by CKCM | Apr 24, 2025 | Uncategorized
Rasa sakit adalah hal terakhir yang saya sadari saat tertidur setiap malam, dan hal pertama yang menyapa saya setiap pagi. Ini adalah rasa sakit neurologis yang terasa seperti terbakar, kesemutan, dan mati rasa. Selama 20 tahun terakhir, ia telah menjadi teman yang selalu menemani saya. Walau tingkat keparahannya berubah-ubah, rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang. Ketika saya mengalami kekambuhan—yang juga menyebabkan kelemahan parah di sisi kanan tubuh saya dan kelelahan yang luar biasa—rasa sakit itu menjadi tak tertahankan.
Kekambuhan pertama saya terjadi tak lama setelah kelahiran anak ketiga saya. Awalnya, dokter menduga saya terkena stroke. Lalu mereka menyingkirkan kemungkinan multiple sclerosis dan penyakit neurologis lainnya. Hingga kini, dokter keluarga saya menyebutnya sebagai “Neurological Syndrome X.”
Di tahun-tahun awal, saya bergumul dengan rasa putus asa, frustrasi, bahkan depresi. Tugas-tugas sehari-hari yang paling sederhana pun berubah menjadi tantangan yang mustahil. Mengikat tali sepatu, mandi, berpakaian, menyiapkan makan malam, berjalan ke taman—semuanya tak bisa saya lakukan. Saya senang saat bisa menyelesaikan pekerjaan saya dan menyenangkan orang-orang yang saya cintai. Tapi saya merasa terus-menerus mengecewakan mereka.
Sering kali saya menangis sendirian di kamar karena sekali lagi harus berkata kepada orang yang saya cintai, “Saya tidak bisa melakukannya hari ini. Maafkan saya.” Saya begitu ingin sehat agar bisa melakukan apa yang saya inginkan setiap hari. Namun setiap kali saya memaksakan tubuh saya, gejalanya justru semakin parah. Jauh lebih parah. Dalam keputusasaan, saya terus memohon kepada Tuhan agar menyembuhkan saya, tapi itu tak terjadi.
Di tahun-tahun awal itu, banyak orang di sekitar saya berusaha membantu dengan memberi saran yang tidak saya minta. Ada yang bilang saya sakit karena tidak mengonsumsi suplemen atau tidak mencoba pengobatan alternatif yang mereka jual. Ada juga yang bilang semuanya hanya ada di pikiran saya dan saya harus bersikap kuat, percaya diri, dan semuanya akan baik-baik saja. Yang lain yakin saya sakit karena kurang iman atau karena dosa tersembunyi. Saya tahu mereka semua berniat baik, tapi kata-kata dan sikap mereka sangat menyakiti saya. Saya merasa sendirian, dihakimi, dan tidak dimengerti.
Setiap kali saya memaksa tubuh saya untuk berbuat lebih, gejalanya justru semakin parah—jauh lebih parah.
Selama tujuh tahun saya mengalami kekambuhan demi kekambuhan tanpa kelegaan. Lalu, suatu hari, putri sulung saya didiagnosis dengan penyakit celiac. Ia harus menjalani diet bebas gluten, dan saya memutuskan untuk ikut agar ia tak merasa sendirian. Hanya dalam tiga hari setelah menghilangkan gluten dari diet saya, saya mulai merasakan kelelahan yang mereda dan kekuatan di sisi kanan tubuh saya kembali. Namun rasa sakitnya tidak pernah hilang.
Dalam 13 tahun setelah penemuan penting itu, tingkat aktivitas saya meningkat pesat. Saya hanya mengalami beberapa kekambuhan—hampir semuanya karena tak sengaja mengonsumsi gluten. Saya masih mengalami nyeri setiap hari, tapi pada tingkat yang bisa ditoleransi. Saya bahkan bisa kembali bekerja paruh waktu sebagai penulis dan penerjemah serta mulai berolahraga secara teratur.
Namun enam bulan terakhir ini, saya mengalami kekambuhan demi kekambuhan. Kondisi saya perlahan memburuk. Gejala mulai muncul di sisi kiri tubuh saya juga. Penglihatan saya mulai kabur karena otot di mata kanan saya melemah. Saya hanya bisa bekerja di depan komputer dalam waktu yang sangat singkat. Membaca yang dulunya menjadi kegembiraan kini menjadi pekerjaan yang melelahkan. Saya kembali mengalami kelelahan, nyeri, dan kelemahan yang terus-menerus.
