.

Aku tahu ada yang tidak beres. Aku tahu aku berbohong pada dokter, apoteker, dan istriku. Tapi aku juga tahu bahwa saat aku tidak minum pil, aku merasa sengsara.

Sekitar tiga tahun di pekerjaan itu, aku membeli pil secara online. Lalu aku ketahuan. Itu kegagalan yang sangat publik, memalukan, menyedihkan. Tapi kini tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Seluruh kebenaran akhirnya terungkap.

Jadi, aku dipecat. Saat itulah segalanya berubah. Aku berharap bisa bilang bahwa aku berani mengakui semuanya dan berbagi kisahku. Tapi butuh kisahku dibagikan orang lain agar aku akhirnya bisa benar-benar sembuh.

Dan kini aku harus menghadapi akibatnya. Inilah anak-anakku, dibesarkan di kamp tempat mereka bisa naik motor, main paintball, naik kano, dan ke skate park. Dan aku harus menatap mereka dan berkata, “Ayah dipecat karena Ayah seorang pecandu.” Anak usia empat tahun tidak benar-benar paham itu: “Nggak bisa minta maaf aja dan janji nggak ngelakuin lagi?”

Aku juga harus menghadapi istriku. Aku bilang, “Ingat waktu semua terasa baik-baik saja? Ternyata enggak. Aku baru saja dipecat karena masih menggunakan.” Meskipun dia marah besar, dia tidak pernah berniat meninggalkanku. Aku pikir dia pasti akan meninggalkanku, dan aku tidak akan menyalahkannya jika dia melakukannya.

Kami tidak punya tempat tinggal. Mereka membiarkan kami tinggal di kamp sekitar sebulan lagi, dan karena gejala putus zat, aku terlalu lemah bahkan untuk membantu membereskan rumah. Bukan hanya itu, aku harus diawasi — secara harfiah. Aku tidak bisa pergi ke mana pun tanpa ada yang mengawasi. Aku tidak bisa dipercaya. Aku ingat berpikir, Aku akan tunggu lima menit. Aku akan tunggu lima menit. Setelah itu aku akan cari cara dapat pil. Lalu setelah lima menit, aku berpikir, Yah, aku bisa tunggu lima menit lagi. Itu berlangsung selama sekitar dua minggu.

Ketergantungan fisik akhirnya terputus, dan aku mulai bisa berfungsi sedikit. Kami berenam pindah dari kamp ke kondominium dua kamar milik orang tuaku. Ajaibnya, aku mendapat pekerjaan dalam sebulan setelah dipecat, dengan gaji $13 per jam di sebuah LSM lokal. Jenis pekerjaan yang harus absen masuk dan keluar, dan aku diantar-jemput.

Selama tahun pertama, setengah dari waktu aku gemetar dan berkeringat karena masih mengalami putus zat; aku hampir tidak bisa fokus. Tapi semuanya berjalan. Aku dipromosikan setiap enam bulan. Saat keluar dari sana, aku sudah jadi manajer senior.

Beberapa bulan pertama setelah aku bersih, aku pikir aku tidak akan pernah bisa menikmati hidup lagi. Warna tampak pudar, aku tidak punya emosi. Tapi dalam beberapa tahun, perlahan semuanya berubah; hal-hal yang dulu menyenangkan jadi menyenangkan lagi.

Aku sangat jarang mengalami keinginan, tapi aku masih merindukan jalan pintas untuk menghindari ketidaknyamanan. Aku masih ikut pertemuan. Tapi selama delapan tahun terakhir, aku bersih. Dan secara ajaib, aku tidak lagi mengalami migrain.

Ceritaku sedikit berbeda dari pecandu lain karena aku punya hak istimewa berupa dukungan keluarga dan orang-orang yang mencintaiku. Saat aku jatuh ke titik terendah, aku belum membakar semua jembatan. Tapi jika melihat ke belakang, aku hanya beberapa langkah lagi dari kehilangan semua dan semua orang.

Jika kamu butuh dukungan sekarang, salah satu mentor online kami dengan senang hati akan menemani perjalananmu. Jika kamu mengalami kecanduan, kamu tidak sendirian. Tinggalkan informasi di bawah ini, dan seseorang dari tim kami akan segera menghubungimu.

