by CKCM | Apr 24, 2025 | CKCM, Stories
Semua itu dimulai ketika aku baru berusia enam tahun. Keluargaku pindah ke Libya karena pekerjaan ayahku. Aku sangat antusias karena ini adalah pertama kalinya aku naik pesawat. Ini juga pertama kalinya aku ke luar negeri, karena kami adalah keluarga pertama yang pergi ke negeri asing. Aku menantikan untuk menetap di tempat baru dan mendapatkan teman-teman baru.
Namun semua optimisme itu hancur pada suatu hari yang tragis, ketika seorang asisten rumah tangga melakukan pelecehan seksual terhadapku. Tidak ada yang tahu tentang kejadian itu. Aku tidak punya keberanian untuk meminta pertolongan. Aku selalu takut setiap kali harus pergi ke rumah tempat orang itu bekerja. Bahkan saat bersama teman-temanku, aku merasa dia selalu memperhatikanku. Karena takut, aku mengunci diri di kamar mandi. Aku baru keluar jika yakin ada orang dewasa lain di rumah. Akhirnya, kejadian itu terungkap dan pelaku dipulangkan ke India.
Aku tidak pernah menyangka orang dewasa bisa tega merusak anak-anak.
Namun penderitaanku belum berakhir. Selama enam tahun berikutnya, aku kembali mengalami pelecehan oleh beberapa orang lain yang dekat dengan keluargaku. Aku tidak tahu mengapa aku yang menjadi korban. Apakah karena aku anak yang pemalu? Apakah karena keluargaku tidak mampu? Apakah semua perundungan dari sepupu-sepupuku membuatku lemah dan penakut? Aku tidak pernah menyangka orang dewasa bisa tega merusak anak-anak.
Aku pikir semua ini salahku — bahwa aku dikutuk. Aku tidak berani bicara karena merasa malu. Apa yang akan dipikirkan keluargaku? Aku mulai hidup dalam penyangkalan, berusaha meyakinkan diri bahwa jika aku melupakan kejadian itu, maka pelecehan akan berhenti. Tapi sekeras apa pun aku mencoba, aku tidak bisa membungkam tuduhan-tuduhan terhadap diriku sendiri. Aku merasa akulah orang jahat dalam semua ini. Pikiran-pikiran menyalahkan diri sendiri itu merembet ke aspek lain dalam hidupku. Aku merasa tidak bisa melakukan apa pun dengan benar.
Saat aku tumbuh dewasa, aku tetap menekan semua pikiran itu dan menolak menyebut apa yang kualami sebagai pelecehan. Apakah karena aku menikmatinya? Aku berusaha keras mengabaikan semua kenangan buruk itu demi kembali hidup normal. Tanpa kusadari, kerusakan sudah terjadi.
Akhirnya, aku benar-benar hancur. Aku mulai membenci sisi feminimku. Aku berubah menjadi tomboy dan tidak lagi bisa mempercayai orang lain, terutama kerabat dekat. Aku menjadi paranoid, selalu waspada dan defensif.
Usia saya hampir 40 tahun sekarang, tapi kenangan itu belum juga pudar.
Sekarang aku sadar, dulu aku tidak punya siapa pun untuk diajak bicara. Bahkan orang tuaku pun tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui kejadian itu. Mereka memilih diam, berharap waktu akan menyembuhkan atau setidaknya membuatku lupa. Aku sangat berharap punya seorang teman untuk berbagi — seseorang yang mau mendengarkan, meyakinkan bahwa semua ini bukan salahku, dan memberitahu bahwa aku tidak sendirian. Tapi aku tidak pernah menemukan teman itu.
Usiaku hampir 40 tahun sekarang, tapi kenangan itu belum juga pudar. Aku masih bisa mengingat dengan jelas setiap kejadian pelecehan itu. Kini, sebagai seorang ibu, aku menjadi sangat khawatir setiap kali anak-anakku di sekolah atau bermain di luar. Aku sudah berbicara dengan mereka tentang pelecehan seksual dan mengajarkan mereka untuk selalu waspada. Jika aku menoleh ke belakang, aku sadar bahwa andai saja dulu aku berani bicara, mencari pertolongan, dan tidak menyalahkan diri sendiri, mungkin rasa sakit itu bisa berkurang dan aku bisa menjalani masa kecil yang normal dan bahagia.