Saya merasa begitu tak berdaya menghadapi musuh yang terus menyerang ini. Dulu saya pikir saya bisa mengendalikan penyakit ini dengan menghindari gluten, tapi sekarang saya tahu ada hal-hal lain yang bisa memicu kekambuhan. Akankah saya bisa menemukan apa saja pemicunya dan menghentikannya? Akankah saya bisa membaik lagi? Saya takut memikirkan kemungkinan tubuh ini akan semakin lumpuh dan tak bisa bergerak. Saya pikir ketakutan itu sudah berlalu, tapi kini saya kembali ke titik yang sama seperti 20 tahun lalu. Saya tahu solusi atas kekhawatiran adalah dengan hidup sepenuhnya di saat ini—fokus pada apa yang bisa saya lakukan, bukan apa yang tidak bisa. Tapi sangat sulit untuk tidak memikirkan masa depan.
Saya tahu bagaimana rasanya menghadapi rasa sakit dan kelemahan setiap hari. Bagaimana rasanya kehilangan harapan untuk sembuh. Jika kamu juga sedang berjuang dengan nyeri kronis atau penyakit jangka panjang, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Jangan ragu untuk menulis dan bercerita kepada kami. Terkadang, saat kita merasa sakit dan sendirian, yang paling kita butuhkan hanyalah kehadiran yang penuh kasih dan pengertian—seseorang yang mau mendengarkan dan memahami. Saya tahu betapa besar dampaknya bagi saya. Saya yakin itu juga bisa sangat membantu kamu.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Uncategorized
Apakah kamu sedang kembali jatuh, baru saja didiagnosis, atau telah berjuang melawan penyakit ini selama bertahun-tahun, kami ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian.
Kanker adalah jalan yang menyakitkan dan menakutkan, tetapi kamu tidak harus menjalaninya sendirian. Jika kamu mengisi informasi kontak di bawah ini, seseorang dari tim kami akan hadir untuk mendampingi—mendengarkan, menguatkan, dan mendukungmu di masa sulit ini.
Tonton Kisah Mike
https://vimeo.com/83712372
by CKCM | Apr 24, 2025 | Uncategorized
Aku berada di ruang isolasi lagi – memikirkan bunuh diri, sendirian dengan pikiran yang tidak dapat lagi kukubur. Aku menghadapi penyesalan mendalam akan apa yang telah kulakukan dan orang seperti apa diriku ini. Jika aku terus menelusuri jalan ini, aku tahu aku akan melukai lebih banyak orang dan segera mati. Tetapi satu ketakutan melebihi ketakutan yang lain membuatku tak berdaya.
Bagaimana jika aku tidak akan dapat melihat putriku lagi?
Aku masuk tahanan ketika ia berumur dua setengah tahun, segera sesudah itu, aku masuk penjara. Tidak ada kunjungan satu kali pun selama 2 tahun sesudahnya. Aku tidak tahan memikirkan bahwa ia bertumbuh tanpa ayah seperti yang kualami, atau dia belajar memanggil lelaki lain dengan sebutan “Ayah” – terutama karena aku berada di balik jeruji bersama beberapa pedofil (pelaku kejahatan terhadap anak-anak).
Sendirian di sel berukuran 6 kali 9, aku sampai pada titik menyerah, untuk sungguh berjanji mengubah hidupku apapun yang terjadi. Aku bertekad untuk menjadi bagian dari hidup putriku lagi. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mewujudkannya.
Anda dapat mengatakan bahwa aku mulai menelusuri jalan ke penjara di usia yang masih sangat muda.
Aku tumbuh di Iowa dengan satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Sebagai anak yang berkemauan kuat dan keras kepala, aku melakukan apa pun yang kuinginkan dan tidak mempedulikan apa kata ibuku. Tidak ada tindakan yang mempan untukku. Aku semakin memburuk.
Aku masih memiliki beberapa bekas luka di punggungku dari pukulan yang kuterima.