 

 

 

Aktifkan javascript di browser Saudara jika formulir ini tidak dimuat.

Kekerasan dalam Rumah Tangga

Luka yang datang dari kekerasan itu tak terbayangkan sampai kamu mengalaminya sendiri. Dan itu bukan hanya sesuatu yang terasa di permukaan, tapi juga menusuk jauh ke dalam, merobek hubungan apa pun hingga hancur berkeping-keping. Ketika kamu disakiti oleh orang yang kamu cintai, dunia seperti runtuh, dan segalanya tenggelam. Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak boleh ditoleransi; saya perlahan-lahan belajar tentang hal ini dalam pernikahan saya yang bermasalah. Saya tidak hanya menerima memar di tubuh, tetapi juga luka di hati dan bekas luka di pikiran.

Di tengah semua itu, saya menulis puisi untuk memproses rasa sakit dan kehilangan.

Aku rindu masa-masa pacaran itu Jam-jam panjang mengobrol Saling mencintai Bertengkar soal hal-hal kecil Obrolan larut malam, berbagi rahasia Mimpi-mimpi aneh, sifat posesif Sikap-sikap, menanti telepon darimu Melihat fotomu dan pesanmu berulang kali Tersenyum tanpa alasan, mempercayaimu sepenuh hati Pelukan dan ciumanmu, keinginanmu yang polos! Dan kini hanya terjebak dalam pernikahan ini, kotak masuk kosong, Tak ada panggilan, tak ada lagi “aku cinta kamu” Kegelapan, luka dan memar, kekerasan dan nyeri Jam-jam kesepian, emosi yang tak terbagi Tangisan tengah malam, rahasia yang menghancurkan hati Pengkhianatan mengejutkan, mimpi-mimpi yang hancur Kenangan yang terhapus, senyuman palsu Kepercayaan yang hancur, derita yang licik — Aku tak tahu mengapa aku begitu terikat padamu!

Setiap kali dia bertengkar dengan saya, saya mengalami tekanan emosional yang sangat berat — saya kehilangan kendali. Dalam keadaan itu, saya memberinya kuasa untuk menyakiti saya. Saat bertengkar, jika dia menunjukkan sedikit kepedulian terhadap perasaan saya, saya langsung mempercayainya. Saya memercayainya. Tapi nyatanya, dia hanya mempermainkan saya, karena masalah ketidakcocokan yang dipicu oleh campur tangan keluarganya yang beragama Hindu, kecanduannya pada alkohol, dan kekejamannya. Jujur saja, dia hampir memperlakukan saya seperti budak.

Alkohol memperparah semuanya. Saat mabuk, dia kehilangan akal dan emosinya — dan di saat itulah dia paling sering melakukan kekerasan fisik. Seburuk apapun kedengarannya, saat itu saya berpikir dia menyakiti saya lebih dari yang pantas saya terima, mungkin karena saya mencintainya lebih dari yang pantas dia terima.

Putri saya tumbuh sambil berkata, “Mama, aku kadang takut Ayah akan memukulku seperti dia memukul Mama.”

Saya mencintainya secara membabi buta, menyembunyikan karakter aslinya dari keluarga dan teman-teman saya selama bertahun-tahun. Saya kehilangan identitas, kehormatan, dan harga diri dalam pernikahan ini. Saya putus asa dan dihina. Saya ditolak olehnya dalam segala bentuk — secara batin maupun fisik. Rasanya saya tak lebih dari sekadar perabotan tua baginya — sesuatu yang ingin dia singkirkan.

Dia tidak sadar bahwa setiap kali dia memukul saya, dia menghancurkan semua cinta dan rasa hormat yang pernah saya miliki untuknya. Seandainya saja dia bisa melakukan hal yang jujur dan manusiawi dengan menceraikan saya karena ketidakcocokan. Tapi dia tidak melakukannya; egonya terlalu besar. Saya tetap bersamanya karena saya terbelah antara tidak ingin menyerah pada orang yang saya cintai dan kenyataan bahwa orang itu sudah tidak ada lagi.

Yang paling menyakitkan, dia selingkuh dengan wanita lain saat masih dalam pernikahan. Saya sudah mencurigainya, tapi dia menyangkalnya selama lebih dari setahun. Namun begitu, dia tetap menggunakan dan menyakiti saya kapan pun dia mau. Saya hancur — saya menjadi gila, hampir tidak tidur atau makan. Saya hampir tidak berbicara padanya atau orang lain. Perlahan-lahan, saya mengalami trauma mental.