Jika kamu pernah mengalami pelecehan seksual, tolong jangan diam seperti aku dulu. Mengubur kenangan dan rasa sakit hanya akan membuat pelecehan itu semakin menguasai hidupmu. Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian. Kamu bisa terhubung dengan mentor kami yang siap mendengarkan secara gratis dan rahasia — mereka akan mendukungmu dalam perjalanan menuju pemulihan. Jika kamu mengisi data di bawah ini, seorang mentor akan segera menghubungimu. Kamu boleh menggunakan nama asli atau nama samaran. Semuanya terserah padamu.
Nama Penulis telah diubah demi privasi.
by CKCM | Apr 24, 2025 | CKCM, Stories
Saat aku berusia delapan tahun, aku menukar boneka anjing kesayanganku dengan pena dan kertas — dan sejak itu aku menjadi seorang penulis. Cerita pendek, puisi, hingga akhirnya naskah drama: aku menulis setiap kali terinspirasi. Inilah yang membuatku berbeda di sekolah dan di gereja. Tidak ada yang mengerti mengapa aku tidak tertarik pada mobil, olahraga, atau video game. Akibatnya, aku sering di-bully di sekolah. Aku menjadi penyendiri.
Di kelas 6, guru kami memberi tugas menulis jurnal mingguan yang harus kami kumpulkan. Awalnya — seperti anak-anak lain — aku menulis tentang apa yang kulakukan di akhir pekan, atau ke mana aku berharap keluarga kami akan berlibur saat musim panas. Namun seiring waktu, aku mulai menggunakan jurnal itu sebagai tempat untuk membuka diri dan benar-benar mempercayai guruku.
Aku pernah mengalami pelecehan seksual, dan menulis jurnal menjadi semacam pelampiasan dari rasa sakit yang kupendam.
Tapi aku tidak pernah menceritakan pelecehan itu pada guruku. Aku terlalu malu, terlalu merasa bersalah. Saat itu, aku pikir semua ini salahku, dan seperti hal lain, pasti aku sendiri yang menyebabkan itu terjadi. Aku dilecehkan antara usia empat hingga enam tahun, dan aku merasa semua itu harus dirahasiakan.
Saat aku tumbuh dewasa, aku merasa malu, dikhianati. Aku meragukan diriku sendiri karena bertanya-tanya: jika aku tidak bicara sejak awal, apakah itu karena aku menikmatinya?
Aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku merasa diriku adalah seseorang yang tidak akan pernah berarti apa-apa dalam hidup. Aku tidak mempercayai siapa pun dan hanya bicara jika diajak bicara. Seperti memar yang kudapat dari para pembully di sekolah, entah bagaimana aku merasa pantas diperlakukan seperti itu. Aku mencoba mengubur kenangan pelecehan itu, tapi dampaknya jelas: kurang percaya diri, kurang rasa percaya, kurang keyakinan. Aku membenci diriku sendiri sampai-sampai aku mulai melukai diriku sendiri, dan aku benar-benar percaya bahwa aku pantas merasakan sakit itu. Aku mati rasa terhadap segalanya kecuali rasa sakit fisik: setidaknya aku bisa merasakan sesuatu.
Masa SMA ternyata lebih sulit. Aku terus meragukan diri sendiri, dan terus memikirkan masa-masa aku dilecehkan secara seksual. Kenapa aku tidak bicara? Apakah karena aku menikmatinya? Pelakuku tidak pernah tahu betapa rusaknya aku secara psikologis akibat perbuatannya.
Akhirnya aku mulai merasa berharga ketika aku diterima di program teater di perguruan tinggi. Belajar teater membuatku bisa bermimpi, tertantang, dan merasa hidup. Tapi aku sangat pandai menyimpan rahasia, dan aku masih belum pernah terbuka pada siapa pun tentang apa yang kualami. Sebagian besar kenangan itu sudah aku blokir.