Aku adalah anak yang licik. Aku ingat bahwa aku suka bermain dengan api. Suatu kali, ketika aku berumur sekitar 6 tahun, aku menyambungkan sebaris kembang api dan menaruhnya di kotak krayon. Aku pikir kembang api itu akan meledak dalam kotak itu dan tetap berada dalam kotak, tetapi kotak itu meledak dan membakar seluruh jendela.
Aku tidak pernah suka otoritas, atau orang kulit putih, dan aku tidak menghargai perempuan. Jadi kalau engkau berkulit putih, memiliki otoritas, dan seorang perempuan, aku sungguh-sungguh tidak menghargaimu. Ini menyebabkan masalah segera ketika aku masuk sekolah. Merasa bosan dan bersikap menentang, aku menjalani dua taman kanak-kanak – dan mendapat banyak pukulan di pantat saat pulang ke rumah. Kenyataannya, di akhir masa sekolahku, aku telah menjalani 3 sekolah dasar, tiga sekolah menengah, dan 2 sekolah menengah atas.
Dan sering, hukuman untukku lebih dari sekedar pukulan di pantat. Keluarga ibuku berasal dari Mississippi, keturunan budak, jadi mereka memegang beberapa mentalitas budak dan memiliki gaya pengasuhan anak yang otoriter. Engkau tidak boleh membantah atau bertanya. Engkau hanya melakukan apa yang dikatakan kepadamu. Mencoba untuk keluar dari jalur berarti aku mendapat pukulan di lebih banyak tempat.
Aku dihajar dengan banyak benda: kabel sambungan, kabel telpon, dan benda-benda lain di rumah. Aku ingat mendapat masalah di sekolah dan pulang rumah berpikir akan langsung dihajar. Tidak, ibuku akan menunggu sampai dia memandikanku, dan begitu aku kering, aku dipukul di pantat. Tidak hanya ibuku; para bibiku juga menghukumku dengan berat. Aku masih memiliki beberapa bekas luka di punggungku dari pukulan yang kuterima.
Kupikir aku mati sebagai anak-anak. Aku menyembunyikan jiwa anak-anak dalam diriku dan sungguh tidak peduli tentang apa pun atau siapa pun. Aku tidak ingat pernah menjadi anak-anak seperti teman sekolahku. Aku terburu-buru bertumbuh untuk segera keluar dari rumah.
Aku tidak tahu siapa ayahku sesungguhnya selama sebagian besar masa kecilku, walaupun aku memiliki ayah tiri – ayah dari adik perempuanku. Ia mengerjakan pekerjaan konstruksi di luar kota dan hanya pulang rumah di beberapa akhir minggu. Tetapi ketika ia datang, ia sering bersikap keras. Ia menghukumku lagi bahkan setelah ibuku sudah menghukumku.
“Bukankah ia mirip denganmu?” Mereka berkata. Kemudian mereka mengatakan terus terang: “Darryl bukanlah pamanmu. Ia adalah ayahmu.”
Tetapi ketika aku berumur sekitar dua belas tahun, nenek, ibu dan bibiku memintaku duduk dan mereka mengatakan, “Kami memiliki hal penting untuk disampaikan padamu.” Kemudian mereka mulai menunjukkan foto seorang laki-laki yang kukenal sebagai Paman Darryl. Ia biasa datang kadangkala mengunjungi nenek. “Bukankah ia mirip denganmu?” Mereka berkata. Kemudian mereka mengatakan terus terang: “Darryl bukanlah pamanmu. Ia adalah ayahmu.”
Aku bingung. Aku sungguh tidak mengerti. Aku tidak punya ikatan atau ketergantungan emosional dengannya. Ia tidak pernah membawaku. Aku sungguh tidak pernah berpikir siapa sebenarnya ayahku. Aku hanya menerima ayah tiriku sebagai ayahku walaupun aku tidak terlalu menyukainya. Tetapi setelah aku tahu, aku mulai peduli. Aku ingin berada di dekat ayah kandungku dan mengenalnya.
Tetapi pada saat itu, aku terlibat banyak masalah. Selama 2 tahun aku lari dari rumah dan dikirim ke tempat perlindungan anak-anak muda dan pusat penahanan. Lebih mudah bagi ayahku untuk tidak terlibat, dan aku tidak tahu apakah ia sebenarnya ingin terlibat. Ketika aku berumur 13 tahun, ia membuat beberapa upaya, tetapi pada saat itu aku sudah keluar masuk banyak tempat tahanan anak.