Semua ini terjadi di depan mata putri saya. Dia masih ingat dan berkata, “Ayah dorong Mama dan mengunci Mama di kamar mandi.” Putri saya tumbuh sambil berkata, “Mama, aku kadang takut Ayah akan memukulku seperti dia memukul Mama.”

Saya bertahan demi anak saya. Saya ingin tetap dalam hubungan ini agar anak saya tidak melihat orang tuanya bercerai, tapi lingkungan ini terlalu beracun baginya untuk hidup dengan normal.

Selama bertahun-tahun, ketika dia terus menyakiti saya, dia berkata bahwa dia sudah selesai dengan saya dan ingin saya mati. Saya merasa kehilangan segalanya ketika dia mengatakan itu — sampai-sampai saya mencoba mengakhiri hidup saya di depannya. Saya menelan overdosis obat penghilang rasa sakit berbasis morfin yang biasa saya gunakan untuk nyeri punggung.

Itulah titik balik dalam hidup saya; menyakitkan dan mengerikan, karena saya tetap hidup dan berakhir di ICU, berjuang untuk bernapas. Saya merasa hancur dan putus asa, dan hanya ingin mati. Orangtua saya bertahan di samping saya, memberi saya dukungan dan kekuatan yang sangat saya butuhkan untuk pulih. Saya sudah setahun berjuang melawan depresi ringan dan mengonsumsi antidepresan. Di atas ranjang rumah sakit, saya berdoa kepada Tuhan, meminta ampun karena mencoba mengakhiri hidup saya yang berharga hanya karena hubungan yang mati dan penuh kekerasan. Saya menangis sejadi-jadinya. Setelah keluar dari rumah sakit, saya merasa saya bukan lagi wanita lemah seperti dulu.

Saya menyadari kekuatan dalam diri saya, bahwa penderitaan saya telah membuat saya begitu kuat hingga tidak ada yang bisa mengalahkan saya lagi. Saya ingin bebas dari belenggu penderitaan ini — dari hubungan tanpa harapan yang saya jalani setelah bertahun-tahun menikah. Saya ingin menjadi wanita mandiri yang tidak membutuhkan pria. Akhirnya, saya mulai menyerah pada hubungan yang penuh kekerasan ini. Saya punya kekurangan, dan itu tidak apa-apa. Tapi saya tidak mau lagi dianggap remeh dan disakiti. Saya tidak ingin lagi tinggal satu atap dengan pria yang telah membawa saya ke titik kehampaan.

Dia kehilangan semua kuasanya atas saya.

Saya menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu. Doa dan bimbingan membawa saya pada keteguhan hati, memberi diri saya kehidupan yang berarti bersama anak saya. Saat dia mulai bertengkar, saya bisa tetap tenang. Dan sebagai akibatnya, dia kehilangan semua kuasanya atas saya. Ketika saya akhirnya sadar bahwa saya tidak menikah untuk disakiti dan dimanfaatkan, dan bahwa lebih baik saya menjadi ibu tunggal daripada memperlihatkan pernikahan yang penuh kekerasan kepada anak saya, semua penderitaan saya perlahan-lahan hilang. Saya telah bertahan melewati neraka dan keluar darinya dengan lebih kuat untuk memulai hidup baru.

Saya tahu saya harus melangkah maju, dan saya pun mulai mengejarnya. Saya telah menangis sejadi-jadinya, tapi setelah itu, saya memutuskan untuk tidak menangis karena kelemahan yang sama lagi. Hari ini, saya tersenyum dari hati, karena saya telah bertahan. Saya pernah jatuh, tapi saya bangkit kembali, lebih kuat dan penuh tekad.

Tak ada perempuan yang pantas mengalami kekerasan fisik. Tapi jika kamu pernah mengalaminya, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian, dan kamu tidak lemah. Kamu cukup kuat untuk bangkit, mencari bantuan dan bimbingan. Salah satu mentor online kami dengan senang hati akan menemanimu dalam perjalanan ini. Silakan tinggalkan informasi kontakmu di bawah, dan kami akan segera menghubungimu.

Nama Penulis diubah demi privasi.