Pada usia 22 tahun, aku mulai membangun persahabatan sejati dengan orang-orang yang benar-benar mencintaiku apa adanya. Tapi kenyataan masa laluku terus menghantuiku. Jika aku ingin benar-benar utuh dan bebas, aku harus menghadapi rahasia yang tersembunyi jauh di dalam hatiku. Teman-teman ini mengajakku melakukan hal-hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya karena dulu aku selalu ditolak di SMA. Aku kesulitan menerima persahabatan dan cinta yang tulus. Masa laluku menghalangi masa depanku.
Ada begitu banyak rasa malu, dan aku masih belum bisa menceritakan hal itu pada siapa pun.
Pada masa ini, aku mulai sering mengalami kilas balik dan mimpi buruk tentang pelecehan itu — yang rasanya sama menyakitkannya dengan kejadian aslinya. Kadang, rasanya seperti mengalami pelecehan lagi: aku terbangun dengan perasaan seolah-olah ada seseorang di kamar dan kejadian itu terulang. Ada begitu banyak rasa malu, dan aku masih belum bisa menceritakan hal itu pada siapa pun.
Rasa takut ditolak kembali menghantuiku. Tapi aku memberanikan diri dan menceritakan apa yang kualami pada seorang teman dekat. Itu adalah terobosan besar. Bentuk terapi terbaik adalah memiliki teman dekat yang memperlakukanmu dengan hormat dan martabat, dan yang mau mendengarkan kapan pun kamu butuh bicara. Aku juga belajar menerima cinta dan percaya bahwa aku layak untuk dicintai.
Seringkali, sebagai laki-laki kita tidak menekankan betapa pentingnya menggali dan membicarakan masalah yang kita hadapi. Sebagai korban laki-laki, aku pikir jika aku bicara, itu hanya akan memperkuat anggapan bahwa aku lemah.
Namun, membicarakannya secara terbuka, mengambil langkah untuk percaya pada seseorang, itulah yang kubutuhkan untuk melepaskan rasa sakit. Menghadapi rasa sakitku sendiri juga membuatku bisa hadir bagi orang lain yang ingin berbagi, tanpa takut dihakimi atau ditolak.
Membicarakannya, menerima penerimaan dan cinta yang tulus dari orang lain, menolak menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi: itulah langkah-langkah penting yang membawaku ke jalan pemulihan.
Jika kamu adalah penyintas pelecehan seksual, lukanya memang dalam, bekasnya berat, emosinya rumit. Tapi kamu tidak sendirian. Jika kamu mengisi data di bawah ini, seseorang dari tim kami akan menghubungimu.
Untuk sudut pandang perempuan, baca kisah Maureen.
by CKCM | Apr 24, 2025 | CKCM, Stories
Kehilangan pekerjaan adalah masalah besar. Dalam skala stress menurut Holmes dan Rahe, kehilangan pekerjaan ada dalam peringkat ke 8, dari hal-hal yang paling membuat stres yang dapat dialami oleh seseorang (hal yang yang lebih membuat stres dari PHK diantaranya, kematian, perceraian dan masuk penjara). Jika kamu merasa kewalahan, itu sangat normal. Aku juga merasakan hal yang sama.
Aku tidak terlalu memikirkan hal itu ketika atasanku memanggilku ke ruangannya hari itu. Tetapi ketika aku melihat perwakilan dari HRD duduk di sudut ruangan, aku makin yakin apa yang akan terjadi. Aku ingat ketika bertanya,”Apakah ini seperti yang saya pikirkan?” Dan benar. Aku kehilangan pekerjaanku hari itu. Hal berikutnya terjadi sangat cepat.
Pemotongan biaya anggaran. Mohon maaf, PHK. Aku telah bekerja untuk organisasi itu selama 15 tahun.
Hal itu terjadi sekitar setengah jam. Aku ingat pada awalnya tubuhku seperti mati rasa, terguncang. Aku berjalan cukup jauh setelah itu mencoba mencari tahu apa yang aku rasakan. Aku pikir, aku merasakan banyak hal – takut, marah, sedih, sakit, bingung, malu. Aku ingat mengatakan hal ini dengan keras: “Aku kehilangan pekerjaanku!” Kata-kata itu terasa begitu asing di mulutku.
Sebagian besar dari hidupku, sebagian besar dari rutinitasku sehari-hari sudah berakhir. Selesai. Aku seperti tali yang putus, apakah aku sedang melayang atau jatuh, kadang kala hal itu sulit untuk dibedakan.