Aku mencuri sepeda, bergaul dengan anak-anak yang lebih tua yang adalah anggota geng bernama The Vice Lords. Pilihan-pilihanku menjerumuskanku ke jalan yang sangat buruk. Aku teringat satu peristiwa secara khusus. Aku menemukan seikat ganja di sebuah selokan dan membawanya pulang, tetapi kemudian ibuku menemukannya tanpa kuketahui. Ia berkata ia perlu ke kantor polisi untuk mengurus sesuatu dan aku harus menemaninya. Tetapi ketika ia sampai di sana, ia menunjukkan ganja itu pada polisi dan membawaku pada masalah besar dengan polisi.
Jujur saja, aku berpikir ibuku hanya takut dan berusaha melindungiku. Ia adalah perempuan baik yang tidak merokok, minum-minum, atau suka pesta. Ia begitu kuatir bahwa aku berteman dengan gerombolan yang buruk. Ia pikir aku akan kecanduan dan akhirnya mati. Jadi, melihat ke belakang, aku tidak menyalahkan dia.
Tetapi aku marah padanya. Ia biasa berkata padaku, “Preston, kamu dapat menceritakan apa pun padaku.” Tetapi kemudian ia tetap membuat laporan pelarian tentang aku dan memanggil polisi dan membuatku dikirim kembali ke tahanan. Budaya hip hop awal 1990-an di mana aku tumbuh memiliki peraturan ini tentang mengadu – kamu jangan bilang ke siapa pun, jangan pernah! Jika kamu melakukannya, itu adalah bentuk terburuk dari pengkhianatan.
Aku ingat satu hari pernah melonggarkan semua baut ban sedan Thunderbird milik ibuku, karena aku merasa dikhianati. Aku ingin menyakitinya sebagaimana ia menyakitiku. Aku tidak tahu cara lain. Hari berikutnya, ia naik sedan itu seperti biasanya dalam perjalanan panjang untuk bekerja, tetapi bersyukur pada Tuhan, ia tidak apa-apa. Bannya tetap terpasang. Aku begitu bodoh. Ia bisa saja mendapat celaka dan meninggal.
Karena aku sangat sering keluar masuk pusat tahanan dan rehabilitasi, maka orang-orang tidak terkejut ketika aku masuk penjara pertamakalinya di tahun 2003 pada usia 18 tahun. Aku dihukum karena menjual dan menggunakan obat terlarang dan dijerat hukuman 20 tahun, yang kujalani 4 tahun.
Ketika aku keluar penjara, aku ingin berubah, tetapi sulit karena setiap orang yang kukenal masih menjual obat terlarang, merokok, minum minuman keras, dan tindak kejahatan geng. Segera setelah dilepas, aku bertemu ibu dari putriku. Aku memiliki putri di tahun 2008. Tetapi aku melihat teman-temanku memelihara anak-anak mereka dengan menjual obat terlarang, jadi itulah yang kulakukan.
Ketika ia masih balita, aku menepikan kendaraanku “sembarangan” dan petugas menemukan 3 ons ganja. Aku kemudian didakwa dengan kepemilikan ganja dengan niat mengedarkannya dan masuk penjara lagi ketika aku berumur 23 tahun. Karena aku memiliki tindak berat pidana sebelumnya, aku dituntut 15 tahun penjara.
Jadi hari itu, hampir dua tahun sesudahnya, ketika aku berada di ruang isolasi karena berkelahi, aku tidak bisa menyalahkan siapa pun, kecuali diriku sendiri. Aku dapat melihat ke mana pilihan-pilihanku membawa keseluruhan hidupku. Itulah saat ketika aku melepaskan kesombonganku dan berteriak minta tolong pada Tuhan.
Aku tidak ingin menjadi ayah seperti apa yang ayahku lakukan padaku.