Jabatan dan tugas sangat berarti – hal itu menunjukkan siapa kita dan di mana kita seharusnya berada. Ketika hal-hal itu diambil, aku merasa ragu, takut, dan tidak aman. Selama lebih dari 10 tahun aku adalah seorang Editor Senior. Sekarang aku tidak tahu harus menyebut diriku apa. Bagian terbesar dalam hidupku, rutinitasku sehari-hari telah berakhir. Selesai. Aku seperti tali yang diputuskan dan apakah aku sedang melayang atau jatuh; kadang kala sulit membedakannya.
Aku tahu beberapa orang mendapati bahwa perubahan dan pilihan itu suatu yang membebaskan, tetapi aku cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang menekan. Aku seorang perencana (ini adalah kata-kata halus dari – aku kuatir tentang hal-hal yang rinci). Sekarang aku memiliki banyak pertanyaan yang tak dapat kujawab. Aku tidak tahu jika aku mencari pekerjaan yang lain di bidang yang sama atau apakah ini waktunya untuk melepaskan ikatan dan mencoba sesuatu yang sama sekali baru. Apakah aku ingin bekerja kantoran? Apakah aku ingin kuliah lagi? Apakah ada pekerjaan seperti ini di luar sana, dan jika ada, bagaimana mendapatkannya? (Dan bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?)
Masa depan menjadi hal besar yang tidak diketahui dan itu menakutkan. Lebih dari sekali aku berkata, ”Aku harap dapat menghindari bagian yang tidak pasti ini dan melompat ke depan di mana aku punya pekerjaan yang baru dan nyaman.” Ya, bukankah kita juga ingin seperti itu? Pertumbuhan adalah sesuatu yang berat dan sering kali kacau dan menyakitkan. Aku tahu ini hanyalah akhir dari sebuah bab, bukan akhir dari ceritaku, tetapi sulit untuk mengingat hal itu, ketika aku sedang bekerja keras mencari pekerjaan.
Semua yang engkau inginkan sebenarnya ada di sisi lain dari rasa takut.” — George Addair
Aku mencoba berpikir tentang apa yang sangat aku inginkan dan apa yang ingin aku lakukan untuk mendapatkannya. Ada harapan yang bercampur dengan semua ketidakpastian yang tidak diinginkan. Sepertinya sulit untuk melihatnya dalam beberapa hari ke depan. Ketika aku menulis kisah ini, aku tidak tahu apa yang ada di depanku. Aku memiliki banyak pertanyaan, tetapi tidak memiliki jawabannya. Membicarakan hal itu cukup membantu. Jika kamu ingin berbicara kepada seseorang tentang pengalamanmu, gunakan form di bawah ini. Seorang mentor akan mengontak kamu segera untuk mendengarkan, memberikan dukungan dan berjalan bersamamu.
by CKCM | Apr 24, 2025 | CKCM, Stories
Pertama kali aku terpapar pornografi terjadi saat umurku 13 tahun ketika aku mengikuti study tour. Ketika kami masuk ke kamar kami pada malam pertama, aku terkejut ketika salah satu temanku mengeluarkan beberapa majalah porno dari kopernya (ini sebelum Internet ada dalam kehidupan sehari-hari). Dia menjelaskan kepadaku bahwa orang tuanya tidak mempermasalahkan, karena mereka beralasan bahwa dia harus belajar tentang hal-hal ini pada akhirnya. Tentu saja aku sangat terpesona, dan gambar-gambar yang kulihat dalam beberapa hari berikutnya terpatri dalam ingatanku.
Tidak lama setelah itu, saluran TV kabel di rumahku mulai menayangkan film porno ringan pada hari Jumat dan Sabtu malam. Jadi aku akan berpura-pura pergi tidur lebih awal, tetapi kemudian tetap terjaga dan menyelinap ke ruang TV dan menonton film-film ini sampai dini hari. Ini berlangsung setiap akhir pekan selama beberapa tahun selama masa remajaku, dan pikiranku dipenuhi dengan gambar dan pemandangan pornografi. Pada awal masa remajaku, sampai pada titik di mana aku tidak dapat tidur di malam hari tanpa melakukan masturbasi, dan ini berlanjut sebagai kebiasaan sehari-hariku selama bertahun-tahun. Aku akan merasa sangat bersalah setiap kali aku melakukannya dan aku bersumpah berkali-kali kepada Tuhan dan kepada diri sendiri untuk tidak akan melakukannya lagi. Tetapi aku tidak punya kemauan kuat untuk berhenti, dan kebiasaan ini terus berlanjut.
Aku sangat ketakutan memikirkan apa yang akan dipikirkan orang tentangku jika mereka tahu kebiasaan itu.
Pada awal umur 20-an, ketika internet menjadi fenomena yang tersebar luas, dan tentu saja dengan teknologi baru ini sangat memudahkan akses ke setiap jenis pornografi yang bisa dibayangkan. Aku segera asyik menyaksikan berbagai jenis kerusakan seksual dan semakin parah di layar komputerku. Meskipun aku sering bersumpah bahwa aku harus segera menghentikan perilaku ini secara permanen, aku tidak pernah melakukannya. Aku mendapati bahwa semua itu tak tertahankan, dan aku bertanya-tanya bagaimana siklus ini — menonton film porno, masturbasi, merasa bersalah, dan bersumpah untuk tidak pernah melakukannya lagi — bisa berakhir. Secara lahiriah aku seperti pria yang baik, dan bahkan menjadi pemimpin di komunitas religius. Tetapi di dalam hati, aku tahu rahasia kelam yang kusembunyikan setiap hari, dan aku sangat ketakutan memikirkan apa yang akan dipikirkan orang tentang aku jika mereka tahu tentang hal itu. Aku berpikir bahwa menikah akan menyelesaikan masalah ini, tetapi kecanduanku terhadap pornografi dan masturbasi berlanjut bahkan sampai pada tahun-tahun pernikahanku.
Mungkin terobosan nyata pertama dalam pertempuran ini adalah kesadaran bahwa itu sebenarnya bukan tentang seks, atau kecantikan, atau kebutuhan biologis. Kenyataannya, itu sama sekali bukan tentang seorang wanita yang begitu cantik sehingga aku tidak bisa menolaknya – itu sebenarnya tentang aku. Itu tentang keinginanku untuk diterima, dikagumi, dicintai, dan punya kekuasaan. Alasan sesungguhnya bahwa nafsu dan pornografi sangat mempengaruhiku adalah karena itu membuatku percaya bahwa sekalipun dunia tidak mengakui betapa hebatnya aku, setidaknya ada wanita cantik dari fantasiku yang mencintaiku dan menginginkanku. Pornografi adalah kebiasaan pikiran dan hatiku yang harus dipatahkan terlebih dulu jika aku ingin dibebaskan dari kecanduan ini. Aku sadar harus melawan kebohongan pornografi dengan kebenaran untuk akhirnya mematahkan perbudakannya.
Cinta kasih istriku adalah motivasi terakhir yang aku butuhkan untuk meninggalkan kebiasaan ini untuk selamanya.
Salah satu unsur utama dalam kemenanganku atas pornografi adalah teman baik. Ada teman-teman yang dapat aku percayai, teman-teman yang dapat aku bagikan segalanya, teman-teman yang terus mendoakanku bahkan setelah aku melakukan tindakan yang sama untuk keseribu kalinya. Kemenangan terakhirku atas nafsu dan pornografi datang ketika aku berbagi semua perjuanganku- baik dulu maupun sekarang – dengan sahabatku, yang adalah istriku. Aku juga berjanji untuk memberitahunya apakah aku pernah jatuh di area ini lagi. Aku pikir dia akan hancur dan marah, tetapi meskipun pengakuanku akan membawa kesedihan yang mendalam, dia berjanji untuk mendukung dan berdoa untukku. Tetapi dalam banyak hal, cengkeraman pornografi telah mulai patah pada saat aku mengakuinya, dan cinta istriku adalah motivasi terbesar yang aku butuhkan untuk meninggalkan kebiasaan ini sekali untuk selamanya. Aku tidak perlu bersembunyi lagi, dan tentu saja aku tidak ingin terus tidak setia kepada dia lagi (bahkan dalam kehidupan pikiranku).