Dua bulan sesudah itu, aku mendapat kabar bahwa ibu dari putriku telah mengajukan permohonan kunjungan sehingga putriku dapat datang dengan bibiku untuk mengunjungiku. Aku melihat putriku untuk pertama kalinya setelah lebih dari dua tahun. Dalam kunjungan pertama itu, ia duduk denganku sepanjang waktu tetapi tidak banyak berkata-kata. Ia belum sungguh-sunggun mengenalku. Tetapi bersamanya membuatku lebih bertekad untuk membersihkan kelakuanku dan menjadi bagian dari hidupnya.
Aku tidak ingin menjadi ayah seperti apa yang ayahku lakukan padaku. Aku tahu bahwa pada akhirnya itulah keputusan yang harus kubuat. Aku dapat jatuh kembali pada pilihan yang mengerikan, tetapi putriku kemudian akan bertumbuh tanpa ayah, atau lebih buruknya, tahu bahwa aku ayahnya, tetapi aku tidak bisa datang menemuinya. Ia bisa saja berpikir bahwa aku tidak mengasihinya atau peduli padanya. Anak-anak kecil membuat asumsi. Aku dulu melakukannya.
Aku bebas tahun 2012, tetapi ketika aku menolak untuk kembali pada ibu putriku sebagaimana diharapkannya, ia menjauhkan putriku dariku. Jadi aku bekerja untuk membayar tunjangan anak dan tagihan layanan kesehatan untuk seorang anak yang aku bahkan tidak bisa menemuinya.
Aku belum mampu membeli tempat tinggal sendiri supaya putriku bisa datang mengunjungiku, jadi aku keluar dan mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak dan menyewa sebuah rumah dengan dua kamar tidur. Aku menata satu kamar tidur dengan sebuah ranjang, mainan, dan pakaian yang kubeli untuk putriku. Kemudian aku memperjuangkan di pengadilan. Itu adalah proses selama 18 bulan, tetapi aku berhasil mengatasi keberatan demi keberatan dan akhirnya diberi hak asuh bersama dan akses 50% pada putriku. Ia menghabiskan setiap minggu bersamaku sekarang.
Ia tidak akan kehilangan figur ayah. Adalah sebuah sukacita dan kehormatan untuk menjadi bagian dalam hidupnya dan melihatnya bertumbuh, dan mengetahui bahwa laki-laki seperti apa aku sekarang ini adalah tipe orang yang semoga ia cari ketika nantinya ia ingin mencari laki-laki. Aku bukanlah ayah yang sempurna, tetapi kupikir aku telah menjadi ayah yang cukup baik.
Mungkin, seperti aku, Anda belum benar-benar memiliki seorang ayah dan Anda membuat beberapa pilihan yang buruk. Jika Anda melihat hidup Anda berputar di luar kendali dan Anda ingin memutarnya, aku mendorong Anda untuk mencari bantuan. Sangat penting untuk memiliki orang dalam hidup kita untuk membantu kita percaya bahwa kehidupan yang lebih baik itu adalah mungkin – bahwa kita dapat berubah, satu pilihan yang baik, sehari demi sehari. Jika Anda merasa seperti melawan iblis Anda sendirian, ada para mentor rahasia dan cuma-cuma yang akan senang berjalan bersama Anda dan mendorong Anda melangkah masuk ke masa depan terbaik Anda. Silahkan tinggalkan informasi kontak Anda di bawah ini dan seorang dari tim kami akan segera menghubungi Anda.
Anda tidak perlu menghadapinya sendirian. Isilah formulir di bawah ini dan salah satu mentor kami akan segera membalas. Ini bersikap rahasia dan cuma-cuma.
Para mentor kami bukan konselor. Mereka adalah orang biasa yang bersedia berjalan bersama dengan cara yang penuh kasih dan hormat.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Uncategorized
Paola: Resolusi Tahun Baru kami untuk tahun 2015 adalah untuk hamil. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti hal yang sederhana, tapi bagi kami itu adalah tujuan besar. Tidak ada jaminan apa pun.
Camilo: Kemungkinan kami memiliki anak hampir tidak ada. Saat aku berusia delapan belas tahun, aku sedang berkendara bersama seorang teman ketika mobil kami ditabrak sangat keras dari samping. Mobil kami terguling dan aku terjepit di tanah dengan setengah tubuhku masih berada di dalam mobil. Punggungku patah dan aku lumpuh dari dada ke bawah. Setiap pasangan memiliki alasan yang berbeda dalam menghadapi infertilitas, tapi bagi kami, itu karena kelumpuhanku.