Meskipun harus berjuang atas pornografi selama beberapa dekade, aku senang bisa mengatakan hari ini bahwa aku bebas. Aku yakin bahwa pornografi menjanjikan semua kesenangan di dunia ini, tetapi kenyataannya hanya memberikan kesengsaraan. Tetapi kebebasan ini tidak datang dalam semalam, itu terjadi secara bertahap melalui proses panjang yang berlangsung selama lebih dari 10 tahun.
Sekarang perjuangan ini telah berakhir dan aku memiliki kebebasan dan sukacita, aku ingin mengundangmu untuk memulai perjalanan menuju kebebasan. Kamu tidak perlu melawan pertempuran ini sendirian. Kami memiliki mentor yang siap untuk mendengarkan dan mendukungmu secara gratis dan menjaga kerahasiaanmy. Jika kamu mengisi form di bawah ini, kamu akan mendapat kabar dari seseorang di tim kami segera.
Nama Penulis diubah untuk privasi.
by CKCM | Apr 24, 2025 | CKCM, Stories
Aku menikah di usia yang sangat muda. Aku 19 dan dia hampir 18 tahun. Itu adalah kesempatan kami untuk keluar dari rumah orang tua. Kami ingin membuktikan kepada dunia bahwa kami bisa menjadi orang yang berguna.
Singkatnya setelah kami mulai berkencan, dia memberitahuku bahwa dia hamil dan ayah dari janin yang dikandungnya sudah memberikan uang jaminan kepadanya. Sebenarnya sulit bagiku, tapi aku ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa aku penting. Jika aku bisa menjadi pahlawan bagi orang lain, maka itu berarti aku benar-benar penting. Maka, aku berkomitmen untuk membesarkan anak itu seperti anakku sendiri. Setelah saling mengenal hanya dalam empat bulan, putrinya lahir dan kami pun menikah.
Aku yakin bisa membangun rumah tangga yang indah serta menjadi ayah, dan suami yang hebat juga pemberi nafkah. Segalanya indah pada awalnya. Di usia 21 tahun, aku menjadi manajer termuda di sebuah cabang restoran. Kami memiliki apartemen sendiri dan mengendarai Audi. Putrinya mengenal dan mencintaiku sebagai ayahnya. Beberapa promosi berikutnya, kami membeli sebuah peternakan bagus di pinggiran kota yang indah. Mimpi-mimpi kami terwujud. Kami menikmati hidup. Tetapi masih ada ketidakbahagiaan, seperti dengungan di telinga yang tidak pernah hilang.
Beberapa tahun setelah pernikahan, kami mengharapkan seorang anak. Ketegangan dan ketidakbahagiaan pun mulai muncul di permukaan. Beberapa tahun kemudian, saya menemukan bahwa “Sekolah Menengah Atas Swasta ” yang katanya pernah ia ikuti ternyata adalah sebuah lembaga mental. Tantangan karena hamil mulai memperburuk penyakit mentalnya. Saat itulah segalanya mulai tidak terkendali. Dia mulai memakai obat-obatan: marijuana, ekstasi, kokain dan shabu. Dia kadang ‘menghilang’ selama beberapa hari dan aku tidak tahu keberadaannya. Dia akan pergi berjam-jam hanya untuk nge-’drugs’ bersama orang lain. Akhirnya dia kecanduan heroin. Hidupnya pun berkutat dari rehabilitasi ke rehabilitasi.
Aku masih tinggal dengannya, tetapi sekarang saya tahu bahwa saya justru memperburuk keadaannya, saya berharap bisa menyelesaikan masalahnya.
Begitu putraku lahir, segalanya mulai menurun. Puncaknya adalah ketika aku berjalan-jalan dengan beberapa teman salah satu dari mereka menarikku ke samping, sambil menunjuk pada seorang teman, dan berkata “Bagaimana bisa kau bergaul dengannya? Apa kau tidak tahu dia ada main dengan istrimu?”
Ternyata mereka pernah tidur bersama selama beberapa waktu. Istriku tidak bisa menyembunyikan lebih lama lagi kehamilan barunya. Sejak kami tidak pernah lagi berhubungan suami istri, aku tahu itu bukan anakku. Kira-kira satu setengah bulan kemudian, aku pulang ke rumah dan mendapati mereka sedang bermesraan sementara anak-anak sedang bermain di ruangan yang sama.