Paola: Jadi saat kami mulai berkencan dan bertunangan, aku tahu bahwa kami mungkin tidak akan pernah bisa memiliki anak. Aku tidak ingin kecewa, jadi aku tidak pernah mengizinkan diriku untuk berharap terlalu tinggi. Hidup kami sebenarnya tidak buruk. Kami menikmati kehidupan pernikahan kami dan mulai menetap di Toronto, setelah pindah dari Atlanta. Wajar kalau kakakku yang lebih tua punya anak lebih dulu, dan aku bahkan tidak keberatan saat adikku yang lebih muda melahirkan anak pertamanya. Tapi ketika dia melahirkan anak keduanya empat tahun lalu, saat itulah aku benar-benar merasakannya: Aku benar-benar ingin punya keluarga. Kalau aku tidak melakukan sesuatu segera, akan terlambat dan tidak akan terjadi. Aku akan segera berusia empat puluh tahun. Aku sering memikirkan soal keluarga, tapi aku sangat menjaga hatiku karena peluangnya sangat kecil.
Camilo: Saat itulah kami mulai mengeksplorasi pilihan untuk fertilisasi in-vitro. Kami sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus, jadi kami mulai menabung dari penghasilan tambahan kami. Prosedurnya akan memakan biaya sekitar dua puluh hingga tiga puluh ribu dolar. Kami tahu bahwa semua tabungan hidup kami akan digunakan untuk sesuatu yang mungkin tidak berhasil.
Aku sering memikirkan soal keluarga, tapi aku sangat menjaga hatiku karena peluangnya sangat kecil.
Paola: Rasanya seperti investasi berisiko tinggi. Uang itu bisa digunakan sebagai uang muka rumah pertama kami. Peluang keberhasilan kami sangat, sangat kecil. Tapi aku tidak ingin suatu hari duduk di dalam rumah besar, terus-menerus diingatkan bahwa kami bahkan tidak mencoba — bahwa aku sebenarnya bisa saja punya bayi.
Camilo: Aku menjalani prosedur khusus di sebuah klinik untuk mengambil spermaku. Mereka mengambil tiga sampel, tapi kabarnya tidak menggembirakan. Hanya sedikit yang hidup dari jutaan, dan itu pun tanpa kemampuan bergerak. Mereka bilang kemungkinannya sangat rendah, tapi kami masih bisa mencoba. Dokter fertilitas menyarankan prosedur di mana mereka akan melunakkan bagian luar sel telur dan mendorong sperma masuk ke dalamnya. Mengetahui kemungkinan kami rendah, kami memilih salah satu klinik fertilitas terbaik di Toronto, meskipun lebih mahal.
Paola: Ketika mereka menjelaskan proses yang harus kulalui, aku sangat takut karena aku harus menerima banyak suntikan dan hormon yang akan sangat memengaruhi tubuhku. Aku berpikir, “Bagaimana kalau aku menjalani semua itu dan ternyata tidak berhasil?” Jadi kami menunggu satu tahun lagi. Lalu tibalah bulan Januari saat kami membuat resolusi Tahun Baru untuk hamil.
Mereka langsung memulai dengan tubuhku. Aku harus mengonsumsi banyak obat untuk meningkatkan jumlah sel telur yang akan dilepaskan tubuhku. Aku sangat khawatir tentang efek sampingnya, tapi tubuhku merespons dengan baik terhadap pengobatan awal. Aku memproduksi dua puluh delapan sel telur yang berhasil dikumpulkan. Dari jumlah itu, sepuluh berkualitas buruk, jadi tersisa delapan belas. Dokter membuahi sepuluh sel telur menggunakan sperma beku, dan membekukan delapan sisanya jika perawatan pertama gagal.
Lalu kami menunggu telepon.
Telepon pertama memberi tahu bahwa tujuh telah mati. Dua hari kemudian, satu lagi mati. Hanya tersisa dua. Pada hari kelima mereka menelepon lagi. Tidak ada embrio yang hidup.
Itu adalah titik terendahku. Aku sangat hancur dan depresi. Aku merasa sangat putus asa. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menjalani semua proses itu lagi.