Cukup sudah! Jadi aku pastikan dia keluar dari rumah kami.
Untuk sudut pandang perempuan yang dikhianati, baca cerita Amy —[ Pasangan Tidak Setia] (https://…………………………..)***
Butuh waktu setahun lebih untuk melalui perceraian itu. Pada suatu ketika aku menjemput anak-anak dan dia membuka pintu dengan telanjang. Aku bisa melihat barisan kokain dan ada bong yang putrinya sebut “vas bunga” berada diatas meja.
Kami menjalani hidup. Tapi masih ada ketidakbahagiaan, seperti dengungan di telinga yang tidak pernah hilang.
Segera aku ambil kedua anak itu untuk tinggal denganku.Dia membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk sadar serta menyadari apa yang terjadi. Lalu dia memainkan cara : pergi ke polisi, mengklaim bahwa saya telah melecehkan anak-anak. Polisi tidak mempunyai pilihan selain mengambil anak-anak dariku dan mengembalikan dalam “perawatannya”. Semua diselesaikan di pengadilan beberapa hari setelahnya, lalu kemudian dia menghilang dan aku tidak menemukannya juga anak-anak itu selama tujuh bulan. Sampai suatu hari, dia mengunjungi saudara perempuanku untuk meminta uang, sehingga memungkinkan orang tuaku menemukan keberadaannya.
Ketika akhirnya aku menemukan anak-anakku kembali, mereka benar-benar kekurangan gizi, dan putraku yang berusia dua tahun mengalami keterlambatan perkembangan. Hatiku hancur melihat mereka, tapi aku senang mendapatkan mereka kembali! Singkatnya setelah itu, aku mendapat hak asuh penuh atas putraku. Anak tiriku akhirnya tinggal dengan orangtuaku, yang mencintainya dan akhirnya secara sah mengadopsinya.
Aku tidak tahu di mana mantan istriku saat ini, tetapi aku berharap dia menemukan harapan, sembuh dan stabil serta belajar untuk ‘bermimpi’ kembali. Aku bisa katakan bahwa aku sungguh telah mengampuninya dan melepaskan segala kepahitanku. Tentu saja ini tidak menghapuskan fakta bahwa pilihannya telah membuatku dan anak-anak harus melalui jalan yang sulit. Tapi aku berharap yang terbaik baginya.
Aku bukanlah suami yang sempurna. Aku juga gagal dalam pernikahan ini. Aku tidak benar-benar ada untuknya. Aku bekerja 70 jam lebih dalam seminggu, mengejar impianku untuk sukses. Didorong oleh keinginan agar dianggap ‘penting’, aku bekerja sangat keras untuk mendapatkan promosi dan bonus.
Aku pulang ke rumah dengan lelah dan egois. Aku hanya berpikir “Di mana makan malamku, mengapa pakaian belum dicuci?” Aku akan duduk di depan TV dan tidak banyak waktu bermain dengan anak-anak. Aku benar-benar tidak ada di sana untuknya secara emosional. Aku bahkan tidak tahu bagaimana berhubungan dengannya pada tingkatan itu. Bagiku, semuanya adalah tentang apa yang sudah kukorbankan bagi keluarga. Dia pasti merasa sangat kesepian.
Bercerai tidak memperbaiki kegelisahanku. Aku masih lemah dalam membangun keintiman secara emosi. Aku membawa diriku yang hancur dalam beberapa hubungan, yang juga gagal. Baru beberapa tahun terakhir aku telah belajar menangani masalah yang telah berakar dalam ini.
Jika Anda menghadapi perceraian dan terjebak dalam kondisi buruk setelahnya, Anda tidak sendiri. Perceraian bisa terasa seperti akhir dari segalanya, tetapi kehidupan menjadi lebih baik ketika Anda dapat mengatasi rasa sakitnya. Akan sangat menolong jika berbicara dengan seseorang. Jika Anda mengisi formulir di bawah ini, seorang anggota tim kami akan menghubungi Anda untuk mendengarkan dan menolong Anda bergerak maju.