Camilo: Itu juga adalah momen tergelapku. Aku sudah terbiasa menerima keterbatasanku, tapi saat itu aku harus menghadapi perasaan gagal yang baru — merasa tidak cukup sebagai seorang pria — tidak bisa memberinya keluarga seperti yang ia impikan. Dia sangat sedih dan terluka dan aku tidak bisa membuatnya bahagia.
Paola: Tapi kami tidak mau menyerah, jadi kami mencoba lagi dengan sperma segar. Di tahap kedua ini, aku benar-benar mencoba melindungi hatiku, bahkan tidak mau memikirkan tentang bayi. Aku bilang ke mereka untuk tidak menghubungiku — cukup hubungi Camilo saja. Aku terbang ke Kolombia untuk tinggal bersama keluarga dan mencari dukungan. Aku sangat takut menerima kabar buruk lagi.
Camilo: Setelah mereka membuahi delapan sel telur yang tersisa, aku menunggu telepon.
“Lima telah mati…”
“Dua lagi mati…”
“Hanya satu yang tersisa.”
Paola: Lalu dokter langsung meneleponku. Dia sangat bersemangat: “Ini yang bagus. Kualitasnya sangat tinggi.” Camilo meneleponku dan berkata, “Kamu harus cepat pulang ke sini supaya bisa segera dimasukkan ke tubuhmu!”
Kami harus menunggu tiga hari untuk melihat apakah kami benar-benar hamil.
Sesampainya di Toronto, mereka memberiku lebih banyak obat untuk mempersiapkan tubuhku menerima embrio beku. Saat harinya tiba di bulan Oktober, kami bahkan menonton di layar ketika embrio itu dimasukkan ke rahimku. Ada yang tampak seperti gelembung saat suntikan diberikan. Dokternya berkata bahwa embrio kami berjalan sesuai harapan. Setelah itu semuanya tergantung tubuhku untuk menempelkannya ke dinding rahim. Dokter tidak bisa membuat itu terjadi. Kami harus menunggu tiga hari untuk melihat apakah kami benar-benar hamil.
Dan ternyata iya!
Minggu pertama berjalan lancar. Aku masih hamil. Minggu berikutnya juga baik-baik saja. Tapi kami diberi tahu bahwa kami harus menunggu tiga bulan sebelum bisa dengan yakin mengatakan bahwa kami mengandung dan memberi tahu orang lain.
Camilo: Kami menjalani satu hari dalam satu waktu, mencoba untuk tidak terlalu berharap. Kami masih takut dan gugup. Peluang saat itu masih sekitar 50/50. Setelah setiap pemeriksaan, ketika mereka berkata, “Kamu masih hamil,” kami menghela napas lega.
Ternyata, titik tiga bulan itu jatuh pada tanggal 31 Desember 2015. Resolusi Tahun Baru kami menjadi kenyataan di hari terakhir tahun itu!
Paola: Itu adalah hari terbaik dalam hidupku. Itu adalah kelegaan besar dan kebahagiaan yang luar biasa. Kami masih harus menjalani hari demi hari, tapi tekanan itu jauh berkurang. Kami bisa rileks dan membagikan kabar ini! Kehamilanku penuh dengan komplikasi, tapi putri kami, Antonia, lahir ke dalam hidup kami pada tanggal 9 Juli 2016. Sekarang dia sudah berusia enam bulan.
Memiliki kelompok pendukung dari keluarga dan teman sangat membantu perjalanan kami. Kami bisa berbagi harapan, ketakutan, dan keraguan, yang membuat semuanya jauh lebih mudah dijalani. Infertilitas bisa menjadi hal yang sangat sulit untuk dibicarakan secara terbuka. Jika kamu merasa sendirian sebagai individu atau pasangan dalam perjuangan ini, ketahuilah bahwa kamu tidak harus menjalani semuanya sendiri. Jika kamu mengisi informasi di bawah, seseorang dari tim pendamping kami akan segera menghubungimu untuk mendampingi dalam perjalananmu.
by CKCM | Apr 24, 2025 | Uncategorized
Kehilangan si kecil adalah luka yang seharusnya tidak perlu dialami oleh siapa pun sebagai orang tua — namun terlalu banyak dari kita yang harus mengalaminya. Jika ini adalah masalah yang sedang kamu hadapi, silakan tinggalkan informasi kontakmu di bawah. Kami ingin berduka bersamamu dan memberikan dukungan serta penguatan di masa sulit ini. Kamu tidak sendiri.
Saksikan Kisah Serenity dan Chris
<iframe src=”https://player.vimeo.com/video/114920403” frameborder=”0″ webkitallowfullscreen mozallowfullscreen allowfullscreen></iframe>
by CKCM | Apr 24, 2025 | Uncategorized
Aku telah memiliki banyak pengalaman tentang kesendirian. Aku telah berpisah dari teman-teman dan keluargaku dan tinggal di tiga provinsi yang berbeda untuk waktu yang lama. Setelah lulus, aku memasuki wilayah yang kupikir akan menjadi petualanganku, yaitu memulai studi dan berkarir di bidang pertanian. Ternyata dalam waktu singkat, kesepian itu terasa begitu meliputiku.
Aku adalah orang yang sangat mandiri, tetapi itu tidak berarti aku tidak membutuhkan orang lain dalam hidupku. Satu hal yang tidak pernah kupikirkan adalah aku menjadi terbiasa makan di restoran sendiri. Aku bukan orang yang supel, jadi hanya memasuki restoran saja sangat sulit bagiku. Aku biasanya berpura-pura santai saja dan hanya berfokus pada ponselku, tetapi pada akhirnya aku harus meletakkan telepon dan mengakui kenyataan bahwa aku makan di meja tanpa seorang pun duduk di depanku.
Tidak hanya di restoran. Seorang teman dekat pernah mengirim sms ketika berada di bandara, menjelaskan betapa anehnya ia merasa sendirian di tengah kerumunan orang banyak. Seingatku aku tidak pernah memberitahunya, tetapi aku ingat tentang seberapa sering aku merasakan hal yang sama. Ia melanjutkan dengan mengatakan, “ada orang-orang di sekitarku, berinteraksi satu dengan yang lain, bersenang-senang bersama, tetapi aku duduk di sini sendirian.”
Ada orang-orang di sekitarku, berinteraksi satu dengan yang lain, bersenang-senang bersama, tetapi aku duduk di sini sendirian.
Aku pikir kesepian yang kurasakan berasal dari usiaku. Aku tidak berada pada titik di mana aku benar-benar mandiri, tetapi aku cukup mandiri untuk melakukan hal-hal sendiri, pergi ke mana saja sendiri, hidup untuk diri sendiri. Kadang-kadang aku merasa bahwa aku tumbuh terlalu cepat dan itu sebabnya aku terjebak di masa peralihan yang canggung ini.
Aku memiliki banyak teman dan keluarga dalam hidupku – aku lebih beruntung daripada kebanyakan orang – tetapi aku tidak memiliki hubungan yang mendalam dengan mereka.. Di sekolah menengah ketika “teman-teman” ada di sekitarku, selalu ada seseorang yang duduk di sampingku untuk diajak bicara. Ketika aku mulai tumbuh dewasa dan melanjutkan hidupku, orang-orang itu semakin jauh, dan tidak bisa memuaskan kekosongan yang kurasakan
Kekosongan yang kurasa hanya bisa diisi oleh orang-orang, tetapi kemudian aku akan merasa paling kesepian ketika aku bersama mereka. Kesepian itu menyebabkan aku merasa tidak berarti, tidak puas, depresi, dan kadang-kadang aku memiliki pikiran untuk bunuh diri. Aku tidak dapat menemukan solusi apa pun.
Baru ketika aku melewati beberapa pengalaman yang rumit dan menyakitkan, aku menyadari bahwa kekosongan dalam hidupku tidak bisa diisi oleh orang. Pergumulanku tidak berlalu begitu saja; sebaliknya, aku masih merasa kesepian dan merindukan hubungan yang dalam. Tetapi aku telah menemukan bahwa entah bagaimana pun perasaanku, aku tidak sendiri. Tidak sendiri pula dalam perasaan ini. Jika Anda bergumul dengan perasaan kesepian, tinggalkan informasi Anda di bawah dan seseorang dari tim kami akan segera menghubungi Anda. Kita bisa menghadapinya bersama.